Home > Life & Business Excellence, Life Insurance Business > Kepiting Afrika dan Kepiting Cina

Kepiting Afrika dan Kepiting Cina

Lidah Punya Kuasa pada Pikiran

Sebuah obrolan lift antara seorang manager yang sedang memberi ‘nasihat’ berharga pada temannnya yang calon manager, keduanya berada di bawah koordinasi Mas Joko, sang General Manager.

“Siap-siap saja kalau kamu naik jadi manager nanti, kamu akan tahu mas Joko yang sebenarnya”
“Maksudmu?”
“Iya, jangan harap kamu akan diperhatikan seperti sekarang ini. Kalau kamu sudah jadi manager, kamu akan merasa”

Saya hanya mendesah di sudut lift, teringat sebuah cerita tentang peladang jagung :

Peladang jagung yang rela membagikan biji-biji jagung terbaiknya pada peladang-peladang di sekitarnya. Membagikan ilmu cocok tanamnya, dan bahkan membantu menanamkannya. Dia membuat hasil jagung peladang lain menjadi baik, dengan cara itu benih hasil persilangannya akan menjadi baik. Proses ini menyebabkan hasil jagung si peladang itu jauh lebih baik dari sebelumnya. Karena dia tahu…..kalau ladang jagungnya berada di tengah ladang yang buruk, maka serangga-serangga akan mengawinkan benih yang buruk ke ladang jagungnya.

Kemudian saya teringat juga kisah kepiting Cina dan kepiting Afrika yang saya dapat dari salah satu guru saya, Tosan Liem (www.SuperActiveIncome.com), oh iya, Anda perlu segera cari buku beliau tentang Super Active Income ini, sangat menginspirasi dan membuka pikiran kita.

Seorang lelaki yang sedang berbelanja kepiting di pasar dan melihat ada dua keranjang kepiting. Keranjang satu terbuka begitu saja dan keranjang yang lain tertutup rapat. Dibalut rasa curiga mengapa sampai ada yang ditutup-tutupi, sang lelaki bertanya pada penjual,

“Kenapa kau bedakan dua kepiting ini, yang ini kau tutup sedangkan yang itu kau buka begitu saja”

“Oh, karena keduanya beda jenis. Yang terbuka gentongnya itu jenis kepiting Afrika. Dan yang tertutup itu kepiting Cina.”

“Lalu apa bedanya sehingga kau perlakukan mereka berbeda…?”

Sang penjual bertutur,
“Kedua kepiting itu punya sifat sama, ingin keluar dari keranjang. Kenapa Kepiting Cina ditutup? Karena setiap kali ada kepiting yang hendak keluar, teman-temannya bahu-membahu mendorongnya keluar. Tapi kepiting Arfrika, ketika ada yang mencoba keluar, kepiting yang melihatnya buru-buru menariknya kembali ke dasar keranjang. Makanya saya tidak perlu tutupi keranjangnya.”

Kembali ke lift,
Saya pikir, apa manfaatnya buat dia mengajaknya untuk berhati-hati dalam hal ini. Mengapa cara bicaranya menunjukkan kalau dia menebarkan benih jagung buruk ke ladang lain yang membuat kelak ladangnya menjadi lebih buruk dan buruk.

Lebih parahnya, dia bisa menjadi kepiting Afrika yang menarik kembali semangat dan keyakinan sang calon manager yang bisa jadi sudah lama dia pupuk pada Mas Joko langsung turun lagi ke dasar keranjang….

Kalaupun mas Joko memang seperti itu, mungkin saya akan berkata pada calon manager itu, “Mas Joko itu orangnya seperti ini-ini-ini-bla-bla-bla, kalau dirimu kurang nyaman, pastikan dirimu tetap bisa berhasil di sini, dengan atau tanpa bimbingannya, karena aku tahu kalau kamu punya potensi untuk berhasil.”

Ahhh…ademmm rasanya…
Bukan siapa-siapa di dunia ini yang akan menentukan masa depan kita, kita sendirilah orangnya

Ah tapi sudahlah,
Bisa jadi saya salah sangka, itu kan yang ada pikiran saya. Dan pintu lift terbuka di lantai 19, mereka keluar, dan saya lupakan pembicaraan itu dan menjadikannya misterius untuk saya…

Dan Anda semua juga bisa membuat kesimpulan masing-masing dari pembicaraan tersebut…
Bagaimana menurut Anda?

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

  1. 9 January 2012 at 18:39

    ‘Friends’ advice are like medicine and poison. You just have to know which one and the other.

    • 10 January 2012 at 08:13

      Indeed bro, terkadang terkesan tulus, karena sang teman ada maksud baik untuk tidak membuatnya sakit seperti dirinya, kalau di NLP ada presuposisi yang berbunyi “There’s a positive intention inside every behaviour”

  2. 10 January 2012 at 19:49

    Lho belajar NLP juga? My first motivation belajar NLP gara-gara baca bukunya Anthony Robbins.

  3. 18 January 2012 at 07:51

    Enggak belajar mendalam, hanya ikutan practitioner aja. Jadi presuposisi jadi menu wajib setiap training NLP

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: