Kamu dalam Anakmu (inspired by a true story)

12 September 2014 Leave a comment

Tubuh Rina sedang terbaring lemah di kamar 103 Rumah Sakit Mitra Sejahtera. Roni hanya bisa memandangi istrinya yang sedang terbaring lemah itu. Tiga hari sudah Rina dirawat karena demam berdarah dan dokter merekomendasikan untuk menjalani pemulihan dengan rawat inap. Roni adalah seorang account executive di sebuah perusahaan pelayanan. Tugas utamanya berkaitan dengan pelayanan pelanggan berbasis perusahaan.

“Wakul ngglimpang, segane dadi sakratan, wakul ngglim….”

Picture from pedals4peanuts.com

Picture from pedals4peanuts.com

Lagu Gundul-gundul Pacul yang dijadikan nada dering di telepon seluler Roni terputus ketika jempol Roni menekan tombol hijau di telepon selulernya.

“Halo… Assalaamualaikum! Apa kabar Pak Husni…..”, lirih suara Roni khawatir membangunkan istrinya.
Roni mengangguk-angguk ringan sambil mendengarkan suara di ujung telepon
“….Oh begitu ya pak, baiklah saya segera ke sana ya pak..”

Roni menutup teleponnya sambil menggigit bibir. Dipandanginya Rina yang masih tertidur lelap sampai lamunannya terpecah karena bunyi ketukan di pintu. Santo, rekan kerja Roni muncul dari balik pintu membawa plastik putih berisi buah-buahan yang langsung ditaruh di meja kecil di sebelah tempat tidur Rina.

“Kenapa Ron, gugup sekali kamu?, tanya Santo
“Hmm… Mas Santo, saya harus pergi. Alat yang dimiliki Pak Husni harus disetting ulang. Tidak bisa nyala katanya. Jadi saya harus kesana sekarang….”
“Trus istrimu?”
“Ya mau bagaimana lagi? Ini pelanggan segmen premium. Bisa-bisa bos marah kalau sampai dia tahu”

SATU MINGGU KEMUDIAN

“Ron, kemarilah, ada yang saya mau bicarakan..”, Santo berkata sambil menyeruput teh manis di depan teras rumah Roni

Rina sudah pulang 2 hari yang lalu. Alhamdulillah kondisinya sudah sehat dan stabil. Hari ini Santo datang ke rumah untuk menjenguknya kembali. Di depan rumah, Rudi, putra pertama Roni sedang asyik mengayuh sepeda merah kesayangannya bersama teman-temannya. Komplek tempat Roni tinggal memang sangat ramah untuk anak-anak. Jarang ada mobil yang lalu lalang sehingga anak-anak dapat bermain di jalanan depan rumah dengan tenang tanpa harus khawatir tertabrak.

“Ada apa Mas Santo, serius sekali….”, tanya Roni sambil duduk di depan Santo seraya mengambil cangkir teh miliknya.
“Ron, coba kamu lihat anakmu Rudi….”, Santo membuka pembicaraan
“Ada apa memangnya?”, tanya Roni
“Kalau aku lihat dia, aku sama sekali tidak melihat dirimu pada diri Rudi… kamu tidak ada dalam dirinya…”, tukas Santo lirih

Deg…
Roni terdiam sesaat ,”Apa maksud Mas Santo?”, gumamnya…

“Ron, ini keluargamu. Kamu ingat minggu lalu ketika kamu terima telepon dari pelangganmu dan kamu meninggalkan istrimu Rina di rumah sakit sendirian. Malam itu kamu bisa saja minta saya yang kesana atau sampaikan pada Pak Husni kalau istrimu di rumah sakit dan minta penundaan jadwal kunjungan…”

“Ron, Bekerjalah sebaik mungkin untuk perusahaan ini. Tapi jangan lupa, keluargamulah yang utama…mereka butuh dirimu…”
“Saat kamu jatuh, saat kamu sakit, keluargamulah yang ada di sisimu. Bukan perusahaanmu, bukan juga atasanmu…”
“Jadi buatlah dirimu ada di dalam hati anak anakmu…segala sifat baikmu akan menjadi sifat baik anak anakmu..”

Sebuah nasihat singkat yang mengubah banyak hal dalam diri…

 

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

 

Hari Kedua di Negeri Magyar

 


“Are you (your restaurant) halal?”, tanya saya di sebuah kedai kebab

“Mmm.. No, we are not halal, I am so sorry, sir”

 

Ups, saya pikir semua kedai kebab itu halal, karena kebab identik dengan Turki. Pemuda penjaga kedai kebab ini minta maaf. Itu respon yang luar biasa buat saya. Respon yang sangat santun menurut saya untuk ukuran negara bule. Walaupun orang-orang Eropa Timur ini terkenal ‘dingin’. Well, saya akan ceritakan perjalanan saya menuju kedai kebab ini.

 

HARI KEDUA DI NEGERI MAGYAR

Ini hari kedua di kami di kota Budapest, saya dan istri saya, Ferra, memang berencana berburu restoran halal dan menemukan masjid. Setelah bertanya Raden Mas Google, ketemulah lokasinya. Agak jauh memang, dan kami coba ingin ‘taklukkan’ dengan rute angkutan umum. Insya Allah.

Satu hal yang saya selalu jaga ketika perjalanan mancanegara adalah makanan, saya meyakini bahwa ‘no pork’ belum berarti halal. Itu sebabnya saya coba memakan selain daging dan ayam karena mengkhawatirkan proses penyembelihannya.  Sebisa mungkin, selama masih ada roti, salad atau mashed potato. Dan tentunya, kering tempe yang selalu siap sedia.

Pagi itu, setelah kunjungan rombongan tur ke dalam gedung Parlemen Hungaria dan tur ke kawasan Buda Castle di pagi harinya, kami memulai perjalanan lewat stasiun Metro Deak Férénc yang terletak tak jauh dari hotel kami. Perjalanan kami menuju stasiun Metro Deak Férénc  melewati sebuah jalan yang disebut surganya para penikmat belanja, Vaci Utca. Tak sampai 5 menit, kami sampai di stasiun. Kawasan Deak Férénc ini cukup ramai, betapa tidak, dua hotel besar ada di sudut kawasan itu, ditambah lagi ada beberapa musium, stasiun metro dan terminal trem. Bukan itu saja, Deak Férénc adalah pangkal dari Jalan Andrassy, jalan ikonik macam Orchard Road atau Champs-Élysées, panjangnya 2.5 kilometer yang berujung di monumen 100 tahun Hungaria, Heroes’ Square.

Memasuki stasiun metro, tak terlihat loket karcis terlihat seperti yang biasa kami lihat di stasiun metro yang pernah kami lihat sebelumnya. Lalu kami memustuskan melangkah menuruni eskalator. Di lantai bawah, ada 2 orang tua berjas rapi menghalangi jalan kami, rambutnya sudah putih dengan kulit yang tak lagi kencang. Gerakan tangannya memberikan sinyal pada kami bahwa kami perlu menunjukkan tiket. Saya mengangkat kedua tangan saya, mencoba memberi tahu bahwa saya tidak tahu dimana saya bisa mendapatkan tiket tersebut.

Nampaknya dia paham, sang kakek mengeluarkan segepok tiket dari sakunya, tertulis 350 HUF (Hungarian Forint, 1 HUF = Rp. 50,-). Wah, lucu juga ini. Dari beberapa pengalaman bermetro di negara-negara Asia dan Eropa, biasanya kami membeli tiketnya di vending machine atau minimal loket, baru kali ini kami membayar tiket secara manual.

Tiket Metro Budapest yang telah terrobek bagian ujungnya

Tiket Metro Budapest yang telah terrobek bagian ujungnya

 

Well, Setelah membayar 700 HUF, dia memberikan 2 tiket yang mirip perangko berukuran panjang bertuliskan Vonaljegy dan kami masukkan ke mesin. Mesin itu merobek ujung tiket kami dan petugas tersebut membiarkan kami masuk.

Kami mengambil Metro Blue Line jurusan akhir Ujpest Varosközpont. Kami berencana turun di stasiun Nyugati Pàlyaudvar dan menyambung tram kuning 4 atau 6. Menurut informasi di internet, ada rumah makan halal yang bisa ditemukan di dekat Margit Hid.

Kereta bawah tanah Budapest ini membawa kami ke stasiun Nyugati Pàlyaudvar, setelah keluar stasiun kami langsung menemukan terminal tram bernama sama. Pertanyaannya satu, dimana beli tiketnya? Ah, mungkin di atas tram ada kondekturnya. Tak lama tram kuning nomor 6 datang, kami naik ke atas tram dan… tak ada tanda-tanda tempat pembayaran, akhirnya kami diam-diam sambil memperhatikan bahwa tak ada orang lokal yang bayar juga. Hehe… Gratis dot com. Lumayan. Atau memang gratis ya?

Kami turun di terminal Margit Hid, hanya 3 terminal saja dari Nyugati Pàlyaudvar menyeberangi Sungai Danube yang membelah kota Budapest. Kota Budapest ini terbelah dua oleh Sungai Danube yang membentang sampai kota Vienna. Sisi Buda dan sisi Pest. Sisi Buda memiliki kontur berbukit dimana Royal Palace dan Buda Castle ada di sisi ini. Sisi Pest dulunya dihuni para penduduk, saat ini bangunan-bangunannya relatif baru. Chain bridge adalah jembatan proyek ambisius Count Istvàn Szechnyi untuk menghubungkan Buda dan Pest, karena sebelumnya mereka menggunakan perahu untuk menyeberangi sungai Danube atau menunggu sungai ini membeku sehingga mereka bisa berjalan melewati sungai ini.

Di Margit Hid ini kami menemukan kedai kebab yang tersebut di awal kisah saya ini.
Setelah sang penjaga kedai minta maaf pada saya, saya bertanya padanya


“Do you know where’s the halal restaurant?”
“There is a Turkish Restaurant, Ali Baba. Near Kiraly Street.”
“Thank you..”
“Have a good day, sir”

 

MAKAN SIANG TENANG

Saya ketikkan “Kiraly” di Aplikasi Here Nokia Lumia 925. Gotcha!! Ternyata saya bisa menggunakan tram no 6 untuk menuju Kiraly Street. Lokasinya di sisi Pest.  Lumayan, gratis. Eh, saya bukan gak mau bayar lho. Saya gak tahu gimana cara bayarnya. Walaupun belakangan saya baru paham bahwa semua tiket single trip itu menggunakan tiket yang sama yang kami gunakan untuk naik Metro, ya betul, yang dijual sama kakek-kakek di basement Metro.

Sebagai informasi, bahasa Magyar, bahasa negara Hungary ini adalah bahasa tersulit yang pernah ada. Berita baiknya, hanya sekitar 5% dari orang Hungaria ini yang bisa berbahasa Inggris. Lengkaplah. Saking asingnya Bahasa Magyar ini, George Lucas konon menggunakan Bahasa Magyar ini untuk adegan percakapan antaralien di film Star Wars besutannya. Koreksi kalau saya salah ya. Intinya, sangat sulit menemukan orang yang bisa berbahasa Inggris di negeri Magyar ini. Dan banyak frasa-frasa terpanjang bisa kita temukan dalam bahasa ini seperti Elkelkáposztásítottalanítottátok atau Elkáposztástalaníthatatlanságaitokért


“Assalaamualaikum!”

Sang pemilik kedai Ali Baba menyapa kami ramah.

“Welcome, everything here are halal!”
“Alhamdulillah”
“Where are you from?”
“Indonesia…”
“Masya Allah, Indonesia. What do you want for eat?”
“What do you have?”

Dengan lancar dia menjelaskan semua masakan yang dia miliki. Dari kebab, sup lentil sampai pizza. Akhirnya kami memilih kebab ayam dan sepotong pizza plus 2 the hangat dengan gula pasir berbentuk dadu.

“The tea is free for you brother…”, katanya
“Tasyakur Ederim…”, kata saya. Artinya terima kasih. Hanya itu kata-kata yang saya ingat dari perjalanan saya ke Istanbul 5 tahun lalu.

Kami menikmati hasil perburuan makanan halal kami hari itu. Makan siang paling tenang yang bisa kami rasakan. Porsinya lumayan banyak, akhirnya kami tidak berhasil menghabiskan pizza pesanan kami dan membawanya pulang alias ‘Tolong bungkus bang!’

Saya buka kembali Nokia Lumia 925 saya bersanding dengan peta kota Budapest yang saya ambil di resepsionis hotel. Saya sudah cari sebelumnya di internet bahwa masjid yang ingin saya kunjungi bernama Dar Al Salaam. Saya ketikkan ‘Dar’ dan Nokia Here memberikan autosuggestion Dar Alzsalam Mescet. Mescet? Mungkin maksudnya masjid ya. Saya klik dan kursor hijau Nokia Here menunjuk ke sebuah jalan bernama Bartok Bela. Tak jauh dari Gellert Spa, tempat pemandian air panas yang cukup terkenal di kota Budapest.

Masjid ini terletak di sisi Buda, artinya kami harus kembali menyeberangi sungai Danube. Ada dua pilihan rute, tram kombinasi Metro atau tram 6 langsung menuju Mórics Zsigmond Körter, terminal akhir rute tram nomor 6 persis di Jalan Bartok Bela. Tentunya kami pilih rute tram, karena gratis. Hehehe.

Hanya sekitar 300 meter dari terminal, kami menemukan masjid Dar Al Salam dan menunaikan sholat Dzuhur dan Ashar secara Jamak Taqdim dan Qashar. Dua orang berkulit hitam, nampaknya marbotnya masjid, menyambut kami dan menunjukkan tempat wudhu. Walaupun masjidnya sederhana dan sangat kecil, menemukan masjid di kota seperti Budapest ini selalu menjadi pengalaman yang luar biasa untuk kami. Alhamdulillah.

 


EPILOG TEGANG DI NEGERI ORANG

“Good afternoon, can you help me to take photo of me.”

Belum jauh perjalanan kami dari masjid. Seorang pria mendekati saya dan meminta saya mengambil gambarnya. Bukan orang Budapest,  sama-sama turis, pikir saya. Saya bantu dia ambil foto dari dua sisi. Saya kembalikan kamera ponsel miliknya dan dia berkata bahwa dia ingin menukarkan uang 100 Euro miliknya. Dia bilang bahwa dia tidak menemukan tempat penukaran uang karena banyak yang tutup. 

“Good afternoon gentlemen, I am the police”

Weleh, polisi?
Pria lain tiba-tiba sudah ada di sebelah kami.
Membuka kartu identitasnya di dalam dompet lipat macam di film-film Hollywood.
Waduh….
Dari mana dia muncul?
Ada apa ini?

(Percakapan berikutnya saya terjemahin pake bahasa Indonesia aja ya)

Polisi itu memulai pembicaraan,
“Apa yang dia minta dari kamu? Apa dia minta tukar uang?”, tanya sang polisi
“Dia minta saya ambil foto dia, lalu dia mau tukar uang dia”, saya jawab
“Keluarkan identitas kalian, paspor”, pinta sang polisi datar

Saya keluarkan paspor saya, dia cek sekilas. Kemudian polisi itu menanyakan berapa uang yang dibawa pria itu, dikeluarkan uang dari dompet dan kantongnya. Ternyata banyak uang pecahan kertas yang dia miliki, tadinya dia mengaku hanya memiliki uang 100 euro yang ingin ditukarkan. Dia memeriksa setiap lembaran uang yang dibawa pria itu dengan sebuah alat seperti senter kecil sambil sesekali berbicara di perangkat handsfree yang menempel di telinganya. Kemudian polisi itu menanyakan uang yang saya bawa, saya tunjukkan 5,500 Forint yang tersisa di dompet saya. Setelah itu, dia menyuruh pria itu pergi.

“Selalu berhati-hati di jalan. Jangan pernah melakukan transaksi apapun di jalan atau mendapatkan informasi dari orang yang tak dikenal. Kalian turis kan? Ok, silakan lanjutkan perjalanan”

Setelah sang polisi memberikan petuah akhirnya, kami lanjutkan perjalanan dengan sedikit debar di dada. Untung tak terjadi apa-apa. Jangan-jangan polisi sudah mengincar pria itu sebagai target operasi sindikat pemalsuan uang.

Di depan Gellert Hotel & Thermal Bath, kami naik tram kuning nomor 47 ke arah Deak Ferénc terminal dan turun di dekat hotel kami untuk bersiap menikmati Dinner Cruise malam harinya menyusuri sungai Danube di malam harinya.

 

Pemandangan Chain Bridge dan Sungai Danube di Malam Hari

Pemandangan Chain Bridge dan Sungai Danube di Malam Hari

Tamat.

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

Categories: Uncategorized

Ada Rumah Sakit Malas (lagi)

Sukses itu ‘hanyalah’ sekedar efek ketika kita melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Pengabdian pada Tuhan punya bentuk yang berbeda pada setiap peran yang diemban.

Mari kita sepakati bahwa semua peran butuh kesungguhan
Mari kita sepakati bahwa semua peran adalah mata rantai untuk peran lainnya

Anda bayangkan kalau petani malas bertanam?
Anda bisa bayangkan kalau office boy terlambat setiap pagi?
Anda bisa bayangkan kalau supir kopaja hanya kerja setengah hari?

Jangan permasalahkan mereka, namun lihatlah pengaruhnya pada kehidupan orang lain!

Dan pantaskah kita sekarang masih berpikir bahwa kemalasan kita tidak memiliki pengaruh pada kehidupan orang lain?

Betapa banyak anak yang seharusnya bisa sekolah tapi tidak…
Berapa banyak sekolah yang seharusnya terbangun tapi belum…
Begitu banyak jompo yang sangat ingin mengunjungi Baitullah tapi urung…

Mereka menunggu Anda…
Ya, Anda yang sedang membaca tulisan ini…
Karena kesuksesan hanyalah efek ketika kita melakukan tugas kita…

Apakah kesholehan pribadi yang kita kejar…
Atau kebermanfaatan untuk sesama yang kita harap…
Atau… Keduanya :)

Pilihan di tangan Anda, Sahabat….

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

Futureinc Promotion Qlub Trip 2014

gusnulpribadi:

Promosi Terasa Berbeda di Futureinc Agency. Bergabunglah bersama kami, karena kami ingin menjadi bagian dari masa depan Anda

Originally posted on the wonder of futureinc:

25 Pebruari 2014

Mengawali perjalanan menuju Kampong Glam, sebuah kawasan warisan dengan facade bangunan melayu yang masih terjaga.

Sarapan Pagi di Kampong Glam

Sarapan Pagi di Kampong Glam

Langkah kami langsung menuju sebuah kedai makan dengan menu lokal yang tak asing dengan lidah kami, nasi lemak dan lontong sayur. Haha, jauh-jauh ke Singapura makannya begituan juga. Well, mencari makanan halal bukan menjadi pekerjaan yang mudah di Kota Singa ini. Bang Syarif, pemandu perjalanan kami, orang Melayu Lokal, kelahiran Singapura asli keturunan Kutoarjo – Solo, menceritakan bahwa muslim termasuk minoritas di negeri ini. Sekitar 10%. Jadi urusan makan menjadi tantangan yang menarik di kota ini. Dan Bang Syarif menjamin menu sarapan kita pagi itu, HALAL!

View original 355 more words

Categories: Uncategorized

Suara Lembut Uda Edi

15 January 2014 Leave a comment

“Mas dan mbak baru mulai dagang ya?”

Suara lembut itu menyapa kami.

“Sini, kalian bisa geser sedikit dan dagang di sebelah saya”.

image

Di sinilah kami dagang...

Read more…

Categories: Uncategorized

Ada Apa dengan Lia….

Senin, 7 Oktober 2013

image

Suasana di dalam Kelas Lia

Anak kedua kami, pagi ini kembali menguji kami. Dari pagi subuh kami sudah menjaga moodnya sedemikian rupa. Sejak masuk SD kelas 1 , 3 bulan lalu, baru 4 kali dia masuk kelas sendiri, itupun dengan cara yang agak ekstrim yang diusulkan oleh gurunya sendiri. Gurunya bilang agar ditinggalkan saja di sekolah dengan paksa, dan benar saja, dia berontak sejadi-jadinya walaupun hanya bertahan 30 menit dan menurut gurunya dia bisa menyelesaikan hari itu dengan normal. Ya, itu hanya terjadi 4 kali.

Lalu apa yang terjadi di hari-hari lainnya? Ada 2 kemungkinan:

Yang pertama kami bergantian menemaninya di dalam kelas, ya benar, di dalam kelas. Dari pagi sampai pulang sekolah. Hmm, begini rasanya sekolah lagi. Untung saya punya jatah cuti 12 minggu di bisnis luar biasa yang saya jalani saat ini jadi kami tidak terlalu khawatir.

Kemungkinan kedua,
ketika saya ada Lia sudah berada di depan pintu kelas, saya gagal membujuknya masuk (ingat, dia hanya 4 kali berhasil dimasukkan kelas tanpa ditemani). Namun karena saya sudah ada agenda penting seperti Morning Briefing atau Join Field Work bersama agen, saya terpaksa tidak bisa menemaninya dan membawanya kembali pulang ke rumah. Singkat kisah, selepas mengikuti sebuah pelatihan Tuhan perpesan lewat sang trainer, “Kau akan lelah jika mengandalkan kekuatanmu, andalkan Tuhan, karena Tuhanmu Maha Perkasa”

Dan sampailah kisahnya di pagi ini, doa tak putus terpanjat. Saya yakin Tuhan akan membantu (paling tidak pagi ini). Saya tinggal cari perantara. Pengait antara doa dan ijabah. Kemudian saya sembunyikan DVD player, satu-satunya hiburannya di rumah. Dan saya katakan pada Lia bahwa dia tidak akan punya hiburan kalau di rumah sendiri, kecuali membaca buku. Dan saya biarkan dia dalam pilihan.

5 menit kemudian, dia mau sekolah. Bertolak belakang dengan aksinya dari Subuh hingga jam 8 pagi, TIGA JAM! Berubah hanya dalam waktu 5 menit. Siapa yang bisa membalik hati dalam waktu sekejap kalau bukan Tuhanmu.

Pertanyaannya : “Mengapa Tuhan tidak lakukan itu sejak subuh?”

Pertama,
mungkin Dia ingin uji kesabaran kami. Baik, kami ridho dengan kondisi ini. Tapi nampaknya ridho saja tak cukup. Dia ingin ada ikhtiar nyata dari kami. Dan Tuhan mengilhamkan kami lewat DVD player. Saya berpikir singkat, “Ah, ini kan hanya DVD, mana bisa membuat dia tiba-tiba mau…tapi ya kita coba lah..” Dan, tiba-tiba ia mendatangi bundanya dan berkata, “Aku mau sekolah….”. Subhanallah. Sampai detik inipun saya tak mau berandai-andai apakah DVD itu jadi titik baliknya. Yang jelas, semua datang dari Tuhan.

Jadi yang kedua,
Tuhan ingin mengabulkan doa kita, tapi Tuhan tak ingin menjadikan semuanya terlihat ajaib dan tak masuk akal. Jadi antara doa dan pengabulannya, butuh perantara, sesuatu yang disebut USAHA. Di situlah Tuhan akan menempelkan keajaiban, dimana usaha yang terkadang kecil diganjar dengan jawaban di luar harapan kita.

Jangan putus asa dari rahmatNya, teman-teman…

Raih impian-impian Anda…

Buatlah impian-impian itu nyata… Tugas Anda adalah membuat pengait antara doa dan pengabulannya..

Kait itu dinamai usaha….

Best regards,
The World of Gusnul Pribadi
Sukses | Berkah | Bertumbuh

Categories: Uncategorized Tags: ,

Balada Para Pelindung Kehidupan

28 June 2013 2 comments

“Saya rugi punya asuransi, selama ini saya tidak pernah klaim dan sehat-sehat saja. Jadi saya niat mau tutup saja, mending uangnya saya masukkan tabungan saja”

rugi

Seorang sahabat saya bertutur via Blackberry Messenger mengeluhkan premi yang terus-terusan dibayarnya di asuransi yang dia beli sekitar 2 tahun yang lalu. Dari larik-larik bahasanya dia kecewa karena tidak ada manfaat yang dia rasakan selama dia membayarkan premi tersebut. Nyesek, gitu katanya. Asuransi ini memang bentuk hubungan yang unik, untuk memahaminyapun butuh cara pandang yang tidak biasa. Hmmm, bagaimana ya… OK, bagaimana kalau seperti ini :

Toni ingin mengembalikan gembok besi yang telah 3 tahun dibelinya dengan mengatakan,
“Saya dulu berniat membeli gembok ini untuk keamanan, tapi ternyata rumah saya aman-aman saya”

Penduduk komplek bermaksud memecat satpam yang telah mereka pekerjakan selama 9 bulan,
“Dulu kami pekerjakan dia karena baru ada motor salah satu penduduk yang hilang, tapi setelah itu sudah tidak ada lagi kehilangan, jadi kami sudah tidak memerlukan dia lagi”

Rosi juga berniat mendatangi supermarket tempat dia membeli payung,
“Mbak, ini kan dulu saya beli buat jaga-jaga kalau hujan. Nyatanya gak hujan-hujan saja, saya mau kembalikan saja payung ini”

Beni memutuskan untuk tak mau lagi menggunakan jembatan penyeberangan,
“Saya akan baik-baik saja”, ujarnya

Dan kira-kira apa yang akan menjadi pendapat kita semua jika ada orang-orang yang mengembalikan barang-barang di bawah ini ke penjualnya dengan alasan yang sama :

Ban serep , karena ban utamanya tak pernah bocor ;
Tabung pemadam kebakaran, karena rumahnya tak pernah kebakaran ;
Sabuk pengaman, karena tak pernah terjadi kecelakaan dan ;
Helm , karena tidak pernah jatuh.

Saya simpulkan bahwa beberapa usaha-usaha yang bersifat pencegahan memang mengandung ketidaknyamanan dalam pelaksanaannya.
Usaha mengunci pintu setiap malam, membosankan…
Membayar tenaga keamanan, pengeluaran…
Membawa payung kemana-mana, berat…
Menaiki jembatan penyeberangan , melelahkan…
Memasang sabuk pengaman , tidak nyaman…
Memakai helm , pengap dan panas…

Demikian pula asuransi ,

Manfaat pencegahan tragedi keuangan keluarga yang diberikannya juga memberikan imbas ketidaknyamanan berupa kebesaran hati kita untuk membayarkan iuran takaful atau tabarru alias tolong menolong antarpeserta asuransi.

Tentunya akan ada kemungkinan besar bahwa kita akan sehat-sehat saja setelah bertahun-tahun membayarkan iuran tersebut. Artinya di sisi nusantara yang lain, saudara kitalah yang ditakdirkan untuk sakit dan membutuhkan biaya, sehingga iuran dari kitalah yang bermanfaat untuk mereka. Tentunya kita semua berharap tidak ingin mendapatkan manfaat klaim tersebut alias sehat-sehat saja kan? Tapi apakah kita bisa memastikan bahwa kita akan sehat terus?

Apakah kita bisa memastikan rumah kita aman ketika tidak digembok?
Apakah kita bisa memastikan komplek kita aman ketika tidak ada satpam?
Apakah kita bisa memastikan tidak akan turun hujan ketika payung kita tinggalkan di rumah?
Apakah kita bisa memastikan ban kita tidak bocor ketika ban serep kita kembalikan ke showroom?

Akhirnya seperti Gembok, satpam, payung dan ban serep , asuransi adalah salah satu dari usaha-usaha tambahan kita untuk memberikan kepastian lebih tinggi akan hasil-hasil yang kita inginkan

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

http://www.FutureincTeam.com

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 117 other followers

%d bloggers like this: