Home > Life & Business Excellence, Life Insurance Business > Haruskah Anak Kita Naik Kelas?

Haruskah Anak Kita Naik Kelas?

“Ya, harus!” , itu jawaban mayoritas peserta seminar ketika saya ajukan pertanyaan itu.

“Siapa bilang anak kita harus naik kelas? Siapa yang mengharuskan?”

Silakan kita baca kembali buku panduan sekolah anak kita yang baru duduk di kelas 1 SD. Apakah ada salah satu peraturan yang mengharuskan seorang anak naik kelas setiap tahun? Tidak ada bukan? Beberapa peserta seminar manggut-manggut mengiyakan.

Lalu mengapa kita dan anak-anak kita selalu memiliki pola pikir naik kelas, naik kelas dan naik kelas? Padahal tidak ada satu aturanpun yang mengharuskannya….

Pertama,
Mereka ingin kelak bekerja seperti ayahnya, dan katanya untuk bisa bekerja harus kuliah dulu, untuk kuliah harus SMA dulu, untuk SMA harus SMP dulu, untuk SMP harus lulus SD dulu, untuk lulus SD harus naik kelas dari kelas 1, 2 sampai kelas 6. OK, kata para motivator tipe yang ini kita sebut tipe pengejar impian. Dia ingin mencapai sesuatu yang lebih tinggi.

Kedua,
Mereka ingin terus naik kelas karena mereka tidak ingin malu kalau harus tinggal kelas, harus belajar dengan adik-adik kelas sementara teman-teman kita sudah pindah ke jenjang yang lebih tinggi. Tipe yang ini adalah tipe pengelak sengsara…

Tapi apapun tipenya, pengejar impian ataupun pengelak sengsara, keduanya punya kesamaan : sama-sama punya tujuan.

 

Pengejar Impian atau Pengelak Sengsara?

Dalam hidup ini kita memiliki banyak pilihan, setiap pilihan yang kita jatuhkan memiliki akibat. Semua peran yang kita pilih dalam hidup ini memiliki kewajiban dan konsekuensi. Dan ketika kita memenuhi kewajiban dan menghadapi konsekuensinya, orang menilai kita berprestasi.

Lihatlah peran-peran yang kita ambil dalam hidup,

Sebagai seorang ayah kita punya kewajiban, dan kita baru disebut ayah yang baik jika kita melakukan tugas-tugas yang seharusnya dilakukan seorang ayah. Sebagai seorang suami atau istri kita punya kewajiban, dan kita baru disebut pasangan hidup yang baik jika kita melakukan tugas-tugas yang seharusnya dilakukan seorang suami atau istri.

Beberapa waktu kemudian kita berubah menjadi seorang karyawan, kita akan dikenang sebagai karyawan yang baik jika kita melakukan apa yang seharusnya dikerjakan oleh seorang karyawan. Tak lama kemudian, kita diberikan tugas menjadi seorang imam sholat dzhuhur berjamaah di musholla kantor, apa yang membuat rekan-rekan kita melabel kita sebagai imam yang baik? Tentunya jika kita melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang imam ketika memimpin sholat. Sepulang kantor, Anda melakukan bisnis tambahan di luar jam kantor. Dan Anda akan menjadi pebisnis yang dinilai baik jika melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang pebisnis.

Lalu kita kembali ke anak kita yang kelas 1 SD.
Tak ada yang mengharuskan anak kita naik kelas!
Kenaikan kelas itu ‘hanyalah’ sebuah akibat ketika anak kita melakukan apa yang seharusnya dilakukan sebagai anak kelas 1 SD.

Jadi,
Kalaupun Anda terlalu sibuk untuk menentukan apakah Anda ingin menjadi pengejar impian ataupun pengelak sengsara, lakukan saja apa yang seharusnya Anda lakukan. Maka temuilah diri Anda menjadi orang yang bertumbuh hari demi hari. Selamat memaksimalkan peran kita semua!

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

  1. Fendi
    14 January 2013 at 07:35

    Yup, setuju mas gusnul, lakukan yg terbaik dlm hidup, maka kehidupan akan memberikan yg terbaik jg buat kita

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: