Menikahi Ibu Sendiri


 “Ah sama saja syariah sama konvensional, itu cuman namanya aja.”
“Lebih ribet dan lebih mahal.”
“Sudah pak….ambil yang kredit konvensional aja, saya saja pusing sama yang syariah ini.”


Syariah itu adalah ‘segelondongan’ aturan yang diturunkan lewat Qur’an dan Sunnah. Muamalah – hubungan manusia dengan sesama makhluk –  dalam ekonomi kontemporer sering menggunakan kata ‘syariah’ ini untuk melabeli produk yang diluncurkan oleh institusi terkait. Sebut saja bank ‘syariah”, asuransi ‘syariah’, reksadana ‘syariah’ sampai pegadaian ‘syariah’

Dalam konteks muamalah, prinsip yang berlaku adalah ‘semua diperbolehkan, kecuali yang dilarang‘, berkebalikan dengan prinsipnya ibadah, yaitu ‘semua bentuk ibadah dilarang, kecuali yang ada tuntunannya‘.

“Syariah adalah hukum-hukum yang diturunkan oleh Allah untuk mengatur hubungan antara manusia dengan Allah (ibadah) dan antara manusia dengan sesama makhluk (muamalah)”

Nah, udah gitu para ulama lalu melakukan penerjemahan dan penafsiran syariah (baca : Qur’an dan Sunnah) ke dalam banyak hal, sering kita kenal sebagai Fiqh (di Asia sering disebut fikih atau fiqih). So, karena produk-produk finansial yang muncul saat ini adalah hasil dari penafsiran-penafsiran ulama atas syariah, sehingga muncul wujud-wujud muamalah baru dalam banyak hal, termasuk dalam hal ekonomi (ingat, muamalah tidak sama dengan ibadah, kreativitas sebebas-bebasnya diperbolehkan, asalkan berdasar syariah dan tidak dilarang)

Perbedaan istilah antara Syariah dan Fiqh:
Fiqh adalah hukum yang sudah mendapat sentuhan ijtihad
ulama
, sedangkan Syariah adalah hukum yang diperoleh langsung dari Al Qur`an atau Sunnah

Jadi,
Produk-produk muamalah dalam bidang finansial sekarang ini lebih tepat disebut seperti : bank ‘fiqh’, asuransi ‘fiqh’ dst. Hehehe, tapi jadi lucu mendengarnya ya, karena kita sudah terbiasa menggunakan kata syariah. Okelah, yang penting kita tahu sama tahu aja deh.

ASURANSI ‘FIQH’ SYARIAH

Satu konsep dasar yang dilarang dalam muamalah jual beli adalah gharar, yaitu ketidakjelasan atau ketidakpastian. Dalam konteks asuransi konvensional, cacat konsep ini terlihat di balik akad jual beli yang terjadi ketika kita membayarkan premi. Terjadi risk transfering dari kita ke perusahaan asuransi.

Kok bisa cacat? Begini ceritanya….
Salah satu rukun jual beli adalah barang yang dijual, jumlah dan harganya. Jika yang kita dapatkan dari premi Rp.250,000,- perbulan adalah perlindungan asuransi senilai Rp. 100,000,000,-. Seperti apa bentuk fisik si ‘perlindungan’ ini, kapan uang sebesar itu di terima? Ketika meninggal. Kapan meninggalnya? Tidak jelas. Ini akibat dari akad Jual beli.

Nah, Ide dasar asuransi ini adalah kemanfaatannya, setuju kan? Maka dicarikanlah akad yang bisa menggantikan akad jual beli itu. Yaitu akad tabarru. Dengan akad ini, peserta membayarkan premi ke rekening tampung yang dinamai rekening tabarru. Karena akadnya tabarru, maka konsepnya Risk Sharing, maka tidak ada proses jual beli antara nasabah dan perusahaan asuransi, melainkan saling tolong menolong antar peserta asuransi.

Kenapa Asuransi Konvensional dilarang :
(contributed by Pak Puarman from http://asuransihalal.wordpress.com)
1. Pada transaksi asuransi konvensional terdapat  gharar (ketidakpastian), dimana tidak diketahui siapa yang akan mendapatkan keuntungan atau kerugian pada saat berakhirnya periode asuransi.
2. Di dalamnya terdapat riba atau syubhat riba. Dimana seseorang yang membeli polis asuransi membayar sejumlah kecil dana/premi dengan harapan mendapatkan uang yang lebih banyak dimasa yang akan datang, namun bisa saja dia tidak mendapatkannya. Jadi pada hakekatnya transaksi ini adalah tukar menukar uang, dan dengan adanya tambahan dari uang yang dibayarkan, maka ini jelas mengandung unsur riba, baik riba fadl dan riba nasi’ah.
3. Asuransi ini termasuk jenis perjudian (maysir), karena salah satu pihak membayar sedikit harta untuk mendapatkan harta yang lebih banyak dengan cara untung-untungan atau tanpa pekerjaan. Jika terjadi kecelakaan ia berhak mendapatkan semua harta yang dijanjikan, tapi jika tidak maka ia tidak akan mendapatkan apapun.
Melihat ketiga hal di atas, dapat dikatakan bahwa transaksi dalam asuransi konvensional yang selama ini kita kenal, belum sesuai dengan transaksi yang dikenal dalam fiqh Islam. Asuransi syari’ah dengan prinsip ta’awunnya, dapat diterima oleh masyarakat

APAKAH SPEKULASI ITU (SELALU) BERJUDI?

“Katanya syariah, kok bisa naik turun gak jelas, sama aja dong gambling alias spekulasi”.

Poin lain ‘koridor’ syariah untuk muamalah adalah maisir, alias judi. Lho, berarti Rasulullah dulu penjudi juga dong, ketika membawakan dagangan Khadijah ra. Apakah yakin bahwa dagangannya akan laku? Tidak kan? Berarti Rasulullah berspekulasi dong?

Teman-teman,
Ini yang membedakan maisir dan fiqh syariah berkaitan dengan spekulasi dalam jual beli. Dalam jual beli, ketika kita membayarkan sesuatu, maka kita harus menerima kompensasi dari apa yang dibayarkan. Misal : saya bayar Rp. 5 juta dan saya mendapatkan barang. Kalau dagangan laku dan untung, itu ‘Alhamdulillah’, tapi kalaupun tidak laku dan belum untung, barang dagangannya masih ada bukan? Nah, kalau premi asuransi konvensional gimana dong , kan barangnya gak ada? Waktunya juga belum pasti. Iya Kan?

Sama dengan kalau kita berinfaq di meja judi, hehehe infaq kok di meja judi. Ternyata infaq itu berarti membelanjakan, jadi bisa di mana saja, tentunya disarankan membelanjakannya di jalan yag baik dong ya. Kembali ke meja judi….ketika kita bertaruh mengeluarkan 500ribu. Maka apa kompensasi dari uang yang kita keluarkan. ‘Kesempatan Menang’? Apa wujudnya si kesempatan itu? Gak jelas…

Jadi kesimpulannya, spekulasi dalam dagang itu boleh. Termasuk saham atau properti, karena ketika kita membeli saham, kita mendapatkan kompensasi wujud berupa bukti kepemilikan saham. Tapi tidak demikian untuk index dan futures. Karena keduanya tak lagi berwujud🙂

SYARIAH DI INDONESIA BELUM JELAS , CUMA LABEL SAJA
SAYA MENDING PILIH KONVENSIONAL AJA, SAMA AJA…

Naah, ini jawaban yang paling sering saya dapatkan ketika berdiskusi dan mengajukan survei tentang syariah. Hmmm, gini deh….

Anggaplah Anda sedang berada di luar negeri, sebagai muslim Anda dihadapkan dua hidangan : yang pertama berbahan dasar babi, dan hidangan kedua berbahan dasar ayam tapi tidak ada label halalnya. Artinya kita tidak tahu bagaimana ayam ini diproses. Dan hari itu, itulah makanan yang tersedia, Anda mau pilih makanan yang mana?


ORANG LEBIH SUKA ‘MENIKAHI IBU SENDIRI’

Rasulullah SAW : “Dosa riba ada 70 tingkatan, dan tingkatan terendahnya setara dengan dosa seorang lelaki yang menikahi ibunya sendiri

Ada beberapa hadits lain dengan message serupa, ada yang menyebutkan bahwa riba ada 73 tingkatan dosa, ada yang menyamakan dosa teringannya setara dengan 36 kali berzina dengan pelacur. Silakan dibrowse sendiri di Google yaa…

Tapi messagenya satu :
Allah dan Rasul-Nya memerangi riba

“Riba itu kan (hanya) bunga bank saja”
Ini yang paling sering terucap ketika ditanyakan apakah itu riba. Ya, bunga bank itu salah satunya. Saya berikan satu contoh. Saya berhutang uang 1 juta pada Mas Wawan, tapi mas Wawan bilang, “Boleh, asal kamu pijitin aku dulu ya..”. dan pada saat  pengembalian, saya kembalikan kepada Mas Wawan uang 1 juta. Ini Riba!! Namanya riba nasi’ah alias riba dalam hutang piutang. Karena ada manfaat yang ditentukan di awal dari transaksi ini, yaitu pijatan. Hal yang sering sekali terjadi di masyakarat.

“Setiap hutang piutang yang menarik MANFAAT adalah riba”

Untuk lebih menajamkan sense kita tentang riba kita berkuis ria, silakan jawab dengan comment tulisan ini

Apakah ini Riba?

1. Zul berhutang pada Fauzan, Fauzan meminta jaminan surat kepemilikan tanah Zul
2. Aria berhutang pada Mira, dengan perjanjian Aria membantu mengerjakan pekerjaan Mira
3. Doni berhutang pada Ani, dengan syarat biaya transfer dan transport ditanggung Doni
4. Michael berhutang pada Sari, dengan syarat Michael menikahi anak perempuan Sari

Nah,
Tipe riba yang kedua adalah riba Fadhl, atau riba pada jual beli. Tapi bahasnya bentaran dulu ya, dari sini kita bisa sedikit paham mengapa bunga bank disebut riba, walaupun si bank ridho-ridho aje ngasihnya. Nah, sejatinya nabung di bank itu hutang piutang, lho kok bisa? Lha itu di buku ada tulisan debit ama kredit, kredit panci itu ngutang bukan? Hehehe

Tapi yang jelas, ada manfaat yang diberikan bank pada proses ini. Naaah, seperti pembahasan asuransi di bawah ini, yang diambil dari proses di bank ini kan kemanfaatannya, maka akadnya yang diubah menjadi (contohnya) mudharabah atau bagi hasil dan akad-akad lainnya.

KEMBALI KE LAPTOP :
RIBA DALAM UNITLINK KONVENSIONAL

Nah, dalam Unitlink Konvensional cara perhitungan investasinya kan sama saja dengan Unitlink Syariah, kira-kira sama-sama menggunakan akad mudharabah musytarakah. Trus dimana ribanya?

Ribanya adalah investasi Unitlink Konvensional yang dilakukan di tempat-tempat yang berbasis ribawi, seperti bank konvensional. Nah, nyiprat dah dikit-dikit itu dosa ‘menikahi ibu sendiri’.

Walaupun belum sempurna, mari kita berusaha sedapat mungkin untuk menjauh dari riba ini. Pertama adalah menghitung pos haram, buka buku tabungannya, carilah transaksi yang judulnya BUNGA dan buang jauh-jauh ke laut, atau Anda bisa pisahkan untuk dibuang jadi aspal jalanan. Nah, yang terlanjur punya deposito konvensional yang bunganya jutaan sebulan, coba lagi dipikir-pikir untuk mengambil bunga itu. Pilih punya duit atau ‘menikahi ibu sendiri’?

“….. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

“Iya sih, Tapi kan…..?”
“Jiaaaah, kok pake ‘Tapi kan..’ , kagak pake tapi-tapian…”

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

  1. Yosef Sigit A.
    10 August 2012 at 09:00

    Terima kasih mas Gusnul atas sedikit pencerahan atas Syariah diatas.

    Saya Yosef, agen Pru Victory juga.

    Kalau boleh saya ingin belajar sama Mas Gusnul untuk Asuransi Syariah boleh? Karena saya ingin lebih tahu tentang produk tersebut agar saya dapat memberikan yang terbaik bagi nasabah saya yang ingin membeli PAA.

    Mohon app pin BB saya ya.

    Terima kasih.

    Best regards,
    Yosef Sigit A.

  2. 10 August 2012 at 10:32

    Subhanallah…
    Konsep ekonomi kapitalis/ribawi adalah konsep mencari keuntungan sebesar2nya.

    Konsep ekonomi syariah adalah konsep mencari keberkahan sebesar2nya.

    Saatnya beralih menuju sistem ekonomi yang halal & berkah..
    “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan sesuatu yang lebih baik.” (HR. Ahmad 5/363)

  3. marthyn
    15 August 2012 at 13:51

    syariah dan tulus sekali pak ……bisa kasih yg baik ama nsabah…dalam dan super sekali,,,

  4. malang123
    15 November 2013 at 10:47

    bagus nul,terusno…sek di wonorejoa awakmu ?by: konco pondokan dewe..hehehehgt

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: