Kantor Saya Baik, Saya yang Kurang Pintar :)

Dulu… tahun 2002,

This slideshow requires JavaScript.

Saya pernah bekerja di sebuah perusahaan subkontraktor telekomunikasi dengan gaji Rp. 1,750,000,- perbulan. Buat seseorang yang baru pertama kali bekerja, ya itu angka yang sesuatu banget kali ya. Dan waktu itu saya juga tidak ambil pusing dengan jumlah itu, yang penting saya bekerja dan gajian. Tapi belakangan, saya coba melihat-lihat lagi surat kontrak kerja saya dengan perusahaan itu, dan ternyata gaji saya itu ada perinciannya lagi :

1. Gaji Pokok : Rp. 1,000,000,-
2. Tunjangan Transport : Rp. 500,000,-
3. Tunjangan Kesehatan : Rp. 250,000,-

Kalaupun saya sudah membaca perincian ini waktu dulu, saya pun juga tidak perdulikan perincian itu.  Mungkin ada beberapa dari kita yang bekerja di tempat yang memberikan gaji dengan komposisi seperti yang saya alami di atas, bukan hal yang aneh. Yang aneh dan lucu adalah : Saya menganggap komponen nomor 3 (tunjangan kesehatan) sebagai gaji. Layakya gaji, saya bisa saja habiskan untuk beli barang konsumsi, atau sekedar saya taruh di bank, dan mungkin bisa saja saya pakai untuk hang-out bersama teman-teman di mall atau bioskop.

Lho kok lucu?

Ya…itu karena saya tidak mau disebut bodoh. Hehehe… Betapa tidak? Orang pintar mana yang menganggap tunjangan kesehatannya sebagai gaji dan justru menggunakannya untuk konsumsi. Baru saya sadari bahwa perusahaan saya itu sangat luar biasa, mereka ingin membuat saya ‘berpikir’. Ya, berpikir untuk menemukan cara bagaimana membuat tunjangan kesehatan senilai Rp. 250,000 perbulan itu menjadi berarti. Sekarang coba pikirkan, kalau saya sakit, Rp. 250,000 itu cukup untuk konsultasi dokter dan mendapatkan obat, jadi saya masih boleh sakit sebulan sekali.

Itu kalau rawat jalan, bagaimana kalau rawat inap?

Niscaya Rp. 250,000 hanya cukup untuk mendapatkan sebuah kamar rawat kelas 3 yang berisi 2 – 4 tempat tidur pasien. Jadi, darimana saya harus bayarkan biaya kunjungan dokter dan biaya obat, infus dan semua alat pendukungnya? Jadi apa yang harus saya lakukan dengan uang yang sedikit itu? Hmm…itu belum bisa saya temukan jawabannya dulu, tapi saat ini saya boleh berikan jawabannya untuk Anda yang punya masalah serupa dengan saya waktu itu : “Belilah asuransi kesehatan syariah!”

Lihatlah apa yang bisa saya dapatkan dengan Rp. 250,000 itu ketika saya berusia 25 tahun dulu
1. Biaya Kamar Rawat 500 ribu sehari ;
2. Operasi sampai Rp. 150 juta setahun ;
3. Obat-obatan hampir Rp. 10 juta , dan ;
4. Rawat jalan Rp. 4.5 juta.

Saya bergumam , “Tapi kalau saya sehat-sehat saja , saya kehilangan Rp. 250,000 perbulan itu dong? Rugi dong saya…”

Hmm, tapi setelah saya berpikir sedikit lebih dalam : kalau saya sehat-sehat saja artinya ‘kerugian’ maksimal saya adalah Rp. 3 juta bukan? Jadi saya tinggal berusaha sedikit lebih untuk mendapatkan penghasilan tambahan Rp. 3 juta setahun, bisa dengan lembur atau jualan baju. Lagipula karena asuransinya syariah, kalau saya sehat-sehat saya, artinya premi saya justru untuk bersedekah ke nasabah lain yang sakit. Jadi kalau mau bawa-bawa sakit hati, saya tidak sakit-sakit amat karena saya tahu, bahwa ada orang yang memanfaatkan premi yang saya bayarkan.

Nah, Kalau saya tetap simpan Rp. 250,000 di rekening bank untuk jajan, maka saya justru menghadapi kemungkinan biaya tak terhingga kalau saya ditakdirkan Tuhan untuk sakit, mungkin Rp. 250,000 x 12 bulan = Rp. 3 juta tidak cukup untuk sekali rawat inap.

Kalau gitu, saya akan sumbangkan saja, Sedekah itu obat segala penyakit dan penolak bencana

Saya meyakini mutlak pernyataan tersebut, karena janji Tuhan ada di dalamnya. Tapi saya juga meyakini ada hal-hal yang menjadi ranah ikhtiar kita. Saya memikirkan kejadian-kejadian sederhana seperti ini untuk menjadi bahan diskusi para pembaca sekalian :

Karena sudah bersedekah, apakah kita bisa dengan tenang membiarkan pintu pagar kita terbuka ketika kita tidur?
Karena sudah bersedekah, apakah artinya kita boleh menyeberang jalan tanpa melihat kanan kiri untuk memastikan jalan yang akan kita seberangi kosong?
Karena sudah bersedekah, apakah kita bebas untuk makan apa saja karena mengharap sedekah kita akan menolak sakit?Jadi, di antara sedekah dan ikhtiar itu perlu menggunakan kata ‘dan’ , bukan ‘atau’.
Kita bersedekah sebelum perjalanan jauh mengharapkan perlindungan-Nya, dan kita juga berikhtiar melindungi diri kita dengan menggunakan sabuk pengaman. Kalau ternyata sudah memproteksi diri sedemikian rupa dan tetap saja tertimpa musibah, maka kita pasrahkan semua pada Tuhan.

Dan kembali ke kantor….

Ternyata perusahaan saya ingin saya berpikir : “Apa yang bisa saya lakukan dengan Rp. 250rb untuk mendapatkan santunan kesehatan diri kita sendiri.

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

  1. 13 July 2012 at 08:36

    pemikiran yang luar biasa maju, jadi tidak ada ruginya memberikan 250rb ke asuransi syariah,. sangat inspiratif,.

  2. sudarno
    24 October 2013 at 10:28

    Luar biasa cukup bisa membuka pola pikir untuk berasuransi,,semoga bermanfaat bs u bercerita,,tks pak

  3. dian k dewi
    26 October 2013 at 23:30

    izin share bapake

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: