Home > Life & Business Excellence > Kemarin, Hari Ini dan (Insya Allah) Selamanya

Kemarin, Hari Ini dan (Insya Allah) Selamanya

Pantai Kuta Lombok

Hari Pertama , 5 September 2012
THE ARRIVAL

Kami memulai perjalanan hari pertama kami di Lombok menuju Kuta di Lombok Selatan, karena posisinya yang tak terlalu jauh dari Bandara Internasional Lombok. Perbedaan waktu 1 jam dari Jakarta membuat kami baru merasakan lapar jam 14.30 WITA. So, setelah beberapa sesi foto narsis di Pantai Kuta-nya Pulau Lombok, kami langsung mencari tempat yang nyaman untuk makan siang. Di sebuah restoran lokal, kami langsung diserbu oleh beberapa anak kecil yang menawarkan barang dagangan yang sama, gelang kayu.

“Bagus mas, beli 1 mas…”
“Nanti abis makan saja boleh kok mas..”
“Harganya murah kok mas…”

Tak lama sang pemilik restoran keluar mengusir mereka, nampaknya ia tak ingin pelanggannya terganggu. Beberapa saat setelah ia masuk, anak-anak itu kembali merubung kami. 5 orang.

Satu persatu mereka pergi meninggalkan kami, karena memang kami tidak ingin membeli gelang itu. Belum. 3 orang…2 orang….dan akhirnya mereka semua meninggalkan kami. Tapi, ada seorang lagi yang muncul dari pagar tempat kami duduk. Dia kembali menawarkan dagangannya…

Hmm, salah satu anak tadi. Belum menyerah dia rupanya. Dia tetap menawarkan barang dagangannya. Kadang kesal terdengar, sampai pada akhir kami sampai pada keputusan untuk membelinya. Dan saya katakan pada istri saya ,”Pada akhirnya siapa yang bertahan akan menjadi pemenangnya ya…”

Baiklah, akhirnya kami membelinya…

Dan , perjalanan kami lanjutkan menuju hotel, kami menginap di bagian barat Pulau Lombok, tepat di sebelah utara barisan pantai Senggigi, di sebuah vila bernama Qunci. Tak lama setelah kami menaruh tas, kami langsung bergerak lagi ke utara ke arah Bukit Malimbu untuk menikmati sunset dari atas bukit Malimbu….

Hari Kedua, 6 September 2012
THE REUNION

Rencana pertemuan dengan kawan-kawan lama saya di Mataram membuat saya bersemangat untuk memulai hari ini. 1994 adalah tahun ketika saya meninggalkan SMP 2 Mataram untuk melanjutkan ke SMA di kota Yogyakarta. 18 tahun sudah!!

Kami berencana kumpul jam 11 di sebuah warung es kelapa muda di dekat sekolah saya di SMP 2 Mataram. Warung ini sering menjadi tempat singgah saya dan teman-teman selepas jam olahraga. Waktu itu harganya Rp. 150,- segelasnya. Setelah menikmati es kelapa muda, saya, Ismu, Lia dan Moyo bertolak ke Taman Narmada, kami berencana untuk makan Sate Bulayak untuk makan siang kami. Hmmm…

Moyo, GP, Ipul, Ismu dan Lia

Sepanjang jalan menuju dan dari Narmada, Moyo sempat bercerita tentang keputusannya berhenti bekerja sebagai karyawan untuk memulai bisnis. Keputusan yang sempat ditentang orang tuanya dengan pertanyaan ,”Mau dikasih makan apa anak-anakmu kalau kamu tidak bekerja?”

“Pak, mohon restunya. Dan kalaupun ada seseorang yang harus terakhir makan karena keputusan saya ini, orang itu adalah saya.”

Keputusan yang berani, bukan Moyo yang dahulu saya kenal. Naluri bisnisnya menajam. Intuisi negosiasinya juga baik. Bolak-balik dia bercerita tentang buku Chairul Tanjung, Si Anak Singkong. Dan saya ingin simpulkan 2 hal tentang Moyo :

Pertama,
Banyak orang yang menghakimi ciptaan Tuhan yang bernama ‘diri saya sendiri’ dengan banyak ketidakmampuan.

“Saya gak bakat begitu” ;
“Ya si ini kan jago hitung, saya enggak” ;
“Saya paling gak bisa kalau harus melakukan itu”.

Tapi apa yang saya lihat pada sosok Moyo membalik semuanya, dia bertransformasi menjadi seorang yang optimis dan melihat peluang-peluang menjadi bisnis.

Kedua,
Panutan. Role Model. Sesuatu yang pernah dicapai oleh orang lain, insya Allah bisa dicapai oleh siapapun, termasuk kita. Buku Chairul Tanjung yang dia baca sedikit banyak menjadi panutan dia dalam melangkah dalam keberanian bisnisnya.

Dan malamnya kami mengakhiri reuni setelah 18 tahun tak bertemu itu dengan suasana hangat dengan menu wajib Lombok : Ayam Taliwang dan Pelecing Kangkung. Sampai jumpa lagi lain waktu teman-teman…

Hari Ketiga, 7 September 2012
THE GILI EXPLORER

Gili Trawangan tadinya menjadi tujuan saya pagi ini. Sampai ternyata saya tahu bahwa ternyata perjalanan ke pulau kecil di bagian barat laut Lombok itu memakan waktu 30 – 45 menit sekali jalan. Jika dikalikan 2 maka sekitar 1 – 1.5 jam. Wah, saya bisa tua di laut. Dan akhirnya saya memutuskan untuk menyewa boat ke pulau terdekat, Gili Air.

Perlabuhan saya di Gili Air disambut sebuah Villa dengan kolam renang di bagian depannya. Dan dipenuhi oleh turis mancanegara. Saya memang sudah berencana untuk menyewa sepeda untuk berkeliling Gili Air berdua dengan istri saya… ^-^

Dan dimulailah penjelajahan saya menusuk jantung pulau eksotis itu, ternyata saya menemukan pemandangan yang jauh berbeda di dalam pulau. Sebuah kehidupan kampung pada umumnya, anak-anak sekolah, warung-warung, rumah-rumah penduduk. Setelah menembus jantung Gili Air dari arah selatan, kayuhan sepeda kami sampai di ujung utara pulau itu, Subhanallah. Indah sekali bagian ini, seperti tak pernah tersentuh. Pantai yang landai dan dangkal, jernih dengan pasir yang sangat putih….

Pertama yang saya bayangkan di dalam pulau itu tak ada penduduk. Kedua, kalaupun ada penduduk, saya pikir mereka akan terkontaminasi dengan kehadiran dan gaya hidup para turis itu. Nyatanya tidak, seakan tidak terpengaruh, mereka nampak menjalankan kehidupannya sebagai warga dusun yang mayoritas muslim seperti biasa.
Dan penjelajahan saya berakhir di waktu sholat Jumat. Saya kayuh sepeda saya bersama para penduduk lokal menuju masjid. Hmm, menarik bahwa di pulau ini tidak ada kendaraan bermotor. Hanya ada sepeda dan cidomo, dokar khas di Pulau LombokšŸ™‚

Satu hal yang saya pelajari dari pulau kecil ini adalah bahwa kita sendirilah yang membentuk nilai yang kita akan pegang teguh. Tak peduli berapa banyak nilai-nilai yang tidak sesuai ada di sekitar kita, tapi kita bisa memilih untuk tidak terpengaruh. Teguh pendirian !!

Dan, setelah lelah mengayuh, akhirnya kami kembali ke Lombok dan ini sudah di jam-jam terakhir kami di pulau ini. Sebelum kembali, kami sempatkan untuk mampir ke sebuah hotel di gugusan pantai indah Senggigi untuk menyambut salah seorang agen kami Fitri, seorang pemenang kontes calon pemimpin masa depan di perusahaan asuransi partner bisnis kami. Kami dan Fitri sempat duduk sejenak melepas penat ditemani hembusan angin Senggigi. Sukses selalu! Semoga Allah senantiasa memberikan kita kekuatan untuk senantiasa menjadi manfaat bagi sesama dan menjadi manusia yang selalu lebih baik dari hari ke hari. Aamiin.

Ferra & Fitri di Senggigi

And last but not least…
Happy 10th Anniversary My Dearest Ferra Trisiana

Ya Allah,
Jadikanlah pernikahan kami pernikahan yang barokah
Pembuka pintu rahmat bagi kami, keluarga kami dan ummat
Penyempurna keislaman kami
Tempat kami menempa sabar dan syukur
Tempat kami belajar menjadi dewasa
Jalan kami menggapai cinta-Mu

Ya Allah,
Ampuni dosa-dosa kami
Maafkan segala khilaf kami
Luruskan niat kami
Sucikan hati kami
Kuatkan tekad kami
Bimbing kami
Lindungi kami dari segala tipu daya syaitan
Agar kami dapat menapaki jalan ini, demi menggapai ridho-Mu

Ya Allah,
Kurniakan kepada kami keturunan penyejuk hati
Dan jadikan kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertaqwa

Aamiiin…

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

  1. Nuke
    10 September 2012 at 14:40

    Happy Wedding Anniversary Pak Gusnul & Bu Ferra…….. Semoga sakinah, mawaddah & warahmah…salam sayang dari Keluarga Jatibening

  2. arie
    23 September 2012 at 12:00

    Tempat yg blm sy kunjung meski 17 th tgl d sana.. Jd mkn penasaran. InsyaAllah selesai sekolah sy ke sana, Gili Air dan G. Rinjani.. Btw selamat ultah pernikahan ya.. Salam to keluargašŸ™‚

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: