Home > Life & Business Excellence > Tokyo Live Story (3/3 – End) : The Shinjuku Friday Rush

Tokyo Live Story (3/3 – End) : The Shinjuku Friday Rush

Jam menunjuk di angka 11, kami berada di koridor pertokoan menuju stasiun Shinjuku, stasiun tersibuk di Tokyo. Sebuah toko dasi di sebuah sudut jalan menuju pintu stasiun menghentikan sejenak langkah kami. Desain-desain sederhana dan menarik itu mampu membuat kami berhenti sejenak dan membeli beberapa buah dasi.

Setelah kami bertujuh menyelesaikan transaksi, ibu sang penjaga toko mengantar kami keluar dan membungkukkan badannya dalam-dalam sambil berkata,”Arigatou Gozaimasu”.  Bahkan setelah sekitar 30 meter kami berjalan meninggalkan dia, dia masih dalam kondisi membungkuk. Luar biasa bagaimana orang-orang ini dengan tulus berterima kasih.

Melenggang setelah belanja dasi

Melenggang setelah belanja dasi

Obrolan kami terpecah ketika teringat bahwa kami berniat untuk menunaikan sholat Jumat di Masjid Jami Tokyo. Tokyo Camii  , begitu umumnya orang menyebut masjid ini, berlokasi di dekat Stasiun Yoyogi-Uehara, kami perlu naik kareta jalur Odakyu dari Stasiun Shinjuku. Woow, stasiun Shinjuku ini jauh lebih luas dari yang kami bayangkan. Ternyata untuk mencari Odakyu Line butuh perjuangan. Tak ayal kami mulai panik karena jam sudah mendekati waktu Dzuhur. Ditambah lagi lokasi masjid ini agak di sedikit luar kota, jadi pasti waktu perjalanannya tidak sebentar.

Setelah bertanya sana-sini, akhirnya kami menemukan jalur Odakyu, setelah membeli tiket di vending machine, akhirnya kami berhasil masuk dalam kereta menuju Yoyogi-Uehara. Di kereta kami sudah mulai resah karena jam sudah menunjuk di angka 11.30, sekitar 10 menit sebelum adzan Dzuhur berkumandang.

Tepat pukul 11.40 kereta kami sampai di stasiun Yoyogi Uehara. Hal pertama yang kami lakukan adalah memeriksa surrounding map ‘peta lingkungan’ untuk memastikan lokasi masjid tersebut. Ternyata ada sahabat orang Indonesia yang sedang melihat peta tersebut. Nampaknya kami sama-sama mengalami disorientasi arah. Sampai seorang  wanita berkerudung berkebangsaan Nigeria menyapa kami ,

Do you want to go to the masjid? Follow me

Kami bengong sejenak seraya mengangguk. Dan segera kami ikuti wanita berperawakan tinggi besar itu. Dengan pakaian warna-warni khas Afrika, tidak sulit untuk melihat wanita itu walaupun dia sempat hilang dari pandangan kami di keramaian stasiun.

Jalan Menuju Tokyo Camii (Foto lokasi diambil setelah sholat Jumat)

Jalan Menuju Tokyo Camii (Foto lokasi diambil setelah sholat Jumat)

Tokyo Camii ternyata berjarak sekitar 500 meter dari stasiun. Sebenarnya bukan masalah jarak, tapi arah. Karena ternyata jalan tempat masjid ini berdiri ditumbuhi pohon yang sangat tinggi dan rimbun sehingga minaret ‘menara’ masjid yang tinggipun tidak terlihat dari kejauhan. Dengan agak tergopoh-gopoh kami menuju masjid. Hanya karena kami belum terbayang bagaimana suasana masjid dan kebiasaan-kebiasaannya.

“Tokyo Camii , dibangun tahun 1938 dan terpaksa diruntuhkan tahun 1986 karena masalah struktur bangunan yang telah rusak. Masjid ini baru dibangun kembali pada tahun 1998 dengan menggunakan arsitektur religius khas Turki Utsmani dan masjid ini akhirnya diresmikan kembali pada tahun 2000.”

Sesampai di masjid, dari sebuah sisi kami menemukan sebuah pintu. Wanita Nigeria itu mengajak para ibu-ibu untuk mengikutinya melalui sebuah tangga di samping masjid. Sementara para pria, masuk lewat pintu bawah. Sepi. Wah, nampaknya khutbah Jumat telah dimulai.

Sampai beberapa detik kemudian ada seorang pria berjalan santai di depan kami, dan ada beberapa pria lain mulai terlihat sedang duduk-duduk sambil minum. Lho, apakah sholatnya sudah selesai? Atau mereka tidak ikut sholat Jumat? Daripada bingung, saya datangi seseorang dan bertanya,

“Where is the Jum’ah Prayer?”
“Oh, upstairs. One hour. We wait for 40 persons”, jawabnya

One hour? 40 persons?
Ohh, kami langsung paham bahwa Sholat Jumat di sini baru dilakukan satu jam setelah adzan berkumandang. Kami baru ingat bahwa ini bukan di Jakarta, untuk mengumpulkan 40 orang kuota minimal penyelenggaraan sholat Jumat tentunya tidak semudah di Jakarta. Belum lagi lokasi masjid yang agak jauh dari pusat kota. Ternyata biasanya para karyawan yang bekerja di tengah kota mengambil waktu istirahat kerjanya untuk menunaikan sholat Jumat di Tokyo Camii ini. Jadi masjid ini menanti kehadiran mereka dan memberikan waktu satu jam untuk berkumpul.

WP_20150515_003

Suasana di dalam masjid

Sambil menanti, setelah mengambil air wudhu, kami mengetahui bahwa setelah sholat Jumat nanti ada pembagian makan siang gratis. Halal. Dan yang penting GRATIS hehehe. Masih sekitar 30 menit menjelang sholat Jumat, kami langsung naik ke masjid dan menyempatkan untuk membaca Al Quran. Satu demi satu para jamaah hadir memenuhi shaf di masjid ini. Dan tak lama kemudian sholat Jumat pun dimulai dan ini adalah sholat Jumat pertama yang saya ikuti dalam 3 bahasa : Jepang, Turki dan Inggris.

Dan seusai sholat, para jamaah langsung mengambil antrian untuk mengambil makan siang yang telah disediakan dan menyantapnya bersama-sama di aula pertemuan yang ada di lantai bagian bawah masjid. Alhamdulillaah.

 

MINTALAH MAKA KAU AKAN DIBERI

Setelah kejadian sholat di lapangan parkir di DisneySea, saya coba untuk ‘peruntungan’ lagi di 2 themepark lainnya di Jepang ini. Tokyo Disneyland dan Universal Studios Japan di Osaka. Hahaha, namanya juga tour bersama anak-anak, bisa ditebak itinerary perjalanannya gak jauh-jauh dari tempat bermain. Hanya saja, bulan Mei itu bulan yang siang harinya cukup panas di Tokyo dan Osaka. Jadi ya keringetan juga siang-siangnya.


SHOLAT

Jangan ragu untuk meminta tempat untuk menunaikan sholat di front office atau guest relations. Mereka akan dengan senang hati mencarikannya untuk kita. Ketika di Universal Studios, kami mendapatkan sebuah family room yang cukup nyaman dan luas. Dan ketika di Tokyo Disneyland, kami dipersilakan untuk sholat di VIP room di guest relation office.

Seusai Sholat di Family Room Universal Studios Japan

Seusai Sholat di Family Room Universal Studios Japan

MAKAN
Mencari makanan halal di Disneyland? Hmm, mungkin satu-satunya yang bisa kita temukan adalah sebuah restoran bernama Eastside Cafe yang menyediakan menu vegetarian namun relatif mahal. Jika Anda termasuk orang yang sangat consern dengan kehalalan makanan Anda, maka Anda boleh membawa masuk makanan yang Anda anggap halal masuk ke dalam Disneyland, tinggal bilang saja pada petugas penggeledah kalau ketahuan, Ingat, bahkan tak semua roti halal di Jepang. Keep extra careful.

KERETA
Di stasiun akan banyak kita temui brosur What to do in Tokyo. Tapi jika bingung, ingat saja bahwa tempat-tempat terkenal di Jepang kebanyakan sudah terhubung oleh rel kereta bernama JR-Yamanote Line. Yamanote Line sendiri adalah sebuah rel berputar tanpa ujung, jadi kita tak perlu khawatir nyasar, karena muternya di situ-situ juga (baca : keliling Tokyo)

Inilah Rute JR Yamanote Line

Inilah Rute JR Yamanote Line

Nah, jika ingin tahu ada apa saja di setiap stasiun di JR Yamanote Line ini, kita bisa akses http://www.japan-guide.com/e/e2370.html.

 

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: