Home > Leadership > Nabawi dan Don Diego de La Vega

Nabawi dan Don Diego de La Vega

Qur'an Spanish Translation

Qur’an Spanish Translation

Secercah cahaya panas menyelusup di sela-sela payung raksasa Masjid Nabawi. Tak banyak celah di payung itu, tapi sebuah celah cukup untuk membuat seorang bapak, yang kemungkinan besar berasal dari Turki, kegerahan.

Cercahan sinar itu tepat mengenai kepalanya, yang tak terlalu subur rambutnya, bahasa tubuhnya terlihat tidak nyaman. Tapi bergeser tempat di shaf yang sudah penuh sesak juga bukan perkara mudah.

The Attitude of Life

Saya duduk sekitar 6 meter di belakang Bapak itu, memperhatikan sampai seorang Arab berjarak 3 shaf dari bapak itu menepuknya. Isyaratnya jelas, dia menawari Bapak Turki itu bertukar tempat. Tulus sekali. Terlihat jelas di wajahnya. Subhanallah, indah sekali pemandangan di depan saya itu. Orang yang berwajah sangar itu -yang kalau di belahan dunia lain sering dicap prototipe wajah teroris- nyata sekali memiliki hati sangat lembut. Dia mengorbankan kesenangan dirinya untuk orang lain.

Perjalanan kali ini saya maknai khusus lebih dari ritualitas doa dan bacaan. Ya, tentunya ritualitas itu penting karena beberapa menjadi syarat sahnya ibadah. Tapi lebih luas lagi, saya melihatnya sebagai sebuah sampel bagaimana hubungan antar manusia sebenarnya.

Suatu kali setelah sholat dzuhur, saya menyempatkan membuka mushaf Qur’an kecil yang saya bawa di tas selempang hijau bergambar bordiran Ka’bah. Tas kesayangan saya. Sampai tiba-tiba saya dikejutkan oleh sebuah sandal yang jatuh mengenai ujung dengkul saya.

Ya, seseorang berkebangsaan Mesir menjatuhkannya. Oh iya sekedar informasi, saking luasnya, di masjid Nabawi, orang menaruh sandal atau sepatu mereka di dalam rak-rak khusus di dalam masjid.

Setelah dia mengambil sandalnya, dia memegang pundak saya dan meletakkan tangannya di dadanya tanda meminta maaf. Such a great attitude of life.

Bicara tentang kitab samawi pamungkas ini, kerena masalah keterbiasaan, terus terang merasa geli sekaligus takjub melihat orang bule (baca : barat) memegang kitab suci ini, orang India dengan tindik di hidungnya juga sedang membaca kitab itu, atau orang Jepang dan Cina sedang seksama meniti barisnya. Sampai saya juga menemukan mushaf terjemahan bahasa Spanyol. Saya jadi teringat Don Diego de la Vega, tokoh di balik The Mask of Zorro itu.

Sangat menakjubkan bagaimana kemurnian kitab ini dijaga dengan tetap mencantumkan teks Arab aslinya di seluruh cetakan di seantero jagad ini.

The System of Life

Salah satu magnet Masjid Nabawi , sesuai namanya, adalah makam Rasulullah SAW. Salah satu teman saya sempat nyeletuk sambil manggut-manggut dengan bahasa sehari-hari ,”Hebat ya Rasulullah, beliau sudah meninggal 15 abad lalu, tapi sistemnya dipakai sampai sekarang.”

“Benar juga kamu, pinter ya kadang-kadang…hahaha.”, komentar saya

Ketika saya biasa beribadah di tanah air, kita merasa biasa karena semua orang menjalankan tata cara yang sama. Tapi ketika Anda beribadah di al-Masjid al-Nabawi , suasananya akan sangat berbeda. Anda akan dibuat takjub ketika melihat puluhan ribu orang sholat dengan cara yang SAMA!

Bangladesh, Pakistan, India, Kanada, Mesir, Yaman, Turki, Indonesia, Cina, Jepang, Australia, Inggris, Amerika Serikat. Semua dengan gaya pakaian masing-masing, namun bergerak dan membaca bahasa yang sama.

A True Leader

Semua tata cara itu terduplikasi dengan baik dalam 15 abad ini. Menyebar ke seantero negeri dengan bacaan yang sama persis. Dengan waktu pelaksanaan yang kriterianya sama persis.

Tak cukup di ritualitas ibadah…
Gerak-gerik dan perkataannya sehari-hari terdokumentasi dengan detil dan spesifik. Membuat kita di era Millenium ini bisa sedikit membayangkan pribadi sempurna ini. Seorang pembawa risalah, ayah, suami, kakek, guru, panglima perang, negosiator, hakim dan pedagang. Ah, tak cukup kosakata untuk menggambarkan beliau. Karena Sang Pencipta Jagad sendiri yang berfirman bahwa dalam dirinya ada suri tauladan terbaik.

Tak heran kalau banyak orang yang menitikkan air matanya ketika melintasi kubah hijau, persinggahan terakhir jasad Sang Utusan itu.

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

Categories: Leadership Tags: , ,
  1. 13 April 2012 at 05:36

    subhanallah, pengen ke sana juga..

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: