Kursus di Tikungan

Pejaten, 25 Mei 2012

Di sebuah tikungan yang setiap pagi saya lewati dengan motor ketika mengantarkan anak saya sekolah, seperti biasa saya ambil haluan untuk membelok ke arah kiri.

Dan kali ini aksi membelok saya dibarengi dengan suara klakson yang cukup keras dari sebelah kanan saya. Saya rem mendadak, menunda untuk membelok. Seseorang dengan motor memalingkan kepalanya pada saya sambil memacu motornya di depan saya. Tengokan kepala dengan tatapan nanar, khas orang Jakarta, yang kalau diterjemahkan kira-kira akan berbunyi :

“Kalau mau belok lihat-lihat kanan kiri dulu dong, jangan main belok. Emang jalan punya loe sendiri aja”

Continue reading “Kursus di Tikungan”

Advertisements

Sekuel Akhir Sebuah Cerita : Ketika Agen Asuransi Benar-Benar Berhenti Mengejar Anda


Jakarta, 17 Mei 2012 jam 02:00 WIB
Anda mungkin ingin membaca kisah ini sebelum melanjutkan sekuel akhir kisahnya di bawah ini
Silakan KLIK DISINI untuk membacanya…

Hanya bulan berselang setelah Roni terdiagnosa kanker. Dia meninggal dunia.

“Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun
Semua berasal dari Tuhan dan kelak akan dikembalikan kepada-Nya

Siska dan anak-anaknya, yang sudah tidak dinafkahi Roni sejak terakhir saya jenguk, sudah pindah ke rumah orang tuanya. Sejak Roni sakit, tak ada lagi biaya untuk mereka melanjutkan hidupnya. Terutama setelah aset-aset utama mereka seperti rumah dan mobil sudah dijual untuk biaya berobat beberapa bulan saja.

Continue reading “Sekuel Akhir Sebuah Cerita : Ketika Agen Asuransi Benar-Benar Berhenti Mengejar Anda”

Tak Perlu Menjadi Tumin, Martini dan Jackie!

Roma, 5 Mei 2012

(Nama, peristiwa dan kondisi dalam kisah ini hanyalah fiktif belaka, apabila ada kesamaan nama, latar belakang dan peristiwa, maka itu adalah murni sebuah kebetulan belaka)

“Wajarlah si Tumin berhasil, dulunya dia susah. Orang susah biasanya semangat juangnya lebih tinggi. Sedangkan kita-kita ini kan dari dulunya gak susah-susah amat”

“Oh, Martini…dia itu kan bidan. Bidan itu pasti banyak kenalannya. Dan pasti kenalannya baik sama dia, soalnya dulu sudah bantu persalinannya. Lha saya, cuman karyawan yang urusannya sama komputer. Gimana mau punya kenalan?”

“Oh, bapaknya Jackie kan orang kaya, pastilah teman-temannya juga kaya. Pasti lebih mudah untuk dia mendapatkan klien-klien kaya itu. Sedangkan saya? Boro-boro punya teman kaya, malah mereka pada pinjem duit sama saya”

Continue reading “Tak Perlu Menjadi Tumin, Martini dan Jackie!”