Home > Travelling > Tokyo Live Story : Mukadimah

Tokyo Live Story : Mukadimah

“Sumimasen¹, kami hanya menyiapkan makanan halal untuk makan malam saja. Untuk makan siang, silakan datang ke cabang kami di sini, hanya 5 menit saja berjalan dari sini”


Dan secarik kertas berpindah dari si mbak ke tangan saya. Sebuah peta yang menunjukkan cabang dari restoran Hanasakaji-San yang kami temukan di aplikasi Halal Navi yang terinstall di iPhone istri saya. Hmm, 5 menit berjalan kakinya orang Jepang ini jaraknya pasti luar biasa buat orang Indonesia seperti kami. Dan benar saja, Google Map mengestimasi sebuah jarak : 500 meter. Saya pandangi putri kedua saya, Lia, yang sudah memasang mimik loyo karena diajak berjalan kaki di salah satu titik paling ramai di Tokyo : Shibuya!

Shibuya walking map

Peta Google Sekitar Stasiun Shibuya

Dalam perjalanan kali ini saya mengajak tambahan pasukan : Mama, Caca dan Lia. Setelah perjalanan 500 meter dari cabang pertama Hanasakaji-San, sampailah kami di cabang lain dari salah satu dari tak banyak restoran di Tokyo yang memiliki sajian halal di dalam menu mereka. Mama sempat menanyakan apa yang membuat restoran ini mendeklarasikan kehalalan menu mereka, apa bedanya dengan yang lain? Pertanyaan ini cukup menggelitik sampai membuat saya penasaran mengintip dapur mereka dan menemukan sesuatu yang membuat kami yakin.

Pertama, kami diberikan sumpit bambu sekali pakai. Berbeda dengan pengaturan meja lainnya yang menggunakan sumpit fancy yang indah dan paten. Kedua, Sebuah sertifikat halal yang terpajang di dekat dapur. Dan ketiga, dua buah rak bertuliskan HALAL di sebuah selotip merah yang berisikan peralatan makan dan memasak yang dipisahkan dengan peralatan lainnya.

 

MUKADIMAH TRILOGI

Menemukan makanan halal bukan perkara mudah di negeri Sakura ini. Kita akan menemukan puluhan bahkan ratusan tempat makan yang menggugah selera. Ramen misalnya, bakmi khas Jepang ini mungkin memang tidak menggunakan material yang kasat mata tidak diperbolehkan dalam agama Islam yang saya anut, tapi ternyata hampir semua kuah ramen menggunakan kaldu dari hewan yang diharamkan. Bagi para penikmat kuliner, unduhlah aplikasi iOS HalalNavi yang akan memberikan informasi pada kita restoran-restoran yang diindikasikan halal oleh para kontributor yang sebelumnya pernah berkunjung ke sana. Namun, jika Anda termasuk orang yang malas berburu, maka nasi siap-makan dalam kemasan kedap udara yang dijual di 7-Eleven atau Lawson Mart seharga 130 Yen mungkin bisa menemani abon, teri kacang atau rendang yang sudah Anda siapkan dari tanah air.

Selain Hanasakaji-San, kami juga menemukan sebuah restoran vegan ramen di tengah-tengah hiruk pikuknya Stasiun Tokyo. Salah satu stasiun tersibuk di Tokyo selain Shibuya dan Shinjuku. T’s Tantan namanya.

Jika Anda sudah sempat mampir di tulisan saya sebelumnya tentang perjalanan saya di Budapest. Ha? Belum pernah? Bolehlah sempatkan baca juga DI SINI

OK Saya ulangi lagi ya, jika Anda sudah sempat mampir di tulisan saya sebelumnya tentang perjalanan saya di Budapest, Anda akan membaca bagaimana kami berusaha menemukan masjid di Budapest. Di Tokyo kami juga ingin sesekali menunaikan sholat di masjid yang tentunya tidak sebanyak kuil dan pagoda.

Namun, kisah yang saya tulis kali ini akan sedikit berbeda dengan kisah Budapest dan Alaska yang singkat, karena saya akan bagikan kisah dari Jepang ini dalam trilogi yang lebih lengkap mulai dari pengalaman naik Shinkansen, kereta peluru berkecepatan 250 km/jam , tinggal di apartemen orang Jepang sampai tips sholat di Disneyland. Jadi, tetaplah update di The World of Gusnul Pribadi dengan klik tombol IKUTI GUSNUL.

Bersambung…

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

 

¹Sumimasen = maaf (permisi)

Categories: Travelling Tags: , , ,
  1. Iwan Muhammad Ridwan
    27 May 2015 at 13:43

    Kisah yang menarik. Kisah anda di Budapest dan di Tokyo saya alami juga. Dan saya senang masih banyak orang yg menjaga shalatnya dan makanan yg dikonsuminya. Barakallah!

  2. ika
    27 May 2015 at 16:22

    menyimak sangat, InsyaAllah ada plan ksana with kids in near time..so better hurry ya update tulisannya, sdh install halal trip juga di hp

  3. 29 May 2015 at 17:27

    Keren, subhanallah, tetap jaga iman dan ibadah, betul2 pengalaman perjalanan yg menyenangkan dg berbagi sesama, Insya Allah kita bisa ikut travelling seperti mas Gusnul…

  1. 1 April 2016 at 06:49

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: