Ada Rumah Sakit Malas (lagi)

Sukses itu ‘hanyalah’ sekedar efek ketika kita melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Pengabdian pada Tuhan punya bentuk yang berbeda pada setiap peran yang diemban.

Mari kita sepakati bahwa semua peran butuh kesungguhan
Mari kita sepakati bahwa semua peran adalah mata rantai untuk peran lainnya

Anda bayangkan kalau petani malas bertanam?
Anda bisa bayangkan kalau office boy terlambat setiap pagi?
Anda bisa bayangkan kalau supir kopaja hanya kerja setengah hari?

Jangan permasalahkan mereka, namun lihatlah pengaruhnya pada kehidupan orang lain!

Dan pantaskah kita sekarang masih berpikir bahwa kemalasan kita tidak memiliki pengaruh pada kehidupan orang lain?

Betapa banyak anak yang seharusnya bisa sekolah tapi tidak…
Berapa banyak sekolah yang seharusnya terbangun tapi belum…
Begitu banyak jompo yang sangat ingin mengunjungi Baitullah tapi urung…

Mereka menunggu Anda…
Ya, Anda yang sedang membaca tulisan ini…
Karena kesuksesan hanyalah efek ketika kita melakukan tugas kita…

Apakah kesholehan pribadi yang kita kejar…
Atau kebermanfaatan untuk sesama yang kita harap…
Atau… Keduanya :)

Pilihan di tangan Anda, Sahabat….

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

Futureinc Promotion Qlub Trip 2014

gusnulpribadi:

Promosi Terasa Berbeda di Futureinc Agency. Bergabunglah bersama kami, karena kami ingin menjadi bagian dari masa depan Anda

Originally posted on the wonder of futureinc:

25 Pebruari 2014

Mengawali perjalanan menuju Kampong Glam, sebuah kawasan warisan dengan facade bangunan melayu yang masih terjaga.

Sarapan Pagi di Kampong Glam

Sarapan Pagi di Kampong Glam

Langkah kami langsung menuju sebuah kedai makan dengan menu lokal yang tak asing dengan lidah kami, nasi lemak dan lontong sayur. Haha, jauh-jauh ke Singapura makannya begituan juga. Well, mencari makanan halal bukan menjadi pekerjaan yang mudah di Kota Singa ini. Bang Syarif, pemandu perjalanan kami, orang Melayu Lokal, kelahiran Singapura asli keturunan Kutoarjo – Solo, menceritakan bahwa muslim termasuk minoritas di negeri ini. Sekitar 10%. Jadi urusan makan menjadi tantangan yang menarik di kota ini. Dan Bang Syarif menjamin menu sarapan kita pagi itu, HALAL!

View original 355 more words

Categories: Uncategorized

Suara Lembut Uda Edi

15 January 2014 Leave a comment

“Mas dan mbak baru mulai dagang ya?”

Suara lembut itu menyapa kami.

“Sini, kalian bisa geser sedikit dan dagang di sebelah saya”.

image

Di sinilah kami dagang...

Read more…

Categories: Uncategorized

Ada Apa dengan Lia….

Senin, 7 Oktober 2013

image

Suasana di dalam Kelas Lia

Anak kedua kami, pagi ini kembali menguji kami. Dari pagi subuh kami sudah menjaga moodnya sedemikian rupa. Sejak masuk SD kelas 1 , 3 bulan lalu, baru 4 kali dia masuk kelas sendiri, itupun dengan cara yang agak ekstrim yang diusulkan oleh gurunya sendiri. Gurunya bilang agar ditinggalkan saja di sekolah dengan paksa, dan benar saja, dia berontak sejadi-jadinya walaupun hanya bertahan 30 menit dan menurut gurunya dia bisa menyelesaikan hari itu dengan normal. Ya, itu hanya terjadi 4 kali.

Lalu apa yang terjadi di hari-hari lainnya? Ada 2 kemungkinan:

Yang pertama kami bergantian menemaninya di dalam kelas, ya benar, di dalam kelas. Dari pagi sampai pulang sekolah. Hmm, begini rasanya sekolah lagi. Untung saya punya jatah cuti 12 minggu di bisnis luar biasa yang saya jalani saat ini jadi kami tidak terlalu khawatir.

Kemungkinan kedua,
ketika saya ada Lia sudah berada di depan pintu kelas, saya gagal membujuknya masuk (ingat, dia hanya 4 kali berhasil dimasukkan kelas tanpa ditemani). Namun karena saya sudah ada agenda penting seperti Morning Briefing atau Join Field Work bersama agen, saya terpaksa tidak bisa menemaninya dan membawanya kembali pulang ke rumah. Singkat kisah, selepas mengikuti sebuah pelatihan Tuhan perpesan lewat sang trainer, “Kau akan lelah jika mengandalkan kekuatanmu, andalkan Tuhan, karena Tuhanmu Maha Perkasa”

Dan sampailah kisahnya di pagi ini, doa tak putus terpanjat. Saya yakin Tuhan akan membantu (paling tidak pagi ini). Saya tinggal cari perantara. Pengait antara doa dan ijabah. Kemudian saya sembunyikan DVD player, satu-satunya hiburannya di rumah. Dan saya katakan pada Lia bahwa dia tidak akan punya hiburan kalau di rumah sendiri, kecuali membaca buku. Dan saya biarkan dia dalam pilihan.

5 menit kemudian, dia mau sekolah. Bertolak belakang dengan aksinya dari Subuh hingga jam 8 pagi, TIGA JAM! Berubah hanya dalam waktu 5 menit. Siapa yang bisa membalik hati dalam waktu sekejap kalau bukan Tuhanmu.

Pertanyaannya : “Mengapa Tuhan tidak lakukan itu sejak subuh?”

Pertama,
mungkin Dia ingin uji kesabaran kami. Baik, kami ridho dengan kondisi ini. Tapi nampaknya ridho saja tak cukup. Dia ingin ada ikhtiar nyata dari kami. Dan Tuhan mengilhamkan kami lewat DVD player. Saya berpikir singkat, “Ah, ini kan hanya DVD, mana bisa membuat dia tiba-tiba mau…tapi ya kita coba lah..” Dan, tiba-tiba ia mendatangi bundanya dan berkata, “Aku mau sekolah….”. Subhanallah. Sampai detik inipun saya tak mau berandai-andai apakah DVD itu jadi titik baliknya. Yang jelas, semua datang dari Tuhan.

Jadi yang kedua,
Tuhan ingin mengabulkan doa kita, tapi Tuhan tak ingin menjadikan semuanya terlihat ajaib dan tak masuk akal. Jadi antara doa dan pengabulannya, butuh perantara, sesuatu yang disebut USAHA. Di situlah Tuhan akan menempelkan keajaiban, dimana usaha yang terkadang kecil diganjar dengan jawaban di luar harapan kita.

Jangan putus asa dari rahmatNya, teman-teman…

Raih impian-impian Anda…

Buatlah impian-impian itu nyata… Tugas Anda adalah membuat pengait antara doa dan pengabulannya..

Kait itu dinamai usaha….

Best regards,
The World of Gusnul Pribadi
Sukses | Berkah | Bertumbuh

Categories: Uncategorized Tags: ,

Balada Para Pelindung Kehidupan

28 June 2013 2 comments

“Saya rugi punya asuransi, selama ini saya tidak pernah klaim dan sehat-sehat saja. Jadi saya niat mau tutup saja, mending uangnya saya masukkan tabungan saja”

rugi

Seorang sahabat saya bertutur via Blackberry Messenger mengeluhkan premi yang terus-terusan dibayarnya di asuransi yang dia beli sekitar 2 tahun yang lalu. Dari larik-larik bahasanya dia kecewa karena tidak ada manfaat yang dia rasakan selama dia membayarkan premi tersebut. Nyesek, gitu katanya. Asuransi ini memang bentuk hubungan yang unik, untuk memahaminyapun butuh cara pandang yang tidak biasa. Hmmm, bagaimana ya… OK, bagaimana kalau seperti ini :

Toni ingin mengembalikan gembok besi yang telah 3 tahun dibelinya dengan mengatakan,
“Saya dulu berniat membeli gembok ini untuk keamanan, tapi ternyata rumah saya aman-aman saya”

Penduduk komplek bermaksud memecat satpam yang telah mereka pekerjakan selama 9 bulan,
“Dulu kami pekerjakan dia karena baru ada motor salah satu penduduk yang hilang, tapi setelah itu sudah tidak ada lagi kehilangan, jadi kami sudah tidak memerlukan dia lagi”

Rosi juga berniat mendatangi supermarket tempat dia membeli payung,
“Mbak, ini kan dulu saya beli buat jaga-jaga kalau hujan. Nyatanya gak hujan-hujan saja, saya mau kembalikan saja payung ini”

Beni memutuskan untuk tak mau lagi menggunakan jembatan penyeberangan,
“Saya akan baik-baik saja”, ujarnya

Dan kira-kira apa yang akan menjadi pendapat kita semua jika ada orang-orang yang mengembalikan barang-barang di bawah ini ke penjualnya dengan alasan yang sama :

Ban serep , karena ban utamanya tak pernah bocor ;
Tabung pemadam kebakaran, karena rumahnya tak pernah kebakaran ;
Sabuk pengaman, karena tak pernah terjadi kecelakaan dan ;
Helm , karena tidak pernah jatuh.

Saya simpulkan bahwa beberapa usaha-usaha yang bersifat pencegahan memang mengandung ketidaknyamanan dalam pelaksanaannya.
Usaha mengunci pintu setiap malam, membosankan…
Membayar tenaga keamanan, pengeluaran…
Membawa payung kemana-mana, berat…
Menaiki jembatan penyeberangan , melelahkan…
Memasang sabuk pengaman , tidak nyaman…
Memakai helm , pengap dan panas…

Demikian pula asuransi ,

Manfaat pencegahan tragedi keuangan keluarga yang diberikannya juga memberikan imbas ketidaknyamanan berupa kebesaran hati kita untuk membayarkan iuran takaful atau tabarru alias tolong menolong antarpeserta asuransi.

Tentunya akan ada kemungkinan besar bahwa kita akan sehat-sehat saja setelah bertahun-tahun membayarkan iuran tersebut. Artinya di sisi nusantara yang lain, saudara kitalah yang ditakdirkan untuk sakit dan membutuhkan biaya, sehingga iuran dari kitalah yang bermanfaat untuk mereka. Tentunya kita semua berharap tidak ingin mendapatkan manfaat klaim tersebut alias sehat-sehat saja kan? Tapi apakah kita bisa memastikan bahwa kita akan sehat terus?

Apakah kita bisa memastikan rumah kita aman ketika tidak digembok?
Apakah kita bisa memastikan komplek kita aman ketika tidak ada satpam?
Apakah kita bisa memastikan tidak akan turun hujan ketika payung kita tinggalkan di rumah?
Apakah kita bisa memastikan ban kita tidak bocor ketika ban serep kita kembalikan ke showroom?

Akhirnya seperti Gembok, satpam, payung dan ban serep , asuransi adalah salah satu dari usaha-usaha tambahan kita untuk memberikan kepastian lebih tinggi akan hasil-hasil yang kita inginkan

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

http://www.FutureincTeam.com

Adegan Ranjang Si Mbok Donat

Mbok Donat ini langganannya anak-anak saya. Dia mengontrak di gubuk kecil di belakang kompleks rumah saya dengan room rate Rp. 250,000,-

“Bunda, punya kain sprei bekas ndak buat mbok?” Tanyanya pada istri saya.

“Buat apa, Mbok?” Istri saya balik bertanya padanya

“Buat alas tidur Bun, mbok tidurnya di lantai” ujarnya

Istri saya langsung memanggil saya untuk mengambil kasur yang (maaf) sudah cukup lusuh karena memang sudah lepek dan rencananya memang ingin dibuang.

“Udah mbok jualan aja, nanti biar dianter sama ayahnya anak-anak ke rumah mbok, lagian kasurnya besar mbok…”, kata istri saya.

Saya turun membawa kasur lusuh itu ke teras depan, terlihat si mbok menyambut saya dengan senyumnya.

“Waah, makasih banyak ya oom, wong saya cuman pengen alas kain malah dapet kasur, alhamdulillah.”, ujar si mbok

Tidak tahu kenapa si mbok selalu memanggil saya dengan sebutan ‘oom’. Saya suka geli sendiri dipanggil ‘oom’ sama si mbok Donat.

“Udah mbok, ntar saya aja yang anter kasurnya”, ujar saya. Dan akhirnya si mbok tidak mau menerima tawaran saya, dia langsung pulang membawa keranjang dagangannya dan kembali lagi untuk mengambil kasur yang tetap dilengkapi sprei dan bantal oleh istri saya.

Percayakah Anda bahwa kasur lusuh itu bisa menjadi surga dunia buat si mbok Donat?

Keesokan sorenya dia datang ke rumah dan melaporkan bahwa tadi pagi dia bangun kesiangan sampai-sampai dia tidak berjualan.

“Keenakan tidurnya nih oom… Jadi kesiangan mboknya….”

Yaaa, mudah-mudahan besok tidak kesiangan lagi ya mbok, nanti kalau kesiangan terus sholat subuhmya telat terus, nanti saya disuruh tanggung jawab. Gara-gara memberi kasur, saya membuat orang terlambat bangun. Hehehehe….

Sekali lagi, buih bagi kita bisa menjadi tsunami buat mereka…

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

Kue Brownies dan Awan-Awan Culun

30 April 2013 1 comment

Kue Brownies Spesial (Pic From SkinnyMom.com)

“Ayaaah…ini gimana? Aku gak bisa bikinnyaaa…”

Anak pertama saya ini seringkali punya masalah seperti ini. Seperti masalah kepercayaan diri bahwa dia tidak bisa melakukan sesuatu. Kali ini penyebabnya adalah sebuah pekerjaan rumah dari sekolahnya untuk membuat simbol-simbol cuaca.

“Nak, ayah akan beritahu bagaimana kira-kira bentuk simbol-simbol itu. Tapi kamu yang harus membuatnya sendiri”

Akhirnya dia membuat gambar gumpalan awan sampai terdengar rengekan keduanya lagi, “Gak bisa ayaah…awannya bukan seperti iniil”

“Cobalah gambar beberapa awan, pakai kertas coretan ini. Lalu dari beberapa awan yang kamu sudah gambar, pilihlah satu awan yang menurutmu paling bagus bentuknya”

Dan anak saya mulai menggambar beberapa bentuk awan, sesekali dia merengut karena bentuk awan yang belum sesuai dengan keinginan dia, dia teruas menggambar sampai kertas coretannya penuh dan dia mendapatkan satu bentuk awan yang menurutnya cocok untuk dijadikan bentuk awan favoritnya…. Puluhan awan untuk mendapatkan satu awan benar…

Cobalah Gambar Beberapa Awan, dan Pilihlah Satu Awan yang Kamu Sukai

Cobalah Gambar Beberapa Awan, dan Pilihlah Satu Awan yang Kamu Sukai

Nak…
Ayah tidak pernah iri dengan hasil gambar anak-anak yang bagus-bagus itu karena ada sebagian adalah buatan ayah mereka…

Ayah jauh lebih bangga dengan hasil karyamu sendiri meskipun belum bagus, karena dari kekurangbaikan gambarmu itu kamu belajar sesuatu yang lebih benar.

Jangan takut gagal, di balik gagal itulah pelajaran berharga….
Dan saya ceritakan hal tentang brownies pada anak saya…

Nak…Ketika orang bertanya kepada kita tentang bagaimana proses membuat sebuah brownies kukus, apa yang kita dan umumnya orang akan jawab?

Ya betul…
Sebuah rangkaian dari persiapan bahan-bahan, komposisi campuran, langkah-langkah pembuatan sampai penyajiannya. Jamak bukan? Setiap menit berjalan dari proses pembuatan brownies tersebut, ada hasil yang nampak. Jika berhasil maka prosesnya akan beranjak misal dari tepung sudah menjadi adonan, atau dari adonan lalu kita siap masukkan dalam oven. Jika gagal, maka akan ada bahan-bahan terbuang yang menjadi saksi kegagalan proses kita.

Apakah kita akan menganggap kegagalan itu dari akhir sebuah proses? Tanyakan pada diri kita mengapa brownies itu harus jadi.

Apakah anak kita yang menginginkannya? Atau mungkin ada orang yang memesannya dan harus siap hari itu juga?

Itu adalah sebab-sebab mengapa kue brownies itu harus jadi, apapun yang terjadi dan seberapa banyakpun kita sempat gagal membuatnya…

Apakah kita belajar dari kegagalan?
Apa yang salah dari proses pertama?

Apinya terlalu besar?
Waktu panggang terlalu lama?
Komposisi campuran adonan kurang pas?
Telur terlalu banyak?

Apakah kita perlu bertanya pada mereka yang sudah berhasil?
Atau bertanya pada Mbah Google yang serba tahu?
Atau mungkin beli bukunya di toko buku?

Nak,
Kalaupun kegagalan itu adalah bagian dari sebuah proses, ingatlah selalu bahwa jumlah kegagalan itu harus cukup untuk membuat kita belajar sehingga kue brownies kita tetap selesai tepat waktu.

Kalaulah kegagalan itu adalah bagian dari sebuah proses, kumpulkanlah kegagalan demi kegagalan itu dalam waktu secepat mungkin sehingga proses itu dapat terlihat sebagai sebuah pertumbuhan yang teratur.

Dan akhirnya, anak saya mulai berkutat dengan gambarnya sembari saya ceritakan tentang kegagalan-kegagalan Thomas Alfa Edison ketika mencipta lampu, dan Wright bersaudara ketika menemukan prinsip kerja pesawat.

“Nak, kalau mereka menyerah ketika beberapa kali mencoba, kira-kira apakah lampu yang kamu lihat ini akan ada hari ini…”

Dia menggeleng sambil terus menoreh spidol Snowman-nya di kertas menggambar awan-awan itu…

Simbol-Simbol Cuaca

Simbol-Simbol Cuaca

Rekan-rekan…
Berproses bukanlah diam menanti…
Berproses adalah bertumbuh…
Karena bahkan kegagalanpun membuat kita tumbuh dewasa…
Belajarlah walaupun dari kegagalan…
Jangan kita larut dalam kegagalan demi kegagalan tanpa pernah memaknai kegagalan itu sebagai cara Tuhan menumbuhkan kita…

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 110 other followers

%d bloggers like this: