Home > Life & Business Excellence > Kue Brownies dan Awan-Awan Culun

Kue Brownies dan Awan-Awan Culun

Kue Brownies Spesial (Pic From SkinnyMom.com)

“Ayaaah…ini gimana? Aku gak bisa bikinnyaaa…”

Anak pertama saya ini seringkali punya masalah seperti ini. Seperti masalah kepercayaan diri bahwa dia tidak bisa melakukan sesuatu. Kali ini penyebabnya adalah sebuah pekerjaan rumah dari sekolahnya untuk membuat simbol-simbol cuaca.

“Nak, ayah akan beritahu bagaimana kira-kira bentuk simbol-simbol itu. Tapi kamu yang harus membuatnya sendiri”

Akhirnya dia membuat gambar gumpalan awan sampai terdengar rengekan keduanya lagi, “Gak bisa ayaah…awannya bukan seperti iniil”

“Cobalah gambar beberapa awan, pakai kertas coretan ini. Lalu dari beberapa awan yang kamu sudah gambar, pilihlah satu awan yang menurutmu paling bagus bentuknya”

Dan anak saya mulai menggambar beberapa bentuk awan, sesekali dia merengut karena bentuk awan yang belum sesuai dengan keinginan dia, dia teruas menggambar sampai kertas coretannya penuh dan dia mendapatkan satu bentuk awan yang menurutnya cocok untuk dijadikan bentuk awan favoritnya…. Puluhan awan untuk mendapatkan satu awan benar…

Cobalah Gambar Beberapa Awan, dan Pilihlah Satu Awan yang Kamu Sukai

Cobalah Gambar Beberapa Awan, dan Pilihlah Satu Awan yang Kamu Sukai

Nak…
Ayah tidak pernah iri dengan hasil gambar anak-anak yang bagus-bagus itu karena ada sebagian adalah buatan ayah mereka…

Ayah jauh lebih bangga dengan hasil karyamu sendiri meskipun belum bagus, karena dari kekurangbaikan gambarmu itu kamu belajar sesuatu yang lebih benar.

Jangan takut gagal, di balik gagal itulah pelajaran berharga….
Dan saya ceritakan hal tentang brownies pada anak saya…

Nak…Ketika orang bertanya kepada kita tentang bagaimana proses membuat sebuah brownies kukus, apa yang kita dan umumnya orang akan jawab?

Ya betul…
Sebuah rangkaian dari persiapan bahan-bahan, komposisi campuran, langkah-langkah pembuatan sampai penyajiannya. Jamak bukan? Setiap menit berjalan dari proses pembuatan brownies tersebut, ada hasil yang nampak. Jika berhasil maka prosesnya akan beranjak misal dari tepung sudah menjadi adonan, atau dari adonan lalu kita siap masukkan dalam oven. Jika gagal, maka akan ada bahan-bahan terbuang yang menjadi saksi kegagalan proses kita.

Apakah kita akan menganggap kegagalan itu dari akhir sebuah proses? Tanyakan pada diri kita mengapa brownies itu harus jadi.

Apakah anak kita yang menginginkannya? Atau mungkin ada orang yang memesannya dan harus siap hari itu juga?

Itu adalah sebab-sebab mengapa kue brownies itu harus jadi, apapun yang terjadi dan seberapa banyakpun kita sempat gagal membuatnya…

Apakah kita belajar dari kegagalan?
Apa yang salah dari proses pertama?

Apinya terlalu besar?
Waktu panggang terlalu lama?
Komposisi campuran adonan kurang pas?
Telur terlalu banyak?

Apakah kita perlu bertanya pada mereka yang sudah berhasil?
Atau bertanya pada Mbah Google yang serba tahu?
Atau mungkin beli bukunya di toko buku?

Nak,
Kalaupun kegagalan itu adalah bagian dari sebuah proses, ingatlah selalu bahwa jumlah kegagalan itu harus cukup untuk membuat kita belajar sehingga kue brownies kita tetap selesai tepat waktu.

Kalaulah kegagalan itu adalah bagian dari sebuah proses, kumpulkanlah kegagalan demi kegagalan itu dalam waktu secepat mungkin sehingga proses itu dapat terlihat sebagai sebuah pertumbuhan yang teratur.

Dan akhirnya, anak saya mulai berkutat dengan gambarnya sembari saya ceritakan tentang kegagalan-kegagalan Thomas Alfa Edison ketika mencipta lampu, dan Wright bersaudara ketika menemukan prinsip kerja pesawat.

“Nak, kalau mereka menyerah ketika beberapa kali mencoba, kira-kira apakah lampu yang kamu lihat ini akan ada hari ini…”

Dia menggeleng sambil terus menoreh spidol Snowman-nya di kertas menggambar awan-awan itu…

Simbol-Simbol Cuaca

Simbol-Simbol Cuaca

Rekan-rekan…
Berproses bukanlah diam menanti…
Berproses adalah bertumbuh…
Karena bahkan kegagalanpun membuat kita tumbuh dewasa…
Belajarlah walaupun dari kegagalan…
Jangan kita larut dalam kegagalan demi kegagalan tanpa pernah memaknai kegagalan itu sebagai cara Tuhan menumbuhkan kita…

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

  1. Wanto
    30 April 2013 at 08:05

    Keren Pak! Bapak ini masih muda tapi bijak dalam menyikapi makna kehidupan.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: