Home > Life & Business Excellence > Sebut Saja Namanya Parno, Sang Pengiris!

Sebut Saja Namanya Parno, Sang Pengiris!

Sebut saja namanya Pak Parno, dari Jawa. Dia berjualan rujak di titik yang sama di Jalan Matraman sejak 37 tahun yang lalu. Wow, artinya ketika saya lahir, beliau sudah mulai berjualan rujak. Ferra, istri saya, yang kali ini jadi kontributor cerita saya. Lha wong dia yang beli rujaknya hehehe.

Eh, tapi bukan itu yang mau kita bahas hari ini. Perhatikan penampilannya. Sebentar, sebelum dilanjutkan. Anda perlu melihat baik-baik foto di bawah ini dulu.

 

IMG-20151002-WA0003

Ini dia penampakan Pak Parno

Sudah diperhatikan? Hmm, nampaknya cuman sekilas ya. Silakan lihat sekali lagi. Baru saya lanjutkan.

Sudah dilihat baik-baik?
Perhatikan penampilannya. Kemeja yang dimasukkan ke dalam celana kain. Jam tangan di sebelah kanan. Sepatu kulit bersih dan mengkilat dan yang penarik, pulpen besi ala bos kerah putih di saku kemejanya.

Ferra (FT) : “Pak kok rapi banget?”
Pak Parno (PP) : “Lha kalau saya ndak rapi, berantakan gitu, gimana orang mau mikir dagangan saya ini bersih, ya itung-itung ini usaha saya untuk mbuat orang mikir kalau dagangan saya bagus, bersih, gitu…”

 

Setiap kali menerima atau memberi uang dari atau kepada pelanggannya, Pak Parno selalu mencuci tangannya di air matang sebelum memegang buah untuk pelanggan berikutnya. Saya melihatnya sendiri.

Bicara pisau, dan Anda akan scroll up lagi melihat pisau Pak Parno di foto atas. Scroll up, scroll up. Saya tunggu. Nih saya kasih tulisan merah biar gampang baliknya?

UDAH? KITA LANJUT DARI SINI

Lanjut ya, bicara pisau, perhatikan bagian tengahnya sudah melengkung aus oleh zaman , tapi tajam. Pisau itu adalah saksi dan bukti dia sudah menggunakannya puluhan tahun. Ajaib ya, buat motong buah saya bisa sampai begitu ya. Itu saksi jam terbang. Guru terbaik : amal alias perbuatan. Amazing!

FT : “Kenapa pakai pulpen pak? Buat catat orderan?”
PP : ” Buat pantes-pantes aja mbak, ini juga belum tentu nyata (tintanya), maksudnya kalau pakai baju kayak gini kan biasanya pantesnya pake bolpen gitu to di kantong”

Membeli rujak Pak Parno ini antrinya bisa 5 – 10 menit. Selalu ada saja pembelinya, dan menariknya, dia selalu ramah pada semua pembelinya. Dia melakukan pekerjaannya dengan sempurna. Setiap daun pisang dia lap dengan air matang, dan dia menyempatkan diri untuk menggunting daun tersebut dengan model seperti ellips agar sesuai dengan ukuran kertas coklat pembungkus rujaknya nanti.

Dan apakah yang paling menarik dari pernyataan Pak Parno adalah ketika istri saya tanya seperti ini,

FT : “Wah, pak. Langganan rame dong ya?”
PP : “Alhamdulillaah, rujak saya bukan rujak yang paling enak, biasa sajalah. tapi mungkin orang terbiasa beli sama saya, jadi belinya ya kesini terus.”

Saya tercekat sebentar mendengar istri saya menceritakan ulang pada saya, saya bertanya dalam hati :

Apa yang membuat orang beli kesitu terus, dan memang terbukti setelah saya makan rujaknya, ini bukan rujak terenak yang pernah saya beli dan makan. Dari cerita istri saya, adalah rasa nyaman. Karena pengalaman pertama istri saya menyenangkan. Dari penampilan, keramahan dan kesempurnaan kerjanya.

Biaya training saya hari ini : Rp. 15,000,-. Gurunya Pak Parno.
Pak Parno mengajarkan pada saya untuk tidak perlu parno (baca : paranoid , takut berlebihan -red) pada kondisi , tidak perlu parno pada pesaing. Tapi parnolah ketika kita sudah tidak diberikan keyakinan, kemauan dan kemampuan untuk berbuat yang terbaik.

Making others happy, not just thing about the ‘me‘ anf the ‘myself

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

 

Oh iya,
Dan ini kesan sahabat-sahabat saya ketika saya ceritakan pengalaman saya,

“Pisonya keramat bener”
“Yang tersisa adalah pesona dan pengalaman”
(Ferry Indrawang)

“Masya Allah, memantaskan diri dengan perilaku sopan dan pakaian yang rapi”
(Dessy Puspitarini)

“Luar biasa, mesti dicontoh oleh para penjual lainnya”
(Mira Ahmad)

“Ih, keren. Gak ada lho tukang rujak yang begitu, cuci tangan abis pegang uang”
(Awallina Kurniawati)

Ditutup lagi ya,
Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

Sudah beneran selesai tulisannya kok….
Boleh kalau mau kasih pendapat juga tentang Pak Parno ini…
Hadeh, gak kelar-kelar nulisnya. Padahal udah ditutup di atas. Tutup lagi deh ya tulisannya, asli kalau sekarang mah.

Wassalaamualaikum,

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

  1. Sri Rejeki
    2 October 2015 at 22:48

    Wuahhh ceritanya sangat runtut penuh makna. Kereen

  2. 3 October 2015 at 07:35

    Masya Allah.. keren ini Pak Parno. Memantaskan diri untuk mendapatkan hal-hal baik. Makasih Pak Gusnul, suka sama tulisan-tulisannya🙂

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: