Home > Life & Business Excellence, Life Insurance Business > Karyawan dan Dosa Persepsi Turunan

Karyawan dan Dosa Persepsi Turunan

Pilih Keren atau Kere

Pilih Keren atau Kere

“Jumlah sarjana pengangguran bertambah setiap tahun. Data Biro Pusat Statistik (Agustus 2010) menunjukkan, sebanyak 8.32 juta penduduk Indonesia berstatus pengangguran. Dari jumlah itu, 24.7% adalah lulusan diploma dan sarjana.”
(SuaraMerdeka.com 04/06/2011)

Kalau saya menemukan pencetus hirarki kehidupan yang menyebutkan jenjang hidup setelah lulus kuliah adalah BEKERJA di KANTOR, maka saya akan katakan bahwa dialah penyebab kondisi yang tergambar dalam berita di atas.

Tak usah berpanjang masa, mungkin orang tua kita sendiri juga masih mengharapkan itu dari kita. Beliau bersikap demikian karena beliau dituntut sama oleh kakek kita, ya, bekerja di kantor setelah lulus kuliah.

Inilah ‘dosa’ turunan yang dimaksud…
Tentunya dosa yang dimaksud bukanlah cap dosa yang merupakan hak penuh Tuhan, dan tulisan ini murni bertujuan untuk memberikan sudut pandang bahwa menjadi karyawan bukanlah segala-galanya.

A : “Lalu ngapain dong kalau gak kerja…”

B: “Jualan, bisnis, dagang, jadi calo, banyak kok pilihan selain kerja kantoran”

A: “Haah, yang bener aja…sekolah susah-susah cuman mau jadi pedagang? Kalau gitu mah gak usah sekolah tinggi-tinggi. Kita harus menerapkan apa yang kita pelajari dong, orang tua kita susah-susah nyekolahin kita, masa kita cuma mau dagang, durhaka itu namanya.”

Saya setuju dengan pendapat terakhir, tapi caranya tidak harus kerja di kantor kaaan? Usaha, bisnis, jualan, jadi konsultan independen. Banyak kan? Dan tentunya omong kosong kalau pengusaha tidak perlu sekolah, mereka justru perlu sekolah setinggi-tingginya. Karena dengan wawasan dan ilmu, mereka lebih fleksibel menghadapi hidup dan bukan justru membatasi dirinya sendiri.

Perhatikan bahwa di negara maju, jumlah wirausahawan rata-rata adalah 4% dari jumlah penduduknya. Sedangkan di Indonesia, jumlahnya tidak mencapai 0.5%. Dalam sumber-sumber lain diberitakan baru mencapai 0.1% dari jumlah penduduk Indonesia.

Jadi begini saja deh….
Kita tahu bahwa karyawan itu hidup dari wirausahawan. Nambal ban, beli beras, jahit celana, minum, beli tanaman, makan siang, cuci mobil, ahhh…sampai lelah saya menyebutkannya.

Intinya, setiap gerak-gerik karyawan kantoran itu membutuhkan jasa wirausahawan. Artinya, selama masih banyak yang HOBI menjadi karyawan, maka kita tidak akan mati kehabisan pasar sebagai wirausahawan. Bahkan sesama wirausahawan, tukang mie ayampun beli minum ke tukang es doger.

Dan pertanyaan berikutnya saya sudah bisa tebak : “MODAL-nya dari mana? Kamu mau modalin saya?”

Dan kalau saya ceritakan bahwa banyak bisnis dengan modal minim, Anda akan bilang : “Wah, gak level lah yaw… Saya kan sarjana teknik telekomunikasi lah, hukum lah, S2 arsitektur lah.”

Ada yang berpendapat :
“Hidup itu ada bagian-bagiannya masing-masing. Rejekinya masing-masing. Ntar kalau semua jadi wirausaha, siapa yang mau jadi karyawannya. Mikir dong”

Saya katakan :
“Tenang aja, masih banyak kok orang-orang kayak kamu. Jadi para wirausahawan gak akan kuatir kehabisan calon karyawan, pastikan kamu jadi karyawan yang bisa jadi teladan”

Dan Anda yang sudah punya bisnis sampingan, mbok ya kerjaannya dilepasin alias resign aja. Jangan didekepin dua-duanya. Kasian adik-adik kita yang baru lulus nenteng map kesana kemari mencari pekerjaan.

Jangan sampai mereka putus asa cari kerja dan memutuskan untuk berbisnis, dan akhirnya mereka lebih dulu kaya, lebih dulu beli mobil baru, lebih dulu beli rumah, lebih banyak memiliki anak asuh, lebih duluan membangun pesantren, lebih dulu berangkat haji, lebih banyak menghajikan saudara-saudaranya.

Selamat Beraktivitas..
Seperti mata uang, kita semua punya nilai tambah. Pastikan kita menukarkannya di Money Changer yang punya kurs terbaik dalam semangat yang tetap sama : “Memberikan manfaat untuk sebanyak-banyaknya orang”

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

  1. ita
    13 January 2012 at 09:20

    kalo misalnya suami tetep kantoran n istri jd wirausahawan gpp kan ya? Soalnya sayang sih ngelepas kerjaan suami, lumayan bisa dpt asuransi kesehatan gratis n kl dipecat lumayan pesangonnya..

    • 15 January 2012 at 22:14

      Hehehe, kalau hitungan pesangon itu butuh perhitungan opportunity loss. Kalau urusan asuransi kesehatan dengan 1 jt/bulan saja kita bisa membeli assuransi yang sama persis dengan yang diberikan oleh kantor. So, mari mulai berhitung

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: