Home > Travelling > Negeri Satu Derajat : A Snowy Monschau

Negeri Satu Derajat : A Snowy Monschau

20160306_073013.jpg

Sunrise at Giethoorn

Hawa pagi yang menusuk ini membangunkan kami tepat jam 5 pagi itu. Kami membuka tirai kamar. Masih gelap. Ada waktu sekitar dua jam dari adzan Subuh sampai terbit matahari di ranch tempat tinggal kami di desa Smalleweg, sekitar 7 km dari Giethoorn.


NOL DERAJAT

Dari jendela kamar kami lihat rumput di halaman rumah Carmen memutih tersaput es. Permukaan danau kecil di sebelah rumahpun terlihat membeku. Kabut mulai menipis tersibak sang surya yang mulai muncul dari peraduan. Beberapa lapis baju kami kenakan guna menahan dingin nol derajat untuk agenda pertama hari ini : Lari Pagi. Eh tepatnya Narsis Pagi.

 

 

Carmen sendiri yang membuatkan sarapan bagi para tamunya. Dan pagi itu di ruang makan, kami bertemu pasangan paruh baya asal kota Utrecth, dan dua pasangan muda dari China dan Mexico yang menghabiskan akhir pekannya di Giethoorn. Kami saling bercerita tentang negara masing-masing, terutama tentang trafik. Hahaha, kalau urusan trafik, kisah Indonesia tak ada lawan deh. Kami berhasil membuat mereka terperangah dengan kisah dahsyatnya trafik di Jakarta.

Oh ya, saya lupa ceritakan bahwa istri saya memasakkan nasi goreng spesial untuk saya semalam. Yaa, makan nasi gorengnya sih mungkin biasa saja. Tanya dong makan nasi gorengnya dimana? Di Giethoorn!

Dan kami sangat menikmati sarapan bersama ini sekaligus berpamitan karena kami akan langsung menuju destinasi berikutnya di Jerman, yaitu Monschau.

 

 

TERIMA KASIH OPA!

Semua barang sudah kami masukkan kembali ke VW Polo Bluemotion. Jari saya langsung ketikkan Monschau sebagai kota destinasi kami berikutnya. Tertera langsung di GPS bahwa rute yang disarankan berjarak 315 km dan memakan waktu 3 jam dan 9 menit. Tapi ada satu masalah, ternyata indikator bensin sudah menipis.

Well, sebenarnya di perjalanan kemarin kami bertemu banyak sekali stasiun pengisian bahan bakar di jalan tol. Namun, hehehe, saya tidak tahu  bagaimana cara mengisi bahan bakar di pompa bensin Eropa itu. Yang saya tahu, kita perlu melakukannya secara mandiri dan menggunakan kartu kredit kita. Sekali saya pernah berhenti di salah satu pom bensin di desa Blokzijl namun prosesnya gagal dan tak ada seorangpun yang bisa ditanya.

Akhirnya bensin semakin menipis. Kami segera mencari point of interest di GPS untuk mencari pom bensin terdekat. Dan kami diarahkan untuk menuju suatu kota kecil bernama Kampen, 11 kilometer dari titik kami berada saat itu. Kota kecil Kampen ini dibelah oleh sungai Ijssel yang indah dan lebar. Tak lama kami sampai di sebuah pom bensin. Hmm, tapi naga-naganya ini mirip dengan pom bensin yang ada di Blokzijl, tak berawak. Saya coba ikuti petunjuk di layar sentuh, pilih nomor pompa, memasukkan kartu, pilih bensin Euro95. Tapi tetap tidak bisa.

Firezone.jpg

Pom Bensin di Kampen (Photo from Google Street Map)

Wah, tapi kali ini harus bisa. Tidak boleh tidak, karena indikator bensin sudah menyala dan perjalanan kami masih sangat jauh. Kami menunggu sampai seseorang datang, dan Alhamdulillah beberapa menit kemudian sebuah mobil masuk ke dalam pom bensin. Saya dekati mobil tersebut dan bertanya, ternyata ada oma-opa di dalamnya,

“Speak English?”, tanya saya sambil menggerakkan jari di depan bibir saya.
“Ya..ya…”, kata oma dan opa itu sambil manggut-manggut (Alhamdulillaah, batin saya), “Can you tell me how to fill the gasoline?“, tanya saya lagi.

 

wp-1459694432203.jpg

Struk Bensin Mandiri

 

Dan sang oma menjawab pertanyaan saya dengan Bahasa Belanda! Waduhh, kepriye iki son?* Tapi dia nampaknya tahu apa yang saya perlukan, jadi dia tetap mendekati saya dan mencoba menunjukkan caranya dengan kode-kode tangan dan sesekali berkata dalam Bahasa Belanda yang sudah jelas saya tidak pahami. Sempat beberapa kali gagal sampai akhirnya saya putuskan untuk mencoba mengganti kartu kredit saya dengan kartu debit syariah saya. Nah, ternyata kok malah bisa ya!

 

Alhamdulillaah, sebuah struk keluar setelah saya mengisi nominal 30 Euro. Ternyata dari jumlah itu hanya 24 Euro yang digunakan untuk mengisi bensin, artinya sisanya yang 6 Euro dianggap itu pajaknya!

 

 

 

D’OLDE ZWARVER

Refresh! Lega rasanya melihat tangki bensin sudah terisi penuh. Harga perliter bensin saat itu sekitar 1.2 Euro perliter. Kalau dikalikan dengan kurs Rp. 15,000 / euro berarti perliter bensin kualitas oktan 95 sekitar Rp. 18,000/liter. Tapi kata orang kalau sedang travelling seperti ini jangan terlalu mengalikan kurs, yang ada bawaanya jadi stress, hehehe. Lagipula kita juga perlu menilik berapa nilai psikologis uang 1 Euro terhadap suatu barang, yang menurut beberapa orang itu mirip dengan nilai Rp. 10,000 di Indonesia. Jadi ya sebenarnya harga bensin itu tidak semahal yang dibayangkan.

wp-1459726415695.png

Rute Perjalanan dari Kampen menuju Monschau (Jerman)

Dan perjalanan berlanjut. Perjalanan menurut peta Google menunjukkan durasi 3 jam saja. Jadi diharapkan sekitar jam 4 sore kita sudah sampai di Monschau. Kami berencana menunda makan siang kami sejenak dan berencana masak nasi dengan beras dan rice cooker yang kami bawa dari Indonesia, tentunya dengan teri kacang dan kering kentang. Perjalanan kami terhenti sejenak karena melihat sebuah kincir angin tua tepat di pinggir jalan. Setelah memarkirkan kendaraan, kami langsung berjalan mendekati kincir angin tua itu.

Menarik sekali bisa melihat langsung kincir angin tua seperti ini di Belanda yang selama ini hanya bisa kita lihat di Holland Bakery saja. Tidak semua kincir angin model ini masih beroperasi di Belanda. Termasuk kincir angin tua Zwarver ini.

 

 

Membayangkan perjalanan 284 km di rute yang didominasi oleh jalan tol nampaknya akan menjadi perjalanan yang cukup membosankan. Dan akhirnya di tengah-tengah perjalanan setelah melawati perbatasan Belanda dan Jerman, kami memutuskan untuk mengambil jalur keluar tol dan menyetel GPS kami ke dynamic route yang membawa kami ke tur keluar masuk kampung di Jerman. Walaupun rute yang ditempuh lebih pendek, namun waktu tempuh kami menjadi sekitar  jam lebih lama dari rencana sebelumnya.

 

A SNOWY MONCHAU

Mendekati Monschau, kami disuguhi pemandangan ekstrim yang tidak kami harapkan sebelumnya. HUJAN SALJU! Well, tadinya kami berpikir Monschau akan lebih akan menjadi negeri satu derajat lebih hangat dari Giethoorn. Rumah-rumah dengan gundukan salju setinggi hampir setengah meter, sesekali ada orang yang menyekop salju hanya untuk bisa membuat mobilnya lewat. Interesting view!

Bahkan saking ndesonya, istri saya ingin minta turun di pinggir jalan untuk foto selfie. Dan akhirnya saya menepi sambil pura-pura gak kenal sama cewek yang lagi foto-foto di tengah hujan salju itu hahaha.

 

 

Monschau terletak di bagian barat Jerman, tepatnya di distrik bernama Aachen yang berbatasan langsung dengan Belgia dan Belanda. Aachen sendiri adalah kota tempat B.J. Habibie bersekolah. Tepatnya di RWTH (Rheinisch-Westfälische Technische Hochschule) Aachen, universitas teknik terbaik di Jerman.

Hujan salju masih mengguyur Monchau ketika kami masuk di kota tua Monschau. Kami tepikan mobil persis di depan Hotel Horchem tempat kami menginap. Kami turunkan koper di depan hotel karena VW Polo ini harus diparkir di tempat khusus berjarak sekitar 200 meter dari hotel.

“The is no Lift in Monschau”

What! Serius nih? Setengah tak percaya kami mendengar penjelasan sang resepsionis. Jadi kami harus mengangkat koper ini sendiri ke lantai 3? Hehe, okay…nikmati saja ya. HOtel Horchem adalah hotel bintang 3 di kota tua ini. Justru kesederhanaannya menjadi sensasi tersendiri ketika menginap di sini. Ok, kami ingin buru-buru menaruh koper dan menikmati salju di sore hari sebelum matahari terbenam.

 

 

Sore ini kami sempatkan berkeliling Monchau dengan berjalan kaki karena kota ini tidak terlalu luas. Dan kami sempat mampir di toko baju yang dimiliki oleh orang Pakistan sambil bertanya apakah ada restoran halal di Monchau. Jawabannya yang kurang meyakinkan akhirnya membawa kami naik kembali ke kamar setelah matahari terbenam. Dan kembali kami keluarkan rice cooker andalan punya Lia. Ditemani mie goreng instan dan kering tempe buatan bibi dan anggur yang dibeli di Giethoorn, selalu menjadi momen makan paling ditunggu selama perjalanan di Eropa. Good night everyone!

 

20160306_205757

TO BE CONTINUED

 

Categories: Travelling
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: