Home > Financial Planning, Life & Business Excellence > Antena Parabola Penentu Masa Depan

Antena Parabola Penentu Masa Depan

“Ma, kok tetangga depan rumah kita bisa punya parabola? Kenapa kita enggak?”

“Karena mama MEMILIH untuk tidak memiliki parabola…”

Jawaban yang cukup membingungkan seorang anak berusia 8 tahun di era 80an ketika TV swasta masih langka dan parabola yang bertengger di atas rumah menjadi merek paten sebuah gaya hidup di masanya.

Butuh 10 tahun untuk membuat si kecil ini paham perkataan mamanya. Ketika saat itu, si kecil yang sudah tumbuh dewasa. Suatu saat di tahun 1994 ketika dia pulang di liburan semester pertamanya di sebuah Sekolah Tinggi Teknologi di Bandung.

“Nak, ingat 10 tahun lalu ketika kau tanya mama kenapa kita tidak beli parabola. Sekarang tanyakan pada mama dimana anak-anak mereka kuliah.”

“Emang dimana ma?”

“Anak-anaknya tidak ada yang kuliah. Waktu itu mama memilih untuk memakai uang yang sebenarnya bisa kita pakai untuk membeli mobil dan parabola untuk ditabungkan buat kuliah kamu…”

Memang sangat sensitif sensor untuk membedakan keinginan , kebutuhan dan kewajiban, ketika dikaitkan dengan masalah keuangan. Sensor itu bahkan bisa ‘error’ ketika kita masuk ke tempat-tempat tertentu seperti mall. Ketika seakan-akan semua benda itu melambaikan tangan dan berkata “MILIKI AKU”

Hidup di negeri yang terlanjur menyimpan kosakata bernama inflasi memang butuh perhatian lebih. Kalau boleh, silakan Anda keluarkan kalkulator apapun dan lakukan eksperimen ringan ini :

Rp.50,000,000,-. Anggaplah ini adalah biaya kuliah yang dibutuhkan tahun 2012. Jika biaya itu naik 10% setiap tahunnya, maka bagi kita yang baru memiliki buah hati tahun ini, maka 18 tahun lagi biayanya akan menjadi Rp. 277,000,000,-.

Caranya :
Tekan angka 50 dikali 1.1, lalu tekan tombol “=” sampai 18x.

Kondisi kita sekarang adalah hasil dari keputusan-keputusan kita 5, 10 bahkan 15 tahun yang lalu. Dan dimana kita akan berada di masa mendatang bergantung pada keputusan-keputusan yang kita buat hari ini.

Perlukah saya senantiasa berganti gadget terbaru?

Haruskah saya membeli kopi di tempat yang harganya sama dengan 20 sachet kopi di warung atas nama gaya hidup?

Perlukah saya makan siang di tempat yang sekali makannya cukup untuk belanja untuk makan tiga kali sebuah keluarga?

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: