Home > Life & Business Excellence > Kira-Kira Tuhan Gitu Gak ya?

Kira-Kira Tuhan Gitu Gak ya?

Sudah berhari-hari ini wajah anakmu merengut, dia menginginkan mainan yang ada di toko. Sebuah mainan kereta api Chug Patrol lengkap dengan rel yang bisa disusun dalam berbagai versi. Kamu tidak serta merta mengabulkannya. Kamu selalu mengatakan ,

“Apakah kamu bener-bener pengen mainan itu, nak?”

Mainan Impian sang Anak

Mainan Impian sang Anak

Dan hari demi hari anakmu selalu dan selalu menyebut-nyebut mainan kereta itu. Semakin dia menyebutnya semakin kamu memikirkannya, apakah kamu mau membelikannya?

“Nanti kalau aku belikan mainan itu, kira-kira anakku akan tambah baik atau sebaliknya ya?”

“Jangan-jangan nanti dia malah terlalu asyik dengan mainannya, sehingga kalau aku suruh makan atau mandi, dia malah jadi malas-malasan.”

Hmm tunggu dulu, kenapa kamu berpikir negatif?  Bukankan bisa jadi dia malah lebih baik? Lebih semangat belajar, lebih penurut, lebih mandiri ketika kamu membelikannya mainan kesukaannya itu.

Ah, daripada bingung, kamu menanyakan langsung pada anakmu. Janji apa yang akan dia berikan kalau kamu belikan mainan itu. Buat kamu membelikan mainan itu (mungkin) bukan perkara sulit, insya Allah uangnya ada. Tapi yang kamu kuatirkan adalah kalau anakmu jadi justru menjadi jauh denganmu dan fokus terus pada mainan barunya.

Jadi sebenarnya apa sih yang kamu inginkan dari anakmu ketika kamu belikan mainan itu?

• Menjadi anak yang baik, nurut sama kamu? ;
• Mau makan sendiri, gak susah kalau disuruh sholat dan mandi? ;
• Membereskannya ketika selesai bermain? ;
• Merawatnya agar awet? ;
• Memainkannya?

Memainkannya? Ya, karena yang sudah-sudah, setelah dibelikan hanya dimainkan sebentar saja lalu dicuekin saja di tempat mainan, hanya dimainkan sekali dua kali saja, rasanya tidak sesuai dengan kegigihan anakmu ketika meminta mainan itu.

Setelah kamu pikir-pikir dan berbaik sangka, kamu tambah yakin bahwa anakmu akan lebih baik ketika dibelikan mainan itu. Apalagi kamu melihat kesungguhan usaha dia. Mintanya itu lho, dengan wajah memelas. Dengan janji-janji yang meyakinkan. Dan ketika kamu uji untuk mendapatkannya, dia mau melakukannya.

“Coba nak, kalau kamu serius ingin mainan itu, ayah mau lihat kamu sholat selalu tepat waktu, boleh?”

Dan luar biasa, anakmu mau melakukannya!

“Coba nak, kalau kamu benar-benar ingin mainan itu, ayah mau lihat kamu makan tidak disuapin lagi, jadi ayah yakin kamu udah tanggung jawab bisa beresin mainan sendiri.”

Dan luar biasa, anakmu MAU dan BISA makan sendiri demi mainannya itu!

Dan kamu pun 100% yakin kali ini, kamu ajak anakmu ke toko mainan untuk membeli mainan impiannya itu. Tentunya tetap dengan “ancaman kecil” standar seperti,

“Janji lho nak, kamu jadi lebih baik setelah ayah belikan mainan ini. Kalau ternyata kamu gak tepati janji, ayah izin untuk minta mainan ini lagi ya. Ayah simpen di gudang.”

“Iya ayah, aku janji”, kata anakmu dengan wajah cerianya.

Hanya bertahan 5 hari, kamu bahagia melihat seorang anak yang memainkan mainan barunya, membereskannya setelah bermain, mau sholat tepat waktu dan makan tanpa disuruh. Hari ke-6, kebaikan itu berangsur-angsur memudar.

Keretanya sudah lebih sering mangkrak. Anakmu sudah mulai tidak mendengarkanmu, sholatnya mulai susah dan mulai minta disuapin lagi kalau makan.

“Tuh kan!”, hati kecilmu menyalahkan dirimu sendiri.

Tapi tidak! Anakmu bukan seperti itu! Mugkin dia hanya perlu diingatkan pada konsekuensinya!

“Nak, ingat janjimu dulu? Kalau ayah belikan mainan kamu janji nurut sama ayah. Ayah lihat sholat kamu sudah mulai bolong-bolong, kalau begini terus ayah terpaksa ambil mainan kamu lho.”

Anakmu tersadar, dia terdiam mengingat janjinya. Dan beberapa hari setelahnya dia kembali rajin sholat. Dan kamu memberinya kesempatan kedua untuk tetap bisa memiliki mainan yang dia sudah minta dengan sungguh-sungguh beberapa waktu yang lalu.

Kamu membuat anakmu sadar, dan tak lama kamupun terdiam :
“Kira-kira Tuhan gitu gak ya? Ketika suatu saat kita minta sesuatu pada-Nya. Minta dimudahkan urusan, ingin memiliki sesuatu, ingin pergi ke suatu tempat? Apa yang kira-kira perlu kita lakukan jika Tuhan benar-benar memberikannya untuk kita?”

Mudah-mudahan kita semua menjadi hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur dengan segala rezeki yang diberikan Tuhan pada kita.

Tentunya ungkapan “Terima kasih ayah“, bukan satu-satunya hal yang kita inginkan dari anak kita, melainkan bagaimana anak kita bisa memanfaatkan mainan itu sebagai sarana untuk menjadi lebih baik. Berarti, “Alhamdulillah” saja belum cukup!

Sahabat,
Saya sering khawatir, jangan-jangan saya seperti si anak itu, saya sudah berdoa sungguh-sungguh ketika menginginkan sesuatu.

Dan Tuhan pasti menepati janji-Nya ,
“Berdoaah padaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu…”
(Al Mu’min:60)

Betapa sering saya sering menyia-nyiakan pemberian-Nya setelah doa-doa saya dikabulkan. Kesempatan demi kesempatan, kemudahan demi kemudahan, kesehatan hari demi hari. Mungkin saya pernah berdoa sungguh-sungguh minta mobil, dengan janji akan bersyukur dengan merawat mobil itu. Tapi nyatanya saya bersikap cuek pada mobil itu. Saya janji bersyukur dengan menggunakannya dengan baik, tapi saya malah memacunya asal-asalan.

Mudah-mudahan kita semua dijauhkan dari sikap yang demikian. Aamin

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

  1. Setiawan
    3 August 2015 at 11:20

    Semoga Allah jadikan kita orang yg pandai bersyukur atas segala nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita dan menjauhkan kita dari karakter Sa’labah yang kufur nikmat, amiin…

  1. 28 July 2015 at 12:28

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: