Home > Uncategorized > Suara Lembut Uda Edi

Suara Lembut Uda Edi

“Mas dan mbak baru mulai dagang ya?”

Suara lembut itu menyapa kami.

“Sini, kalian bisa geser sedikit dan dagang di sebelah saya”.

image

Di sinilah kami dagang...

Adalah Uda Edi, pemilik suara lembut itu yang membuat kami bisa bernafas lega pagi itu. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 5.30, sinar matahari sudah mulai menari di sela-sela dagangan para pencari rezeki kaki lima di Lapangan Gasibu Bandung Ahad pagi itu.

Betapa tidak, hari itu adalah hari pertama kami berjualan di ajang kaki lima mingguan paling terkenal di Bandung saat itu. Datang jam 4 dini hari, kami berkali-kali digeser oleh para pemilik lapak yang sudah berminggu-minggu, atau bahkan bertahun-tahun, berdagang di tempat itu.

“Awas, ini tempat saya dagang!”
“Minggir sana, kalian pasti baru ya? Cari tempat di ujung sana tuh”

Setelah menyempatkan bergantian sholat subuh di salah satu warung internet yang kebetulan jadi markas sahabat-sahabat kami di STT Telkom, karena kami tahu bahwa warung yang satu ini tak pernah kenal tutup, kami mencoba peruntungan kembali di ujung utara boulevard tepat di sebelah barat lapangan Gasibu.

Dan di sanalah awal perjumpaan kami dengan Uda Edi. Dia adalah seorang asli Padang yang berjualan popok sekali pakai dengan merk-merk kelas 2, tentunya dengan harga miring. Setiap Ahad pagi dia datang dengan karung besarnya, dan menata barang dagangannya di sebuar rak sepatu plastik buatan Indonesia, tepatnya “ploduk asli Indonesia” (ploduk pakai ‘L’).

Sosok lembut ini yang akhirnya memberikan sedikit lahan jualannya untuk kami. Sangat sempit, tapi bermakna untuk kami gelari tikar terpal untuk menata jilbab-jilbab kain yang terlipat rapi dalam plastik seal king. Jilbab ini kami pilih secara khusus di emperan bilangan Pasar Baru Bandung, ada beberapa pedagang yang memang khusus menjual kain-kain sisa garmen yang sengaja mereka potong kotak. Kami membelinya dengan harga Rp. 5,000,- per potong. Untuk akhirnya kami bawa pulang untuk dineci ulang bagian pinggirnya dengan benang yang senada dengan warna corak utama kain tersebut.

Voila!
Jadilah dagangan kami, kain jilbab dengan kode barang : ‘MR’ singkatan dari kata ‘Murah’ karena bahan bakunya yang memang murah. Ibu saya yang memberikan kode barang itu sebagai nama alias dari produk kami ini. Tergantung kelembutan kainnya, kami bisa jual kembali dengan harga Rp. 7,500 – Rp. 17,500,-. Pesona plastik ‘seal king’ ini benar-benar sakti!!

Setahun lebih kami jalani rutinitas ini setiap Minggu pagi di Bandung, omzet di atas satu juta kerap kami bisa raup di awal-awal masa dagang kami hanya dalam durasi efektif 3 – 4 jam berjualan. Pengalaman persahabatan dengan Uda Edi menjadi hal yang tak ternilai bagi kami. Sampai kami akhirnya berkenalan lagi dengan Uda lain, duhh… saya lupa namanya, pria berumur 50an yang berjualan baju siap pakai di bagian belakang mobil kijang kapsulnya. Dimana kap mobilnya sering digunakan Uda Edi untuk memajang popoknya. Sosok Bapak yang ramah, sering menawari kami sekadar camilan kecil penahan lapar di pagi hari. Sosok yang ulet bahu membahu bersama istrinya berjualan pakaian jadi.

Kembali ke Uda Edi…
Melihat pengunjung lapak kami yang semakin ramai, tak membuat Uda Edi iri. Dengan senang, dia merelakan sedikit demi sedikit lapaknya karena melihat kebutuhan kami akan lapak yang semakin luas. Sampai akhirnya kami bisa menduduki lapak yang muat menampung 3 orang. Pernah suatu kali saya pun ikut berdagang popok Uda Edi, karena ingin buang hajat dan saya diberikan catatan harga-harga dagangan dia sembari menanti dia menunaikan kebutuhannya. Alhamdulillah, saya sampai hafal harga-harga dari semua varian dagangan Uda Edi.

“Mas dan mbak baru mulai dagang ya?” “Sini, kalian bisa geser sedikit dan dagang di sebelah saya”.

Kami takkan pernah lupa suara itu…
Suara lembut Uda Edi, yang membuka pintu khazanah berwarna dalam hidup kami.

Dimanapun engkau sekarang, Semoga Allah senantiasa melindungimu dan memberikan rahmatnya tanpa putus padamu.

Barakallahu Fiik, Uda….

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: