Antena Parabola Penentu Masa Depan

“Ma, kok tetangga depan rumah kita bisa punya parabola? Kenapa kita enggak?”

“Karena mama MEMILIH untuk tidak memiliki parabola…”

Jawaban yang cukup membingungkan seorang anak berusia 8 tahun di era 80an ketika TV swasta masih langka dan parabola yang bertengger di atas rumah menjadi merek paten sebuah gaya hidup di masanya.

Continue reading “Antena Parabola Penentu Masa Depan”

Advertisements

The Soto Leadership

Nyoto Dulu Yook...

Nyoto Dulu Yook…

8 Desember 2010,

Siang itu saya makan siang di Soto Cak Nandar di Tebet, singkat cerita, saya mendapatkan informasi dari seorang sahabat bahwa ternyata dia ‘jebolan’ dari Soto Pak Sadi yang terkenal itu. Wallahua’lam tentang kebenarannya, tapi kita ambil pesan moral kisah yang diceritakan pada saya ini.

Kalau saya tidak ceritakan, mungkin Anda mengira Cak Nandar ini adalah salah satu orang yang kecewa, lalu berhenti dari Soto Pak Sadi dan membuka warung soto baru.

ANDA SALAH BESAR!
Continue reading “The Soto Leadership”

True Story : Ketika Agen Asuransi Berhenti Mengejar Anda

Nanti aja, saya sehat-sehat aja kok

Nanti aja, saya sehat-sehat aja kok

“Suamiku baru saja divonis kanker….”

Tubuh saya sontak lemas.
Siska bercerita kondisi Roni, suaminya.
Sampai akhirnya dari hasil pemeriksaan diagnosa mengarah ke kanker. Memori saya berkelebat cepat ke beberapa bulan belakangan, masih tercetak jelas raut muka kurang senang ketika saya menawarkan asuransi padanya.

Entah karena menurutnya saya terlalu bersemangat, terlihat memaksa, mengganggu, apapun itu saya sudah tak lagi pedulikan pandangan dia pada saya. Saya hanya bisa mengutuki diri saya mengapa saya tidak memaksanya dengan lebih keras!

Waktu itu Siska bilang bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa mereka sehat-sehat saja, dan sudah ada asuransi dari kantor Roni. Singkat cerita, aplikasi asuransi selalu saya bawa pulang kembali dalam keadaan kosong setiap kali saya bertemu Siska. Bahkan sampai saat ini, mereka tidak pernah memiliki asuransi.

Seminggu yang lalu motor dan perhiasan emas termasuk mas kawin sudah dijual untuk menjalani rawat inap, kemoterapi dan transfusi…

Ini baru 3 bulan sejak pertama kali dia divonis sakit, dan rumah yang telah mereka cicil dalam 24 bulan terakhirpun terancam di-over kredit.

Dan, spontan saya pun menceritakan hal ini kepada teman-teman saya yang juga sahabat-sahabat dekat Roni di kampus dulu. Saya pun membuat inisiatif untuk menggalang dana untuk bisa membantu meringankan beban Roni dan Siska.

“Titip salam aja ya buat Roni…”

Itu yang dikatakan Sandy, Tika, Rendi, Selly, dan Husni pada saya. Mereka berlima sahabat karib Roni.

Dada saya berdesah, “Kawan, salam itu takkan bisa membantu sedikitpun buat dia, tapi mudah-mudahan bisa menguatkan semangatnya bahwa masih ada teman-teman yang menitipkan salam.”

Sebagai agen asuransi, fungsi saya sudah mati di depan dia. Saya sudah tak berguna lagi untuknya. Sebagai sahabatpun saya hanya mampu memberikan jumlah yang tidak banyak dari sisi materi. Selain tentunya kekuatan, dan menyediakan diri untuk mendengar keluh kesahnya tentang keluarga suaminya yang bahkan tak memberikan support moral sekalipun.

Satu hal lagi yang saya bisa bagi dari kisah Roni dan Siska, bahwa sebelum kita sibuk berfantasi dengan rancangan investasi, pastikan asuransi menjadi dasar dari rancangan tersebut.

Dan sampai saat itu tiba, kami akan selalu berusaha keras menjalankan misi kemanusiaan kami sebagai agen asuransi.

Karena kami sayang kalian…

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi