Home > Life Insurance Business > Para Penyedot Uang Anda (Bagian 2 – Tamat) : “Kue Moci 20 Milyar”

Para Penyedot Uang Anda (Bagian 2 – Tamat) : “Kue Moci 20 Milyar”

“Siapa yang barusan transfer 15x gaji saya waktu kerja ke rekening saya? Ayo Ngaku!”

Selamat pagi saya sampaikan dari lambung Trans Jogja, Salam dari Jogja…

Hari ini insya Allah saya berada di Yogyakarta dan Magelang untuk berbagi kisah perjalanan bisnis kami untuk rekan-rekan di sana

Entah kenapa saya teringat dengan pembicaraan saya via BlackBerry Messenger (BBM) beberapa waktu lalu dengan salah satu teman saya. Sesudah saya update kalimat diatas sebagai status BBM saya sore itu, dan beberapa teman merespon status itu. Maklumlah, semenjak berhenti gajian, penghasilan ini tidak pernah tetap. Naik turun gak jelas.

Diki (nama samaran), menyambar masuk di layar japri BlackBerry Messenger saya

*start of chat*

Diki  : “PING!! Lg promo abis terima bonus nih kyknya. Btw kl blh tahu 5 thn belakangan brp nul sebulan?”

Gusnul : “Hmm, Dulu terakhir gajiku 6.5 juta sebulan di kantor. Jadi brp ya kira-kira ?”


Diki : “Rp. 6,5 juta waktu di perusahaan itu ?”


Gusnul  : “Iya…”


Diki : “Gw pengen bisnis sih tp gak ada modal om…”

Lha, gimana ini? Tunggu dulu, ada yang saya belum sampaikan bahwa Diki ini sudah terdaftar juga menjadi tenaga pemasar asuransi syariah seperti saya. Artinya secara status, dia adalah seorang self-employed professional. Ok, kita lanjutkan chatingnya🙂

Gusnul : “Modal? Maksud loe Duit?”

Diki : “Yoi…”

Gusnul  : “Lha, Sejak kapan bisnis butuh modal duit? Rasulullah pertama kali bisnis gak pake duit. Tapi jualin produk orang lain”

Diki : “Iya sih,kl blh tahu selain bisnis asuransi skrg jalanin apa aja nul ?”

Gusnul : “Gak ada bro. Udah paling joss. Malah sebelum sebelum ini gw banyak jalanin bisnis. Gw bisnis sprei, konveksi,rental PS, pulsa, baju anak, calo catering.”

Diki : “Hahaha…skrg tinggal asuransi aja ya? Tp mantap pastinya perjalanannya akhirnya mutusin di bisnis yang sekarang.”

Gusnul  : “Iya…Dan ternyata paling challenging diantara semua bisnis.”

Diki  : “Kdg2 gw msh ngerasa asuransi not the best choice, kdg ngerasa knp harus asuransi, knp gak yg lain?”

Gusnul  : “Karena elu pengen jalanin bisnis konvensional spt jualan barang dulu kali ya? Gpp juga sih…Gw juga dulu ngelewatinnya. Asuransi bisnis ke 7 gw.”
 
Diki: “Satu pertanyaan nul,knp gw hrs milih bisnis asuransi ini kl sebagian premi gw buat bayar agent, knp gak yg lain ?”

Jlegeerrr!!!
Nah, ini nih pertanyaan yang saya tunggu-tunggu, the mother of all question. Saya gak ngerti darimana orang mendapatkan ide untuk melontarkan pertanyaan seperti ini? Masih ingat kan contoh-contoh yang saya gambarkan di tulisan yang pertama? Nah, kalau belum baca tulisan yang pertama, dipersilakan mampir dulu ke SINI

Ok, kembali ke percakapan saya dan teman saya Diki,


Gusnul 
: “Kenapa elu harus berpikir kayak gitu bro?”

Diki  : “Kan gw memposisikan diri spt calon nasabah?”

Hehehe, informasi tambahan : Diki ini nasabah saya, jadi ternyata dia berpikir bahwa preminya untuk kasih makan saya. Padahal emang iya. Hehehe…. Maksud saya, apa ada yang salah dengan itu. Coba perhatikan ini :

Gusnul  : “Oh gitu, btw elu ‘cuman ngasih’ 7% buat agen, sedangkan sama tukang teh botol elu mau keluarin 53%. It’s a cost – benefit tradeoff. Hidup ini sejatinya untuk saling menguntungkan kan?”

Tunggu-tunggu, tapi kan yang terkenal menjadi serangan para perencana keuangan independen itu kan 30%! Kenapa dibilang ‘cuman ngasih’ 7%?


Diki : “Statement pertama gak ngerti,knp tukang teh botol 53%?”

Gusnul  : “Modal teh botol itu 1300 dari distibutor sebelum diecer 2000. Itu marginnya 53%
Belum lagi kalau dijual 3000, berarti marginnya 100% lebih, jadi siapa yang harus menanggung margin keuntungan pengecer itu?”

Diki : “Hehehe…kitalah, pembelinya”

Gusnul  : “Artinya elu yang kasih dia makan kan?

Sedangkan agen :

30% x Porsi Premi Bulanan x 24 bulan
5% x Porsi Premi Bulanan x 36 bulan
3% x Porsi Investasi Bulanan x 120 bulan

Jadi jika premi total bulanan 500rb, maka dalam 10 tahun nasabah akan membayarkan 500rb x 12 x 10 tahun = Rp. 60,000,000,-

Misalkan pembagiannya :
350rb Porsi premi bulanan
150rb Porsi investasi bulanan

Maka komisi yang diterima :
A. 30% x 350,000 x 24 bulan (th 1 – 2)
B. 5% x 350,000 x 36 bulan (th 3 – 5)
C. 3% x 150,000 x 120 bulan (th 1 – 10)

Hasilnya :
A. 2,520,000
B. 630,000
C. 540,000
—————– +
TOTAL : Rp. 3,690,000,-

Maka margin ‘keuntungan’ sang agen :

3,690,000
——————- = 6.15%
60,000,000

Dibulatkan ke atas, menjadi 7%. Dan saya harus melayani nasabah saya sepenuh hati, membantu keperluan-keperluannya yang berkaitan dengan polisnya. Seumur hidup.

Diki  : “Tapi kan orang beli teh botol langsung dapet manfaatnya.”

Gusnul  : “Bener sih, dan paling gak sampai sehari udah keluar lagi jadi pipis. Sama aja kalau minum air putih, keluarnya jadi pipis juga hehehe.”

Diki  : “Hehehe, ya kan asuransi kita dapetin manfaatnya belakangan, kadang-kadang malah bukan kita yang nikmatin.”

Gusnul  : “Elu bener, mari kita maknai manfaat yang tidak kita nikmati itu. Kita mendapatkan proteksi Rp. 250,000,000,- untuk keluarganya bertahan hidup. Jika keluarganya sudah kecukupan, kalau jumlah itu diwakafkan, berapa dai yang bisa dibiayai dakwahnya, berapa guru yang bisa dihidupi, berapa murid tak mampu yang bisa sekolah, berapa desa yang kita bisa aliri listrik, berapa orang yang kita bisa bantu kehidupannya.”

You are in the business of helping others ..
The commision is just the effect…

Diki  : “Gw kurang yakin sama itungan lu tadi, kalau emang marginnya sekecil itu, trus darimana agen-agen asuransi itu bisa punya penghasilan sampai ratusan juta sebulan?”

 

KISAH KUE MOCI 20 MILYAR

Teman saya bisnis kue moci, tau kan? Gula, aci ama tepung plus sedikit kacang dibuntel2.

Sebulan omsetnya 2 milyar.
Aneh? Enggak lah, karena dia punya 100 outlet, 1 outlet omsetnya 20 juta sebulan

Kalau dia punya untung bersih 50%, wajar dong kalau income dia 1 milyar sebulan! Setahun 12 milyar! Dan gak ada tuh pembelinya yg protes duit dia dipake untuk keuntungan si tukang moci.

Nah…Bro,Bagusnya elu tanya ama gw, “Bro, elu punya berapa “outlet?“. Pemiliknya gak harus jualan di outlet2 itu kan? Dia bisa suruh orang. Itu namanya sistem. Jadi dari tukang moci kita belajar bahwa bisnis harus punya sistem. Dan berikutnya, elu boleh nanya lagi ,”Bro, berapa lama elu bangun “outlet-outlet” itu sampai dapat income ratusan juta sebulan?

Diki  : “Emang berapa lama?”

Gusnul  : “Delapan tahun bro…”

Diki :  “Idih, lama bener ya. Gw gak bakal tahan kali ya, gw kan gak tahan banting kayak elu”


Gusnul : ” Tenang, elu tahan banting kok, buktinya udah 10 tahun kerja di sini digaji 10 juta sebulan dengan kerjaan yang tambah banyak dan gaji gak naik-naik aja elu kuat dan ikhlas. Jangan merendah gitu ah…”

*end of chat*

Berbisnislah dengan etos kerja seorang karyawan , disiplin dalam waktu dan padat dalam karya. Insya Allah Anda berhasil dalam berbisnis.

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

  1. Susan
    5 August 2012 at 10:21

    Thanks for sharingnya. Be blessed!

  2. 5 August 2012 at 18:00

    ijin share ya Pak …

  3. YULIANA
    10 October 2012 at 21:36

    IJIN SHARE YA PAK

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: