Iman yang Tak Terwaris

Self Collection
Seseorang berdoa di depan Multazam

Awal Mei 2017, saya membersamai perjalanan monumental seorang muallaf. Pemuda berusia awal 30-an yang berangkat bersama istri yang dinikahinya di akhir tahun 2016 pasca dia memeluk Islam. Sebut saja namanya Mas Boy.

Beberapa kali Mas Boy sempat mengurungkan niatnya mengikuti perjalanan ini.

“Kayaknya saya belum siap deh. Saya tidak tahu apa yang saya harus lakukan nanti di sana”

Raut wajah gundah terlihat.
Semacam pelajar yang mau menghadapi ujian negara. Namun istrinya selalu menguatkan niatnya untuk tetap ikut dalam perjalanan ini.

Ya, untuk seorang yang baru belum genap setahun memeluk Islam, perjalanan umroh pasti akan menyimpan kegalauan tersendiri. Jangankan Mas Boy, terkadang kami-kami yang sudah mengenal Islam sejak lahirpun sering galau. Kenapa rupanya?

Ya, galaunya terkadang muncul karena seseorang sering dibuat panik dengan bacaan doa yang perlu dibaca. Doa-doa itu tercetak di buku tebal, mungkin ratusan halaman, yang dianggap perlu dihafalkan atau dilafadzkan saat menjalani rangkaian ritual umroh. Dan itu juga yang sempat dirasakan Mas Boy.

ITU TSA MAS, BUKAN SA

Setelah melewati beberapa kali diskusi ringan, akhirnya Mas Boy membulatkan niatnya. Beberapa orang memberikan masukan pada Mas Boy untuk menghidupkan hati, karena selain fisik, hubungan kalbu dengan Rabb-nya di tanah yang suci ini menjadi peran penting dalam suksesnya perjalanan umroh.

“Hidupkan hatimu Mas. Rasakan apa yang kamu rasakan. Lihat yang kamu lihat. Dan dengar yang kamu dengar. Setiap hal yang kamu lihat, dengar dan rasakan di sana adalah hikmah”

Di Masjid Nabawi, setelah sholat subuh dan dzuhur di hari pertama kami menjejakkan hari di Madinah, saya merasa menjadi orang yang paling egois.

Saya lihat Mas Boy bingung apa yang harus dilakukannya setelah sholat. Sementara dia melihat ratusan orang sedang sibuk dalam bacaan Qur’an. Beberapa yang lain asyik berdiskusi tentang ilmu agama. Sementara ada juga yang menyengajakan dirinya mendengar kajian-kajian ilmu yang diadakan di sudut-sudut Masjid Nabi ini.

“Sudah bisa baca huruf Arab Mas?”, tanya saya.
“Nuke (istri Mas Boy – pen) sudah ajarkan beberapa, belum banyak”, jawabnya.
“Mau saya ajarkan?”, tawar saya.

Tanpa menunggu jawabannya, saya membuka buku catatan kecil di tas selempang hitam yang selalu saya bawa kemana-mana.

Saya robek beberapa halaman dan membagi setiap halaman menjadi 6 bagian. Pelan-pelan saya tuliskan huruf hijaiyah di robekan-robekan kertas berukuran 2 x 2 cm itu.

A. BA. TA. TSA. JA. HA. KHO…

Dan kami memulai rutinitas itu setiap selesai beberapa sholat fardhu sampai selama kami berada di Madinah.

“Ini ‘tsa’ mas, bukan ‘sa'”, kata saya sambil menjepitkan ujung lidah saya diantara geligi atas dan bawah sambil meniup ringan mendesiskan lafadz antara ‘ta’ dan ‘sa’.

Bukan hal mudah ternyata buat Mas Boy, namun semangatnya untuk mahir mengucapnya membuat saya terkesan. Tadinya saya khawatir dia malu kalau sampai harus diajari membaca huruf-huruf ini seperti anak SD. Tapi ternyata perkiraan saya salah total.

Huruf Hijaiyah tulisan Mas Boy


SEMANGAT MEMBARA

Di suatu saat, satu jam menjelang sholat Jumat, shaf-shaf terdepan masjid Nabawi ini sudah disesaki jamaah. Luar biasa memang semangat beribadah sahabat-sahabat dari seantero bumi ini.

Seperti biasa, saya berniat membuka robekan-robekan huruf yang sudah saya tuliskan untuk Mas Boy. Tapi kondisi yang sudah agak sesak membuat saya kesulitan. Akhirnya saya putuskan untuk membantu Mas Boy menulis.

Saya berikan contoh untuk diulang 9 kali. Mungkin persis seperti buku lembar siswa taman kanak-kanak ketika belajar alfabet. Sekaligus digabung dengan pelajaran tanda baca. Ya, setahu yang saya bisa, saya ajarkan. Sampai huruf ‘ain.

“… ‘a, ‘i, ‘u…”

Agak sulit Mas Boy melafadzkan huruf yang ini. da penekanan di pangkal tenggorokan untuk mengucapnya.

“..’a, ‘a, ‘a…”

Sampai seseorang di depan kami menengok pada kami. Mungkin dari Irak. Dia tersenyum pada kami dan membalikkan badannya. Dengan bahasa pengantar yang tidak kami pahami, dia dengan tulus membantu Mas Boy melafadzkan huruf ini.

 

BUKAN JAMINAN

Saya, yang merasa “mewarisi” Islam dari orang tua dan lingkungan saya, tidak berarti akan lebih baik, lebih pintar, lebih sholeh dibandingkan Mas Boy. Bahkan di beberapa hal, saya merasa Mas Boy saat itu lebih merasakan nikmatnya iman dibanding saya.   

Jadi ingat lagu Raihan….

Iman adalah mutiara
Yang menyakini Allah
Maha Esa Maha Kuasa

Tanpamu iman bagaimanalah
Merasa diri hamba padaNya
Tanpamu iman bagimanalah
Menjadi hamba Allah yang bertaqwa

Iman tak dapat diwarisi
Dari seorang ayah yang bertaqwa
Ia tak dapat dijual beli
Ia tiada di tepian pantai

Walau apapun caranya jua
Engkau mendaki gunung yang tinggi
Engkau merentas lautan api
Namun tak dapat jua dimiliki

Jika tidak kembali pada Allah

(By RAIHAN)

Banyak hal yang dia resapi dalam hidupnya dan dalam perjalanan singkat ini. Semangatnya luar biasa walau di hari kelima hidungnya mulai meler dan tubuhnya mulai demam, dia tetap sholat 5 waktu di Masjidil Haram. Bahkan sekali dia niatkan thawaf sunnah di pelataran Ka’bah di tengah terik matahari ba’da Dzuhur.

 Best Regards, 
The World of Gusnul Pribadi

Follow IG saya @gusnulpribadi
Follow IG komunitas saya @futureinc_id
Bergabung di channel http://t.me/gusnulpribadi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s