Home > Life & Business Excellence > ‘dia’ yang (terlalu) visioner…

‘dia’ yang (terlalu) visioner…

Dia : “Dulu ketika saya bergabung di sini, saya pikir tujuan saya mau mencapai financial freedom dan time freedom…”

Saya : “Oh, I see…lalu apa yang terjadi sekarang?”

Dia : “Semakin hari saya lihat kamu, saya gak yakin punya kemampuan itu, harus telepon sana-sini, mengajari bawahan2mu, memonitor mereka, merekrut dan harus memimpin meeting2, wah…kok jadi banyak kerjaan gini.”

Saya : “Jadi…”

Dia : “Jadi, sebelum terlalu jauh melangkah, saya memilih untuk menjauh saja dari aktivitas di sini…”

Rekan-rekan yang berbahagia.
Jika anda adalah ‘dia’, saya ingin ajak anda mendengarkan apa yang anak anda yang masih SD kelas 3 katakan pada anda…

“Ayah, aku udah pikir-pikir. Sepertinya aku tidak mau kuliah. Karena aku tidak bisa kalkulus dan integral lipat 3, aku hanya bisa tambah2an dan kurang2an aja…”

Rekans,
Di otak kita, terdapat jutaan sinapsis yang siap tersambung ketika kita belajar sesuatu. Sinapsis ini diciptakan Tuhan agar prosesor kita tidak overheat. Bayangkan jika anda dibuat ‘mengetahui semuanya’ ketika anda dilahirkan. Bukankah anda malah akan stress sendiri?

Nikmati proses penyambungan sinapsis itu, waktu demi waktu, insya Allah Tuhan akan memintarkan anda, dan bisa melakukan semua hal yang anda inginkan, tanpa harus memikirkannya, seperti ketika anda harus melakukan perkalian 6 x 6, anda dengan spontan akan menjawab : 36 tanpa ragu…

(Bayangkan jika pertanyaan mudah ini ditanyakan ke anak berusia 2 tahun…dijamin mumet)

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

  1. 26 October 2011 at 21:40

    weh blog’e Gusnul
    aku sing pertama yo ?😀

  2. 27 October 2011 at 09:58

    There is a price in freedom, usually a steep one.

    Merdeka dari budak, merdeka dari penjajah, ataupun merdeka dari finansial, apapun itu harga sebuah kemerdekaan biasanya sangat mahal. Orang yang benar-benar paham arti kemerdekaan finansial tahu bahwa mereka harus berusaha jauh lebih keras dari rekan-rekannya karena apa yang akan mereka peroleh pada akhirnya setimpal.

    Sifat setengah-setengah dalam menjalani keinginan yang tinggi adalah modal dasar dari rangkaian kegagalan demi kegagalan.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: