Home > Life & Business Excellence > Hidupku Seperti Jalan Mampang Prapatan

Hidupku Seperti Jalan Mampang Prapatan

Suatu Sabtu, Anda hanya punya waktu kurang dari 15 menit untuk sampai di kantor, atau denda Rp. 150,000,- menanti. Anda memacu mobil Anda secepat mungkin menyusuri jalan Buncit Raya sampai bertemu perempatan pertama di Duren Bangka. Lampu baru saja menyala merah. Gerutu muncul tak terelak, gundah menatap detik yang tak terhentikan.

 

Sudut Mampang Prapatan from http://wartakota.tribunnews.com/

Sudut Mampang Prapatan from http://wartakota.tribunnews.com/

Lampu menyala hijau, Anda menekan pedal gas dalam-dalam, gigi otomatis bergerak cepat ke atas. Melewati kantor imigrasi Jakarta Selatan, mata memandang lampu lalu-lintas duren tiga masih menyala hijau. Semakin mendekat. 3,2,1, lampu kembali merah. Ya ampun, ada apa ini? Sementara jam sudah menunjukkan pukul 8.37.

 

Tinggal 8 menit. Detik demi detik terasa menggemaskan terlihat di layar LED di samping lampu merah yang masih menyala.

Dan, akhirnya lampu hijau menyala!
Kembali Anda pacu mobil Anda melewati halte busway Duren Tiga. Masih ada 3 perempatan lagi. Dan sesuai sangkaan Anda, lampu setelah Balai Hermina kembali Anda temui sedang  menyala merah. Tapi tak lama sampai lampu hijau menyala kembali.

Ruas terakhir jalan Mampang Prapatan ini menjadi harapan terbesar Anda bisa mempercepat waktu Anda menuju kantor. Hijau, hijau, hijau, sampai dari kejauhan Anda melihat kincir angin raksasa di sebelah kiri jalan, lengkap dengan antrian mobil di depan Pasar Mampang. Yes! Lampu merah lagi!

Ya, Allah…

Ada apa ini, pikiran mulai berkelebat ke kejadian pagi hari. Andai saja tadi pagi buku Anda tak sempat tertinggal, andai saja tadi pagi Anda tak harus menyuapi anak Anda, dan andai andai lainya. Mungkin Anda akan berangkat lebih cepat dan tak harus mengalami rentetan lampu merah Mampang Prapatan ini.

Lamunan Anda terpecah oleh bunyi klakson mobil van putih tepat di belakang mobil Anda. “Sabar napa…”, gumam Anda. “Emang kamu aja yang buru-buru”, gerutu Anda sambil sesekali melirik ke spion kecil memandang ketus van putih itu sambil menekan pedal gas.

Etape terakhir,
Traffic light kuningan melengkapi perjalanan lampu merah saya. Sudah jam 8.45. Anda sudah pasrah membayangkan Rp. 150,000,- melayang sambil tetap berandai-andai. Andaikan kejadian tadi pagi berbeda. Tapi lamunan Anda terpecah, teringat mas ustadz dari pengajian tafsir Selasa kemarin bahwa pengandaian masa lalu adalah syirik kecil, tak meyakini takdir Tuhan yang bagian dari rukun iman.

Dan,
Pedal gas Anda kembali injak memasuki ruas jalan Rasuna Said menuju putaran di depan kantor. Kenyataannya Anda terlambat.  Dan tak ada satupun pengandaian yang bisa mengubah kenyataan ini.

Anda teringat pada sebuah poster dari sebuah pelatihan manajerial yang berbunyi :
“SITUATION IS THE BOSS, RESULT IS THE FINAL JUDGE, RESPONSE IS THE OPTION”

Response is the key

Response is the key

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: