“Helm versus Sang Pencipta Jagad” – Bagian Ketiga (terakhir) dari Trilogi ‘Jangan Beli Asuransi Jiwa’

Kita kilas balik ke sekuel pertama dari trilogi ‘Peringatan! Jangan Beli Asuransi Jiwa’ :

“Rejeki itu sudah ada yang atur, kalaupun saya meninggal, Tuhan pasti sudah mengatur rejeki untuk anak dan istri saya. Punya asuransi jiwa berarti saya tidak beriman….”

“Gak ada jaminan lho dengan  asuransi jiwa. Pasti ada jaminan jika dititipkan pada Tuhan dengan bekal IMAN & AMAL SHOLEH pasti bahagia, pasti sukses dunia akhirat.”

Dalam berbagai kesempatan saya selalu dan selalu membenarkan pendapat-pendapat tersebut. Kok membenarkan? Lha wong memang benar kok, apanya yang mau disalahkan?

Terlalu mulia kalau asuransi jiwa (baca : asuransi kehidupan) disandingkan dengan Tuhan, Sang Pencipta Jagad dan Penggenggam Alam Semesta, Yang Menciptakan Setiap Jiwa ada di Genggaman-Nya . Asuransi Jiwa itu hanya pantas disandingkan sama HELM!

Helm : Kewajiban atau Kebutuhan
Helm : Kewajiban atau Kebutuhan?

Helm tidak pernah menjamin pemakainya terlindung dari jatuh atau celaka, jatuh mah jatuh aja, celaka mah celaka aja, itu sudah garisnya Allah. Tapi helm itu berfungsi untuk meminimalkan resiko yang terjadi akibat kecelakaan kalaupun tergaris untuk terjadi

Demikian pula asuransi jiwa , ia tidak akan menjamin pemegang polisnya panjang umur, anti-meninggal atau kebal sakit. Ia hanya (baca : hanya, cuma ‘hanya’ doang) berfungsi untuk meminimalkan resiko yang terjadi akibat meninggalnya seseorang….

Kalau resiko jatuh adalah luka, maka helm berfungsi meminimalkan luka yang terjadi, misal kalau gak pakai helm kepala bisa berdarah dan leher kepelintir, tapi kalau pakai helm cuman lehernya aja yang kepelintir (lumayan kan kepalanya gak berdarah)

Dan resiko meninggalnya seseorang adalah : penghasilannya ikut meninggal bersamanya, benarlah Tuhan yang akan menjamin hidup keluarganya, asuransi jiwa hanya akan meminimalkan resiko kekagetan keuangan ketika tiba-tiba penghasilan itu hilang. Hanya serendah itu kok peran asuransi jiwa , tidak perlu sampai disandingkan sampai level Sang Pencipta Jagad.

Wallahua’lam
Hanya Allah Yang Maha Tahu
Tugas kita adalah ikhtiar terbaik

Di jalan raya : jaga perilaku berkendara, rawat bagian motor dengan baik, isi bensin dan pakai helm
Di kehidupan keluarga : jaga kesehatan, perbaiki akhlak keluarga, kuatkan pilar ekonomi, dan miliki asuransi kehidupan

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

Advertisements

Unit Link dan Resep Yang Tidak Pernah Tertebus

Surat Notifikasi Ujian Certified Financial Planner (CFP)

Surat Notifikasi Ujian Certified Financial Planner (CFP)

Jika Anda seorang dokter, apa perasaan Anda ketika resep yang Anda resepkan tidak pernah ditebus oleh pasien Anda. Well, sah-sah saja kalau Anda berpikir seperti ini :

“Ya terserah aja, toh dia sudah bayar biaya konsultasinya kan. Mau obat ditebus atau tidak, tidak ada pengaruhnya sama saya.”

Dan itu pula yang terjadi ketika saya bertemu dengan salah seorang nasabah saya yang di tangannya tersandang sebuah buku bercover indah dengan nama dia tercetak secara emboss dengan manis di halaman depannya. Ya, sebuah buku yang berisi rekomendasi finansial dari seorang perencana keuangan independen.

Saya agen asuransi unitlink. Ya, unitlink.
Dari produknya yang diisukan tidak optimal jika dibandingkan perencanaan asuransi dan investasi secara terpisah, sampai isu agennya yang jalan-jalan dengan menggunakan premi nasabah ( Untuk yang jalan-jalan dengan premi nasabah, saya sudah iyakan lho, silakan baca di http://wp.me/p1Wqoy-2r ).

Continue reading “Unit Link dan Resep Yang Tidak Pernah Tertebus”

Futureinc : “We Dedicate This For You, Mom!”

22 Desember 2011

Teruntuk para bunda rekan-rekan di Futureinc Team…

Ibu…

Maafkan kalau mungkin beberapa dari kami tidak seperti anak-anak lainnya yang memberikan hadiah-hadiah kejutan indah, kado berpita atau makan malam yang temaram dan syahdu…

Tapi yakinlah bu,
Kami, dengan ijin-Nya akan memberikan bakti kami yang mungkin takkan kau rasakan di dunia ini

Kami ingin menjadi anak yang baik dan berguna, yang jika Allah ridho, akan memberikan kebaikan tak terputus buat ibu….dan ayah tentunya

Kami biayai sekolah puluhan anak asuh dan guru yang setiap doa dan apapun kebaikan dari cita-cita mereka kelak kami doakan juga menjadi aliran tasbih buat ibu….

Kami galikan sumur pompa dan perbaiki yayasan yatim piatu agar setiap tetesan air wudhu yang membasuh kening-kening mereka menjadi doa tak terputus buat ibu…

Kami tanamkan 1000 pohon agar setiap burung dan ulat yang memakan daunnya mendoakan fadilah sedekah buat ibu, dan doa orang-orang yang berteduh di bawahnya dan yang terlindung dari banjir karenanya menjadi catatan amal tak terhitung buatmu…

Kami perbaiki madrasah dan sekolah agar hela nafas kenyamanan orang yang belajar didalamnya menjadi hembusan doa yang mengalir menggetarkan langit dan mengukir namamu di catatan kebaikan-kebaikan…

Kami niatkan diri untuk menjadi tamu-Nya di tanah haram, berziarah ke makam manusia paling mulia di muka bumi ini, sehingga kami bisa mendoakan kebaikan paripurna untukmu wahai ibu…

Dan…
Doakan usaha kami yang belum terwujud ini bu…

Mohon restu dan ridho darimu
Kami ingin membeli 2000 m2 tanah untuk dihibahkan didirikan sekolah di atasnya, agar setiap huruf dari kitab-Nya dan jerih payah anak-anak yang belajar di dalamnya menjadi kebaikan buat ibu…

Ibu…
Itu saja yang kami bisa berikan
Doakan kami agar tetap lurus niat
Dan, kami juga ingat pesanmu untuk terlebih dulu memperhatikan orang-orang terdekat.

Doakan kami untuk itu ibu…
Dan doakan kekuatan pada kami untuk berlelah-lelah untuk itu semua…

Doakan nasabah-nasabah kami bu,
Karena ini semua bisa terwujud berkat kontribusi mereka, dan kami bertekad untuk membuat kontribusi mereka lebih berarti.

THE FUTUREINC FOUNDATION
Team Social Responsibility Program
For The Better World
For Our Beloved Moms….

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

Peringatan Kedua! Jangan Pernah Beli Asuransi Jiwa! : The Second Trilogy

Perlengkapan Inline Skate Caca

Perlengkapan Inline Skate Caca

Jumat, 16 Desember 2011

Putri sulung saya, Caca, baru saja menyelesaikan ujian akhir semesternya di SD kelas 2. Dan seperti janji saya seminggu sebelumnya, saya membelikannya Inline Skate biru bernuansa Disney di Gramedia Pejaten Village. Saya belikan itu kalau dia berkomitmen untuk melewati ujian akhir ini dengan baik dan serius. Dan, bisa ditebak, malam hari ini sepatu dengan roda itu tak lepas dari kakinya. Dia berseluncur kesana kemari di dalam rumah.

Saya bilang sama dia, “Kenapa helmnya tidak dipakai nak?”

“Enggak kok Ayy, aku gak perlu. Aku gak jatuh kok…”

“Emang yakin gak akan jatuh?”

“Gak juga sih, ntar deh aku pake kalau mau jatuh…”

“Emang kamu udah tahu kapan mau jatuh?”

Di benak Anda, “Ihh…gak ngerti amat sih ini anak, gak bisa dikasih tahu banget sih, ihhh!”
(Tanpa sadar bahwa dia ternyata sedang mewarisi kelakuan orang tuanya dulu).

“Nak, helm, pelindung telapak, lengan dan lutut. Perlengkapan itu bukan untuk mencegah kamu terjatuh. Walaupun kamu pakai helmpun kemungkinan kamu akan jatuh juga. Itu dipakai untuk melindungi kita ketika kita harus terjatuh. Kaki kita bisa saja memar kalau kita jatuh, kepala kita bisa saja terluka kalau kita jatuh, telapak tangan kita juga bisa lecet kalau kita jatuh”

Cerita anak saya itu membuat saya tersadar bahwa jiwa kanak-kanak kita abadi dalam diri setiap orang. Tapi walaupun demikian, secara sadar sebagai orang tua, kita selalu mengatakan nasihat-nasihat di atas untuk melindungi anak-anak kita.

Puluhan, bahkan ratusan kali saya menemui para orang tua yang masih memiliki sifat kanak-kanak itu ketika saya mencoba berbagi tentang pentingnya asuransi.

“Saya tidak butuh, saya sehat-sehat aja kok”
“Saya pasti akan hidup sampai anak-anak besar nanti, saya akan baik-baik saja…”
“Saya masih muda kok, nanti aja kalau udah agak tua dan menjelang sakit”

Asuransi seperti helm…
Asuransi tidak akan mencegah kita dari meninggal, kecelakaan dan sakit kritis. Tapi asuransi akan melindungi keluarga Anda ketika resiko-resiko tersebut harus terjadi. Menjaga aset-aset kita tetap pada fungsi aslinya, dan bukan dialihtangankan ke Rumah Sakit.

Dan kami, para agen asuransi akan menjadi orang tua yang tulus selalu mengingatkan Anda dengan kasih untuk mengenakan “Helm Kehidupan”, semakin kuat jiwa kekanak-kanakan Anda muncul, semakin gigih kami mengingatkan Anda.

Kepedulian orang tua itulah yang sering diterjemahkan anak-anak kita sebagai pengganggu….

Dan kepedulian kami jualah yang sering disalahartikan berlebihan oleh masyarakat luas…

“Nak, kelak kau akan paham mengapa ayahmu ini sedemikian cerewet….”

Jadi, jangan pernah beli asuransi jiwa untuk melindungi jiwa Anda, karena “Helm” ini bukan untuk melindungi kepala keluarga dari kenyataan bahwa semua orang akan meninggal, melainkan melindungi keluarganya dari resiko finansial yang mungkin terjadi ketika kepala keluarga tak lagi berada di tengah-tengah mereka.

We are a Life Insurance Advisor…
We love you…
Truly…

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

Kang Jali, Manusia Tanpa Jari

15 Desember 2011, Ghaissan 1st Birthday

Slipi Jaya,
Sekitar pertengahan tahun 2011

Setelah belajar di Metromini, Pak Dasam dan Sang Utusan Langit, kali ini saya berkesempatan belajar dari Kang Jali (bukan nama sebenarnya), seorang pedagang daun hias potong. Eits, jangan salah, nasabah saya yang satu ini cukup kaya, tapi sangatlah (baca : sangat…sangat….sangat) sederhana.

Kang Jali tidak pernah punya mobil, bukan karena dia tidak mampu, bahkan 10 mobil pun mampu dibelinya, kalau dia mau. Tapi hari ini dia akhirnya punya mobil, itupun karena ada seorang koleganya yang gemas melihat kesederhanaan Kang Jali. Dan akhirnya suatu hari temannya ini ‘secara paksa’ menaruh mobil hatchback baru itu di garasi mobilnya. Kang Jali tak bisa mengelak, terpaksalah dia punya mobil.

Satu hal yang sangat menarik buat saya ketika saya menanyakan kiat-kiat suksesnya, Dia mengacungkan salah satu jarinya di depan saya dan berkata

“Jangan pernah gunakan jari ini….”

Continue reading “Kang Jali, Manusia Tanpa Jari”

The Communities Under Community : Team & Corporate Management

Malcolm Gladwell's The Tipping Point

Malcolm Gladwell’s The Tipping Point

Sudah nonton Harry Potter,
Anda pasti tahu Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry

Sekolah penyihir Harry Potter ini memberikan kita gambaran ‘The Law of 150’ ala Malcolm Gladwell untuk membuat manajemen komunikasi efektif dalam sebuah organisasi atau perusahaan.

Terus terang saya bukan penikmat kisah si penyihir berkaca mata bulat ini, tapi saya nukil beberapa hal yang saya lihat sekilas di episode-episode awal filmnya.

Dumbledore, sang sesepuh memiliki cara untuk membangkitkan motivasi semua (baca : SEMUA) siswa Hogwarts. Yaitu dengan cara membagi semua siswa dalam 4 genk besar….

1.Godric Gryffindor
2.Salazar Slytherin
3.Rowena Ravenclaw
4.Helga Hufflepuff

Continue reading “The Communities Under Community : Team & Corporate Management”

True Story : Pak Dasam, Simbol Sebuah Komitmen

sumber gambar : PradanaNusantara.Wordpress.com

sumber gambar : PradanaNusantara.Wordpress.com

Pak Dasam,
(Bukan nama sebenarnya)

Memulai bisnis drilling (jasa pengeboran) dari tahun 1960-an. Memulai bisnisnya dari jasa bor keliling, dan dia memanggul alat bornya sendiri dan saat ini menjelma sebagai pemilik jasa pengeboran yang sampai menolak order.

Para kliennya memberikan testimoni bahwa mereka memburu pak Dasam karena service dan komitmennya

Bagaimana tidak,
Pernah suatu kali Pak Dasam menerima order melakukan pengeboran, dan ternyata medan daerah tersebut di luar perkiraan Pak Dasam, bagian dalam tanahnya berbatu.

Berkali-kali bor Pak Dasam menyangkut dan seringkali patah. Proyek yang seharusnya selesai 2 bulan harus molor menjadi 12 bulan. Dan Pak Dasam rugi besar dalam proyek itu!

Apa yang membuat Pak Dasam tidak berhenti mengebor meskipun telah rugi besar sampai ratusan juta?

“Komitmen….”

Proyek yang sudah dia sanggupi harus diselesaikan apapun resikonya. Ini yang membuat para klien mengejarnya sampai saat ini Pak Dasam harus menolak order-order yang mengalir deras….

Mudah-mudahan kita bisa belajar dari Pak Dasam, agar jangan jadi wirausahawan bermental rendah yang masih berotak kiri menghitung kerugian uang tapi mengorbankan kredibilitas yang tak ternilai.

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi