Home > Uncategorized > Hari Kedua di Negeri Magyar

Hari Kedua di Negeri Magyar

 
“Are you (your restaurant) halal?”, tanya saya di sebuah kedai kebab

“Mmm.. No, we are not halal, I am so sorry, sir”

Ups, saya pikir semua kedai kebab itu halal, karena kebab identik dengan Turki. Pemuda penjaga kedai kebab ini minta maaf. Itu respon yang luar biasa buat saya. Respon yang sangat santun menurut saya untuk ukuran negara bule. Walaupun orang-orang Eropa Timur ini terkenal ‘dingin’. Well, saya akan ceritakan perjalanan saya menuju kedai kebab ini.

WP_20140426_032

HARI KEDUA DI NEGERI MAGYAR

Ini hari kedua di kami di kota Budapest, saya dan istri saya, Ferra, memang berencana berburu restoran halal dan menemukan masjid. Setelah bertanya Raden Mas Google, ketemulah lokasinya. Agak jauh memang, dan kami coba ingin ‘taklukkan’ dengan rute angkutan umum. Insya Allah.


Satu hal yang saya selalu jaga ketika perjalanan mancanegara adalah makanan, saya meyakini bahwa ‘no pork’ belum berarti halal. Itu sebabnya saya coba memakan selain daging dan ayam karena mengkhawatirkan proses penyembelihannya.  Sebisa mungkin, selama masih ada roti, salad atau mashed potato. Dan tentunya, kering tempe yang selalu siap sedia.

Pagi itu, setelah kunjungan rombongan tur ke dalam gedung Parlemen Hungaria dan tur ke kawasan Buda Castle di pagi harinya, kami memulai perjalanan lewat stasiun Metro Deak Férénc yang terletak tak jauh dari hotel kami. Perjalanan kami menuju stasiun Metro Deak Férénc  melewati sebuah jalan yang disebut surganya para penikmat belanja, Vaci Utca. Tak sampai 5 menit, kami sampai di stasiun. Kawasan Deak Férénc ini cukup ramai, betapa tidak, dua hotel besar ada di sudut kawasan itu, ditambah lagi ada beberapa musium, stasiun metro dan terminal trem. Bukan itu saja, Deak Férénc adalah pangkal dari Jalan Andrassy, jalan ikonik macam Orchard Road atau Champs-Élysées, panjangnya 2.5 kilometer yang berujung di monumen 100 tahun Hungaria, Heroes’ Square.

Memasuki stasiun metro, tak terlihat loket karcis terlihat seperti yang biasa kami lihat di stasiun metro yang pernah kami lihat sebelumnya. Lalu kami memustuskan melangkah menuruni eskalator. Di lantai bawah, ada 2 orang tua berjas rapi menghalangi jalan kami, rambutnya sudah putih dengan kulit yang tak lagi kencang. Gerakan tangannya memberikan sinyal pada kami bahwa kami perlu menunjukkan tiket. Saya mengangkat kedua tangan saya, mencoba memberi tahu bahwa saya tidak tahu dimana saya bisa mendapatkan tiket tersebut.

Nampaknya dia paham, sang kakek mengeluarkan segepok tiket dari sakunya, tertulis 350 HUF (Hungarian Forint, 1 HUF = Rp. 50,-). Wah, lucu juga ini. Dari beberapa pengalaman bermetro di negara-negara Asia dan Eropa, biasanya kami membeli tiketnya di vending machine atau minimal loket, baru kali ini kami membayar tiket secara manual.

Tiket Metro Budapest yang telah terrobek bagian ujungnya

Tiket Metro Budapest yang telah terrobek bagian ujungnya

Well, Setelah membayar 700 HUF, dia memberikan 2 tiket yang mirip perangko berukuran panjang bertuliskan Vonaljegy dan kami masukkan ke mesin. Mesin itu merobek ujung tiket kami dan petugas tersebut membiarkan kami masuk.

Kami mengambil Metro Blue Line jurusan akhir Ujpest Varosközpont. Kami berencana turun di stasiun Nyugati Pàlyaudvar dan menyambung tram kuning 4 atau 6. Menurut informasi di internet, ada rumah makan halal yang bisa ditemukan di dekat Margit Hid.

Kereta bawah tanah Budapest ini membawa kami ke stasiun Nyugati Pàlyaudvar, setelah keluar stasiun kami langsung menemukan terminal tram bernama sama. Pertanyaannya satu, dimana beli tiketnya? Ah, mungkin di atas tram ada kondekturnya. Tak lama tram kuning nomor 6 datang, kami naik ke atas tram dan… tak ada tanda-tanda tempat pembayaran, akhirnya kami diam-diam sambil memperhatikan bahwa tak ada orang lokal yang bayar juga. Hehe… Gratis dot com. Lumayan. Atau memang gratis ya?

Kami turun di terminal Margit Hid, hanya 3 terminal saja dari Nyugati Pàlyaudvar menyeberangi Sungai Danube yang membelah kota Budapest. Kota Budapest ini terbelah dua oleh Sungai Danube yang membentang sampai kota Vienna. Sisi Buda dan sisi Pest. Sisi Buda memiliki kontur berbukit dimana Royal Palace dan Buda Castle ada di sisi ini. Sisi Pest dulunya dihuni para penduduk, saat ini bangunan-bangunannya relatif baru. Chain bridge adalah jembatan proyek ambisius Count Istvàn Szechnyi untuk menghubungkan Buda dan Pest, karena sebelumnya mereka menggunakan perahu untuk menyeberangi sungai Danube atau menunggu sungai ini membeku sehingga mereka bisa berjalan melewati sungai ini.

Di Margit Hid ini kami menemukan kedai kebab yang tersebut di awal kisah saya ini.
Setelah sang penjaga kedai minta maaf pada saya, saya bertanya padanya


“Do you know where’s the halal restaurant?”
“There is a Turkish Restaurant, Ali Baba. Near Kiraly Street.”
“Thank you..”
“Have a good day, sir”

MAKAN SIANG TENANG

Saya ketikkan “Kiraly” di Aplikasi Here Nokia Lumia 925. Gotcha!! Ternyata saya bisa menggunakan tram no 6 untuk menuju Kiraly Street. Lokasinya di sisi Pest.  Lumayan, gratis. Eh, saya bukan gak mau bayar lho. Saya gak tahu gimana cara bayarnya. Walaupun belakangan saya baru paham bahwa semua tiket single trip itu menggunakan tiket yang sama yang kami gunakan untuk naik Metro, ya betul, yang dijual sama kakek-kakek di basement Metro.

Sebagai informasi, bahasa Magyar, bahasa negara Hungary ini adalah bahasa tersulit yang pernah ada. Berita baiknya, hanya sekitar 5% dari orang Hungaria ini yang bisa berbahasa Inggris. Lengkaplah. Saking asingnya Bahasa Magyar ini, George Lucas konon menggunakan Bahasa Magyar ini untuk adegan percakapan antaralien di film Star Wars besutannya. Koreksi kalau saya salah ya. Intinya, sangat sulit menemukan orang yang bisa berbahasa Inggris di negeri Magyar ini. Dan banyak frasa-frasa terpanjang bisa kita temukan dalam bahasa ini seperti Elkelkáposztásítottalanítottátok atau Elkáposztástalaníthatatlanságaitokért


“Assalaamualaikum!”

Sang pemilik kedai Ali Baba menyapa kami ramah.

“Welcome, everything here are halal!”
“Alhamdulillah”
“Where are you from?”
“Indonesia…”
“Masya Allah, Indonesia. What do you want for eat?”
“What do you have?”

Dengan lancar dia menjelaskan semua masakan yang dia miliki. Dari kebab, sup lentil sampai pizza. Akhirnya kami memilih kebab ayam dan sepotong pizza plus 2 the hangat dengan gula pasir berbentuk dadu.

“The tea is free for you brother…”, katanya
“Tasyakur Ederim…”, kata saya. Artinya terima kasih. Hanya itu kata-kata yang saya ingat dari perjalanan saya ke Istanbul 5 tahun lalu.

Kami menikmati hasil perburuan makanan halal kami hari itu. Makan siang paling tenang yang bisa kami rasakan. Porsinya lumayan banyak, akhirnya kami tidak berhasil menghabiskan pizza pesanan kami dan membawanya pulang alias ‘Tolong bungkus bang!’

Saya buka kembali Nokia Lumia 925 saya bersanding dengan peta kota Budapest yang saya ambil di resepsionis hotel. Saya sudah cari sebelumnya di internet bahwa masjid yang ingin saya kunjungi bernama Dar Al Salaam. Saya ketikkan ‘Dar’ dan Nokia Here memberikan autosuggestion Dar Alzsalam Mescet. Mescet? Mungkin maksudnya masjid ya. Saya klik dan kursor hijau Nokia Here menunjuk ke sebuah jalan bernama Bartok Bela. Tak jauh dari Gellert Spa, tempat pemandian air panas yang cukup terkenal di kota Budapest.

Masjid ini terletak di sisi Buda, artinya kami harus kembali menyeberangi sungai Danube. Ada dua pilihan rute, tram kombinasi Metro atau tram 6 langsung menuju Mórics Zsigmond Körter, terminal akhir rute tram nomor 6 persis di Jalan Bartok Bela. Tentunya kami pilih rute tram, karena gratis. Hehehe.

Hanya sekitar 300 meter dari terminal, kami menemukan masjid Dar Al Salam dan menunaikan sholat Dzuhur dan Ashar secara Jamak Taqdim dan Qashar. Dua orang berkulit hitam, nampaknya marbotnya masjid, menyambut kami dan menunjukkan tempat wudhu. Walaupun masjidnya sederhana dan sangat kecil, menemukan masjid di kota seperti Budapest ini selalu menjadi pengalaman yang luar biasa untuk kami. Alhamdulillah.


EPILOG TEGANG DI NEGERI ORANG

“Good afternoon, can you help me to take photo of me.”

Belum jauh perjalanan kami dari masjid. Seorang pria mendekati saya dan meminta saya mengambil gambarnya. Bukan orang Budapest,  sama-sama turis, pikir saya. Saya bantu dia ambil foto dari dua sisi. Saya kembalikan kamera ponsel miliknya dan dia berkata bahwa dia ingin menukarkan uang 100 Euro miliknya. Dia bilang bahwa dia tidak menemukan tempat penukaran uang karena banyak yang tutup. 

“Good afternoon gentlemen, I am the police”

Weleh, polisi?
Pria lain tiba-tiba sudah ada di sebelah kami.
Membuka kartu identitasnya di dalam dompet lipat macam di film-film Hollywood.
Waduh….
Dari mana dia muncul?
Ada apa ini?

(Percakapan berikutnya saya terjemahin pake bahasa Indonesia aja ya)

Polisi itu memulai pembicaraan,
“Apa yang dia minta dari kamu? Apa dia minta tukar uang?”, tanya sang polisi
“Dia minta saya ambil foto dia, lalu dia mau tukar uang dia”, saya jawab
“Keluarkan identitas kalian, paspor”, pinta sang polisi datar

Saya keluarkan paspor saya, dia cek sekilas. Kemudian polisi itu menanyakan berapa uang yang dibawa pria itu, dikeluarkan uang dari dompet dan kantongnya. Ternyata banyak uang pecahan kertas yang dia miliki, tadinya dia mengaku hanya memiliki uang 100 euro yang ingin ditukarkan. Dia memeriksa setiap lembaran uang yang dibawa pria itu dengan sebuah alat seperti senter kecil sambil sesekali berbicara di perangkat handsfree yang menempel di telinganya. Kemudian polisi itu menanyakan uang yang saya bawa, saya tunjukkan 5,500 Forint yang tersisa di dompet saya. Setelah itu, dia menyuruh pria itu pergi.

“Selalu berhati-hati di jalan. Jangan pernah melakukan transaksi apapun di jalan atau mendapatkan informasi dari orang yang tak dikenal. Kalian turis kan? Ok, silakan lanjutkan perjalanan”

Setelah sang polisi memberikan petuah akhirnya, kami lanjutkan perjalanan dengan sedikit debar di dada. Untung tak terjadi apa-apa. Jangan-jangan polisi sudah mengincar pria itu sebagai target operasi sindikat pemalsuan uang.

Di depan Gellert Hotel & Thermal Bath, kami naik tram kuning nomor 47 ke arah Deak Ferénc terminal dan turun di dekat hotel kami untuk bersiap menikmati Dinner Cruise malam harinya menyusuri sungai Danube di malam harinya.

Pemandangan Chain Bridge dan Sungai Danube di Malam Hari

Pemandangan Chain Bridge dan Sungai Danube di Malam Hari

Tamat.

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

Categories: Uncategorized
  1. 17 June 2016 at 22:04

    wahhh makan ati ni gua, bisa jadi semaleman gak bisa tidur gara2 pengen ke kedai kebab…hmmm

  1. 27 May 2015 at 10:02

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: