Home > Life & Business Excellence > Yang Tenggelam di Tengah Malam

Yang Tenggelam di Tengah Malam

Crow Creek Alaska

Crow Creek Alaska

Perjalanan ke negeri ini mungkin boleh dibilang sekali seumur hidup. Betapa tidak, selain karena letaknya yang sangat jauh (baca : mahal) , negeri yang sering dijuluki “Sunshine at Midnight” ini sangat berbeda dengan negeri-negeri tujuan pelancongan pada umumnya.

Alaska, negeri ini memang menjadi salah satu tempat tujuan wisata bagi pecinta olahraga es. Dan saya pastinya bukan salah satunya. Tentunya saya tidak akan dengan sengaja pergi ke negeri ini untuk berolahraga es. Negeri ini mungkin memiliki para penebang sipil terbanyak dibanding negara lain. Ratusan, mungkin ribuan pesawat pribadi dimiliki penduduk sipil untuk bisa mereka gunakan untuk liburan, terbang dan mendarat di danau-danau yang tersebar di wilayah Alaska ini.

Tapi bagaimanapun, perjalanan ke Alaska yang hampir di ujung dunia ini menjadi pengalaman indah yang bisa saya ceritakan.

Salah satu pengalaman saya di Alaska adalah menambang emas. Ya, emas. Walaupun aktivitas ini juga banyak dilakukan sebagian masayarakat di Indonesia, tapi justru saya mendapat pengalaman mendulang emas pertama kali di tempat yang bernama Crow Creek.

Lembah ini dialiri sungai yang terbentuk dari glasier es yang mencair selama beratus-ratus tahun lamanya. Untuk bisa masuk dan menambang sesuka hati di tempat ini, pengunjung dikenakan biaya $20 seharian. Andy, pemandu jalan kami, menunjukkan satu tube penuh dengan butiran-butiran emas yang dia kumpulkan dalam seminggu. Andy bilang bahwa dia bisa menjual emas temuannya itu ke sebuah tempat khusus. Dan tempat ini akan menghargai emasnya 70-80% dari nilai aslinya. Sebelum mereka nanti menjualnya lagi ke tempat pengolahan untuk dijadikan emas batangan atau koin.

Kami melalui jalan setapak tanah menyusuri lembah di bawah barisan cemara dna langit yang sangat biru. Setelah perjalanan sekitar 200-300 meter, kami sampai di sebuah sungai dengan aliran air yang cukup deras. Di sana sudah disiapkan piringan yang terbuat dari plastik dan tube kaca kecil berisi air.

Andy menaruh segenggam tanah di piring plastik itu, dan mengambil air dari bagian pinggir sungai deras itu. Seperti yang saya duga, dia memutar-mutar piringan itu seperti umumnya para pendulang emas yang sering kita lihat di TV. Tak lama, dia menunjukkan pada saya titik seperti serpihan abu, tapi berwarna emas dan dia mengambil serpihan itu dengan jari kelingkingnya.

There you go, your gold. You can try

Dia memberikan piringan itu pada saya, dengan tanah masih terburai di dalamnya. Saya langsung jongkok, mengambil air dan mulai memutar-mutar piringan persis yang Andy lakukan. Persis menurut saya. Andy tersenyum dan mengambil piringanya dari tangan saya.

Andy berkata, “Kamu tahu, emas adalah logam yang berat. Lebih berat dari batu. Jadi ketika kamu putar perlahan tanah ini dengan air. Kumpulkan tanah itu di salah satu sisi piringan. Lalu miringkan piringan itu sehingga tanahnya berada di bagian tas dan airnya berada di bawah…”

“Ok. Lalu bagaimana selanjutnya?, tanya saya

“Setelah itu, kamu putar piringnya dengan sangat perlahan, seperti mengayak pasir, sehingga airnya mengalir melalui tanah itu dan sebagian materialnya akan terbawa ke bawah. Sementara, karena emas itu berat. Dia akan tetap tertinggal di bagian atas.”

Andy melanjutkan, “Kamu harus meyakini prosesnya, kamu juga harus meyakini bahwa materi emas itu berat. Jadi kamu tidak perlu sampai harus memelototi tanah itu untuk mendapatkan emasnya. Lakukan saja prosesnya, dan emas itu akan muncul.”

Butuh perjuangan untuk mendapatkan serpihan kecil ini

Butuh perjuangan untuk mendapatkan serpihan kecil ini

Ya, Tuhan…
Harus super sabar. Tidak lemah. Tidak menyerah. Tidak putus asa. Memutar-mutar piringan ini untuk mengumpulkan serpihan-serpihan emas yang sangat kecil. Saya teringat tube yang Andy miliki. Saya mulai bisa menghargai bagaimana Andy bekerja keras untuk mendapatkan emas sebanyak itu. Saya simpan 2 serpihan emas temuan saya itu, saya simpan dalam tube kaca dan saya bawa pulang. Sangat menyenangkan kalau Anda bisa mengocok tube kecil ini, saking beratnya emas ini, dia bisa bergerak dalam air sekencang batu yang kita taruh dalam botol tanpa air. Suaranya berdenting sangat merdu dalam tube kaca itu.

 

It's Sundown at Midnight

It’s Sundown at Midnight

Hari pertama di Anchorage ini saya tutup dengan mengingat kembali lagu Fariz RM di album Living in The Western World : “Sundown at Midnight” di bagian utara bola dunia ini. Jam 23.45 saya ambil sarung dan sajadah saya dari koper, memandang ke jendela menanti matahari terbenam dan bersiap sholat magrib yang dijamak takdim dengan sholat isya. Well, sunset at (almost) midnight.

***

Sebuah terowongan kecil sepanjang 4 km harus kami lewati untuk menuju kawasan bernama Whittier. Terowongan ini hanya bisa dilewati bus yang kami naiki, satu arah. Dan di bawah bus kami terdapat rel kereta! Ya, rel kereta! Artinya mereka harus berbagi terowongan tersebut dengan kereta api Alaska Express tujuan Whittier.

Terowongan Menuju Whittier

Terowongan Menuju Whittier

Ya, Anda bisa tebak, untuk melewati terowongan itu harus bergantian. Bus kami sampai di depan terowongan jam 11.30. 15 menit lebih awal dari jam pembukaan trafik ke arah Whittier. Tepat jam 11.45 pintu dibuka dan bus kami menyusuri lorong gelap menembus gunung cadas. Sepanjang terowongan ada beberapa titik untuk menyelamatkan diri dalam kondisi darurat. Ada 8 pintu kecil bertuliskan ‘safe house’ dimana menurut Lynn, pemandu bus kami, berisi persediaan makanan dan minuman kalau harus dipergunakan dalam kondisi darurat.

Secercah cahaya terlihat, tak lama bus kami keluar dari dasar bukit cadas sepanjang 4 km menyapa sebuah hamparan danau yang yang sangat indah. Tak jauh dari mulut terowongan, sebuah kapal bertuliskan Klondike Express tertambat di pelabuhan. Kapal yang akan kami naiki hari itu.

Perjalanan 4 jam di atas Klondike Express diawali dengan makan siang. Menunya ayam dan nasi. Alhamdulillah masih ada nasi, karena saya tak menyentuh semua yang berwujud daging dan ayam di perjalanan saya kali ini kecuali memang sudah dideklarasikan halal secara proses. Oh iya sudah baca kisah perjalanan saya di negeri Magyar? Kalau belum, nanti boleh mampir ke SINI ya.

Selepas makan, pandangan kami ditambatkan pada gunung-gunung dengan puncak yang masih tertutup salju. Di musim panas ini tentunya tak semua bagian gunung tertutup salju. Layar televisi di dalam kapal menunjukkan posisi kami berdasarkan GPS, menuju titik tujuan utama kami hari itu. Melihat beberapa glasier yang sudah terbentuk ratusan tahun yang lalu.

Sepanjang perjalanan kami menemui banyak hewan yang fenomenal, salah satu yang jadi perhatian utama kami adalah seekor Paus bungkuk yang menyemburkan nafasnya beberapa kali dari paru-parunya membentuk semburan air dengan suara semprotan yang khas. Paru-paru? Ya, Anda tahu kalau paus bukan ikan, jadi saya sebut ‘paus’ saja, bukan ‘ikan paus’🙂

Tak lama kemudian sampailah kami di tempat dimana glasier-glasier itu terbentung dan mengalir menuju danau ini. Beberapa kali terdengar gemuruh seperti ledakan berkali-kali, tak lama kemudian beberapa bagian dari dinding es di glasier itu retak dan terlepas dan jatuh ke laut. Masya Allah! Sebuah fenomena alam yang belum tentu kita bisa saksikan setiap saat.

Dan inilah salah satu foto glasier indah yang saya ingin bagikan untuk Anda semua para pembaca yang baik. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya. Insya Allah.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: