Home > Life & Business Excellence > True Story : Salam Dari Pak Heri

True Story : Salam Dari Pak Heri

Kisah di bawah ini saya dapatkan dari seorang teman, dia minta saya untuk menceritakan kisah ini kepada Anda semua. Dia kirimkan emailnya pada saya, dan inilah kisah pengalaman pribadi yang dialaminya. Sebut saja namanya Wati, seorang agen asuransi. Saya coba ceritakan kembali pada Anda apa yang diceritakan Wati pada saya.

Pak Heri dan Pangkalan Buburnya

Di komplek kami, ada seorang tukang bubur keliling, yang sangat digemari ibu-ibu. Mengapa digemari, karena menurut pengalaman para penggemarnya, buburnya baik untuk balita, tidak mengandung penyedap rasa….

Pak Heri, nama Bapak penjual bubur itu, selalu sibuk untuk diajak bicara, sampai suatu hari ketika  buburnya telah habis jam 9 pagi, dan Wati berkesempatan untuk membuka pembicaraan padanya tentang asuransi.

Diam-diam, ternyata Pak Heri memang punya sekelumit pemikiran tentang perlindungan dan masa depan keluarganya. Jadi dia sebenarnya sudah berniat untuk memiliki polis asuransi ketika sebelumnya ada agen yang pernah menawarkan rekening ini.

“Hanya saja, saya pikir setoran perbulannya harus 1 juta rupiah, seperti yang disebutkan agen yang dulu. Kalau Rp 300.000,-/bulan saya mau banget.”, kata Pak Heri.

Ternyata untuk bisa diterima sebagai nasabah, beliau dinyatakan perlu wawancara kondisi kesehatan terlebih dulu. Beruntungnya dokter dari pihak asuransi ini mau datang untuk memeriksakan kesehatan Pak Heri di pos satpam dekat tempat Pak Heri biasa mangkal. Singkat cerita, Pak Heri diterima sebagai nasabah.

Lima bulan berlalu cepat, Pak Heri selalu rajin setor premi bulanannya dengan uang-uang  lecek dari pembelinya, beberapa lembar uang sepuluh ribuan dan kadang juga lima ribuan. Bulan berikutnya, tidak seperti lima bulan sebelumnya , Pak Heri tidak setor di hari yang ditentukan, dan sampai batas jatuh tempo bulan berikutnyapun beliau tak kunjung membayarkan preminya. Ternyata beliau tidak terlihat berjualan.

Wati langsung beringsut pergi  ke rumah kontrakannya, menurut tetangganya beliau sakit dan pulang kampung. Tapi tidak ada yang tahu pasti dimana tempat tinggalnya di kampung, cuma ada seorang tukang bakso, yang bisa menceritakan letak rumah Pak Heri di sebuah kota di Jawa Tengah, tanpa bisa menyebutkan alamat tepatnya.

Wati menceritakan hal ini kepada atasannya, Wati bersama sang atasan lalu bahu membahu patungan untuk membiayai perjalanan Wati ke Jawa Tengah dan membayar premi yang  tertunggak untuk menjaga kelangsungan perlindungan asuransinya. Dengan berbekal misi untuk membantu pak Heri, Watipun berangkat, memulai perjalanan mncari alamat Pak Heri di kampung. Berbekal pengalaman sebagai agen, modal banyak bertanya kepada siapapun yang dia temui, akhirnya Wati menemukan rumah Pak Heri.  Wati menemukan Pak Heri dalam kondisi setengah sadar, karena sudah sakit parah, tapi takut berobat ke rumah sakit.

Ya, takut.
Keluarga beliau takut. Bukan karena apa-apa, karena mereka takut tidak memiliki biayanya. Jadi terpaksa selama Pak heri sakit, dia berobat ke pengobatan alternatif saja. Lalu setelah Wati, bercerita tentang rekening asuransi yang telah dibeli Pak Heri, akhirnya keluarga membawa pak Heri ke rumah sakit. Beberapa hari beliau di rumah sakit, ternyata dokter menjatuhkan diagnosis tumor otak pada Pak Heri.

Wati sempat bercerita bahwa waktu itu sampai dia tidur di rumah sakit, menunggu dokter selesai mengisi formulir  klaim yang dibutuhkan oleh perusahaan asuransi penerbit polis Pak Heri.
Dan di bulan berikutnya, Wati bercerita tentang kebahagiaannya. Betapa tidak? Karena perjuangan Wati ke Jawa Tengah tidak sia-sia. Pengajuan klaim Pak Heri disetujui, polisnya dinyatakan bebas premi dan perusahaan asuransi yang akan melanjutkan pembayannya.

Dengan santunan klaim kondisi kritis dan rawat inap dari perusahaan asuransi tersebut, Pak Heri mendapat perawatan yang baik di rumah sakit terdekat dari kampungnya. Cukup, bahkan lebih hingga bersisa utntuk biaya sekolah anaknya. Alhamdulillah, ternyata beberapa bulan kemudian, Pak Heri dinyatakan sehat dan sudah muncul berdagang lagi walaupun beliau bilang bahwa beberapa jari kiri masih kebas. Tapi sekarang dia punya asisten dan pelanggannya sudah jauh lebih banyak lagi..

Setiap hari, beliau selalu semangat dan bahagia melayani pelanggannya, dan dia sering bercerita pada pelanggan-pelangganya,  “Beruntungnya punya rekening asuransi, meringankan beban saya, dan sampai saat ini saya masih dikirim terus lho sama perusahaan asuransi. Ini kemarin saya ambil utk untuk membeli tenda untuk memperluas pangkalan bubur saya, Alhamdulillah”

Dan Watipun menutup ceritanya dengan perasaan bahagia dan kebanggaan bisa berbagi

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

  1. faridah
    1 July 2012 at 13:36

    Izin share ya pak…..

  2. Henny
    2 July 2012 at 12:16

    ijin share ya pak gusnul,,,

  3. Daniel
    1 October 2012 at 22:33

    Izin share yah pak…

  4. 24 December 2013 at 16:02

    Bnr gak ini trie story?nabung 300 rb dapat cc brp?hs berapa?waiver brpa?

    • 24 December 2013 at 16:11

      Insya Allah benar. Itu foto beliau. Dan saat inipun beliau masih berjualan. Informasinya tentang benefitnya tidak mungkin saya share karena sifatnya confidential untuk kepentingan nasabah

  5. 24 December 2013 at 16:50

    Saya tidak menanyakan nominal.tpi logika saya,nabung 300 rb usia segitu,hs paling plan a,cc gak lbh dr 20jt,waiver 200rb an.tumor otak wow gede pastinya,sy gak tahu beliau di fonis itu std brpa,kalo awal gak mungkin cc turun,kalo std akhir luar biasa msh bisa jualan.

    Dan dr kisah diatas menunjukkan agen nya tidak profesional,sampe nasabah sakit gak berani klaim tkut biaya,padajl dia pny asuransi.
    La agen jelasinnya gmna? Cerita yg lucu buat saya

    • 24 December 2013 at 16:56

      Terima kasih atas perhatiannya, insya Allah kita bisa mengambil hikmah terbaik dari kisah ini dan bisa membuat diri kita lebih bermakna

      Barakallahu Fiik

  6. 24 December 2013 at 16:51

    Foto tdk menjamin sbg kebenaran mas,iklan juga pake foto kok,tpi gak semua pemain iklan pakai producknya bukan

  7. 24 December 2013 at 18:05

    Tali saya sangat senang dan support blog ini,mungki penulisan kisahnya yang berlogika sehingga bisa membawa nilai positif buat semua

    • 24 December 2013 at 18:25

      Terima kasih banyak atas supportnya.

      Insya Allah itu benar adanya foto dan kisah beliau, saat ini beliau masih bisa ditemui di salah satu perumahan di daerah Depok. Sahabat-sahabat kami para agen dari sebuah agency sebuah perusahaan asuransi di Depok yang mencari dan mendatangi beliau di rumahnya.

      Program kesehatan yang beliau miliki adalah dari sebuah perusahan asuransi dengan tipe reimburse, bukan yang rekanan dan tentunya dikaitkan dengan biaya perawatan di daerah (bukan jakarta)

      Salam sukses dan terima kasih
      Semoga pembahasan ini tetap bisa membawa nilai positif seperti yanh diharapkan bahwa berasuransi itu murah

  8. 26 December 2013 at 01:19

    Reimbuse atau rekanan tdk mempengaruhi biaya pengobatan mas

    • 26 December 2013 at 01:25

      Sepakat. Itu mempengaruhi preminya ya mas…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: