Home > Life & Business Excellence > Tokyo Live Story (1/3) : Tidur dalam Lesatan Shinkansen

Tokyo Live Story (1/3) : Tidur dalam Lesatan Shinkansen

“Can you show me Hanasakaji-San?”, tanya saya
“Oh, forrow me¹ prease….”


Shibuya, 21 Mei 2015
Wow, saya tadinya hanya mengharapkan pria berjas hitam itu menunjukkan jalan seperti : “Ntar lo lurus, ketemu lampu merah kanan, ntar kalau ada pohon asem lo tanya lagi dah alamat ni ama yang punya warung”. Respon yang saya dapatkan jauh di atas harapan saya. Dia mengantarkan saya sampai depan pintu restoran Hanasakaji-San!

 

TIDUR DALAM LESATAN SHINKANSEN

Petugas loket Japan Railways (JR) di bandara Haneda memberikan 5 tiket reservasi Shinkansen Hikari dari stasiun Shinagawa menuju Kyoto. Kelima tiket itu dimasukkan dalam sampul kecil bergambar dua tipe Shinkansen generasi baru Jepang, Akita Shinkansen E6 dengan kode KOMACHI dan Tohoku Shinkansen E5 dengan kode HAYABUSA. Kedua Shinkansen ini digadang bisa melesat di atas rel magnet dengan kecepatan 300 km/jam. Hmm, tapi apa daya, Japan Rail Pass (JR Pass) yang saya sudah beli di Jakarta hanya boleh dipakai di tipe Shinkansen model lama seperti HIKARI , KODAMA dan SAKURA

JR pass, adalah salah satu fasilitas yang diberikan oleh Jepang khusus untuk para wisatawan. Pass ini hanya bisa dibeli di luar Jepang dan tentunya tidak berlaku buat orang Jepang sendiri. Namun, sebelum memutuskan untuk membeli kartu sakti mandraguna ini. Pastikan kita sudah tahu rencana perjalanan kita selama di Jepang, karena jangan-jangan malah lebih murah kalau kita membeli tiket-tiket kereta secara eceran.

Fasilitas ‘gratis’ JR pass yang pertama kali kami gunakan adalah Tokyo Monorail yang membawa kami dari Bandara Haneda ke Stasiun Shinagawa. Pass ini terbilang mahal kalau tidak dioptimalkan. Untuk JR pass seluruh Jepang, kita perlu merogoh 29,110 Yen (sekitar Rp. 3 juta) dan 14,550 Yen untuk anak-anak. Tapi, di semua stasiun JR kita tidak perlu lagi repot-repot lagi untuk membeli tiket eceran dan tinggal menunjukkan JR pass di petugas stasiun untuk masuk. Kalau kita sudah tahu rencana perjalanan kita selama di Jepang, kita bisa putuskan untuk membeli JR pass area yang kita perlukan saja.

Berbeda dengan negara-negara lain yang yang memiliki sistem transportasi massal berbasis kereta api, Jepang dilayani oleh tidak hanya satu perusahaan, selain JR  yang boleh dibilang adalah perusahaan nasionalnya, Jepang juga dilayani oleh perusahaan-perusahaan privat atau swasta. Nah, umumnya kalau Metro Subway di Tokyo itu dilayani perusahaan swasta, jadi JR pass yang saya miliki tidak berlaku di jalur Metro Subway. Umumnya kalau rel kereta JR itu ada di atas tanah macam commuter line di Jabotabek saja. Bukan itu saja, keretanya pun sama, lha wong kereta yang dipakai untuk commuter line itu adalah kereta JR hehehe.

Tepat jam 10:10 Shinkansen Hikari dengan nomor kereta 467 sampai di Stasiun Shinagawa. Kami buru-buru masuk karena kereta supercepat ini hanya berhenti sekitar 2 menit. Yang lebih luar biasa, sekali saya pernah merapat di stasiun tujuan akhir di Tokyo, ketika kami keluar dari rangkaian gerbong seorang “cleaning service” sudah siap berada di depan pintu dan membungkukkan badan sambil berterima kasih pada semua penumpang yang turun. Dan setelah semua penumpang turun, dengan sigap tim pembersihan sudah siap masuk untuk melakukan pembersihan. Saya melihat satu gerbong dikerjakan sekitar 3 orang, dari mengumpulkan sampah, membalik kursi ke arah sebaliknya, megganti semua alas kepala penumpang, mengelap semua meja, dan mengepel lantai. Sayang saya tidak sempat mendokumentasikannya, tapi saya menemukan videonya di YouTube untuk kita lihat bersama.

Ketika kami masuk seorang ibu berpakaian bisnis sedang sibuk menelepon di gerbong sambungan kereta. Rupanya belakangan saya ketahui bahwa di wilayah publik seperti kereta api, menerima telepon dengan suara keras atau membunyikan nada dering itu dilarang. Orang Jepang sangat menghargai daerah-daerah privasi, sebut saja suara bising, asap rokok dan sampah adalah tiga hal yang langka ditemui di Jepang. Dan satu hal yang menarik, di negara sebersih Jepang justru barang yang agak langka ditemui di tempat umum adalah tempat sampah. Dan misteri itu terjawab karena ternyata walaupu setiap penumpang membawa makanan dan minuman sendiri, mereka juga membawa kantong plastik untuk membawa sisa makanan mereka sendiri. Biasanya yang meninggalkan sisa bungkus makanan adalah para turis. Hihihi, jadi malu. Ngikut aaahhh….

Menanti Hikari Shinkansen di Shinagawa Station

Menanti Hikari Shinkansen di Shinagawa Station

Kami duduk di gerbong reservasi nomor 15 di kursi deretan 11 dan 12. Shinkansen biasanya memiliki gerbong-gerbong (mereka menyebutnya ‘car’) khusus reservasi, dan gerbong lain adalah gerbong ‘rebutan’. Untuk reservasi, ada biaya tambahan bagi mereka yang membeli tiket langsung. Namun, bagi pengguna JR pass, kita bisa reservasi tempat duduk tanpa perlu membayar biaya tambahan.

Kalau ingin lihat sensasi berada di dalam Shinkansen, saya sudah videokan untuk bisa kita nikmati bersama. Cekidot!

Dan yang ini saya videokan di stasiun Simbashi, bayangkan kalau sampai ketabrak kereta ini :

Perjalanan malam hampir 7 jam di pesawat ternyata membuat anak-anak lelah, Caca dan Lia tidak bisa menahan kantuk dan lelahnya dan tertidur di kereta berkecepatan 230 km / jam.

Jadwal Shinkansen

Tabel Keberangkatan Shinkansen di Setiap Stasiun

 

Kita perlu tahu dimana saja Shinkansen yang kita naiki ini berhenti, semakin banyak dia berhenti, maka semakin lama kita sampai di tujuan. Hikari tidak berhenti sebanyak Kodama, dan jika ingin cepat sampai, kita bisa pilih Shinkansen Nozomi (nah untuk yang terakhir ini dikecualikan di JR pass kami)

Saya lihat timetable Shinkansen Hikari 467 (kodenya H467) yang sudah saya cetak dari Jakarta, ternyata Stasiun Shin-Osaka hanya berselisih 11 menit setelah Kyoto. Tanggung. Jadi kami urung melakukan short trip di Kyoto dan memilih langsung ke Osaka. Kasihan lihat anak-anak yang sudah kelelahan karena perjalanan jauh mereka dari Jakarta semalam.

Sebagai informasi Kota Osaka memiliki Osaka Loop Line yang dioperasikan oleh JR. Jika kita pemilik JR Pass, maka Osaka Loop Line ini termasuk dalam fasilitas gratis untuk pemilik JR Pass. Namun, jika kita tidak memiliki JR Pass, maka ada alternatif lain untuk membeli pass transportasi harian di Osaka seperti Osaka Amazing Pass.

 

SENSASI AIRBNB

Ehh, saya belum cerita ya bahwa selama perjalanan di Jepang ini kami tidak tidur di hotel. AirBNB.com, sebuah website jaringan rental properti, menjadi pengalaman pertama kami. Sebelum berangkat kami sudah mencari tempat tinggal kami terlebih dahulu. AirBNB.com umumnya menawarkan apartemen pribadi yang disewakan, beberapa properti bisa saja rumah. Jika beruntung, kita bisa mendapatkan harga yang cukup murah untuk properti yang kita sewa. Namun, saya sarankan untuk ekstra hati-hati memilih host yang bisa dipercaya. Tapi, spesial untuk Jepang, nampaknya kita boleh cukup yakin pada integritas orang-orangnya.

Sebelum bersepakat, saya dan sang host akan berkorespondensi via email. Well, terus terang. Sampai kami pulang kembali di tanah air, kami belum pernah ketemu dengan pemilik apartemen yang kami sewa, karena kunci apartemennya hanya ditaruh begitu saja di kotak pos yang ada di lantai bawah apartemen. Kami hanya diberi petunjuk lewat email seperti yang bisa dilihat gambar di bawah ini

 

Di Osaka, kami menyewa apartemen milik seseorang bernama Ain Maida. Letaknya persis di depan stasiun JR-Namba jadi cukup memudahkan pergerakan kami . Sebuah apartemen kecil yang rapi lengkap dengan fasilitas perdapuran dan peralatan makan. Ini yang paling penting, karena kami akan membuka perbekalan kering kentang, teri kacang dan cakalang pesanan khusus dari CakalangSuper.com

Ini yang mungkin akan sulit dilakukan kalau kita tinggal di hotel bukan? Untung ada 7-Eleven persis di sebelah apartemen kami sehingga kami bisa membeli salad, tauge, telur dan yang penting : NASI.

Suasana Apartemen Kami di Osaka.

Suasana Apartemen Kami di Osaka.

Bersambung…

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

 ¹forrow me prease
itu maksudnya adalah  follow me please (silakan ikuti saya), karena orang Jepang tidak bisa mengucapkan huruf L dengan baik
  1. 29 May 2015 at 06:33

    Kunci apartemen ditaroh gitu aja di kotak pos, aman bgt ya disana..

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: