Antara Simpati, Empati & Toleransi

“Kamu sudah terlambat 5 menit, sebenarnya kamu sudah tidak boleh masuk. Tapi Pak Guru masih memberikan toleransi buatmu” 

screenshot_20170605-073510.png
Definisi Toleransi dalam Sebuah Kamus Mancanegara

Saya membuat contoh pernyataan di atas untuk menerjemahkan definisi kebanyakan kamus luar negeri untuk kata toleransi.

Mari perhatikan contoh pertama, bahwa Pak Guru tetap dalam kondisi tidak setuju dengan keterlambatan saya. Sampai kapanpun dia tidak setuju.

Namun Pak Guru memberikan saya toleransi untuk masuk kelas, duduk bersama dengan teman lain walaupun saya terlambat. Sebuah kondisi yang seharusnya tidak memberikan saya pilihan melainkan tidak dapat memasuki kelas.

Memberikan izin pada saya untuk masuk kelas tidak cukup membuat saya punya dasar untuk menganggap Pak Guru menyetujui perilaku saya.


PARADIGM SHIFT

Mengapa saya sengaja mengambil snapshot kamus-kamus mancanegara seperti Oxford, Merriam Webster dan Cambridge? Well, karena mereka konsisten dan cukup mirip dan konsisten dalam mendefiniskan Toleransi. Walaupun KBBI juga menerangkan hal yang serupa.

Sedikit berbeda dengan salah satu definisi toleransi di Wikipedia yang akhirnya juga banyak dilansir oleh buku-buku pelajaran dan artikel-artikel masa kini.

Dari Wikipedia :

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Toleransi

Toleransi adalah suatu sikap saling menghormati dan menghargai antarkelompok atau antarindividu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya. Sikap toleransi menghindarkan terjadinya diskriminasi sekalipun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu kelompok masyarakat. Contoh sikap toleransi secara umum antara lain: menghargai pendapat dan/atau pemikiran orang lain yang berbeda dengan kita serta saling tolong-menolong untuk kemanusiaan tanpa memandang suku/ras/agama/kepercayaannya.

Yang jadi pertanyaan, apakah ‘tolong-menolong’ perlu dimasukkan di dalam rentang definisi toleransi?

NB : Agar tidak mispersepsi, tulisan ini bukan bermaksud untuk mengesampingkan “tolong-menolong untuk kemanusiaan tanpa memandang ras/suku/agama. Melainkan “hanya” untuk memisahkannya dari rentang definisi kata ‘toleransi’ agar tidak mengalami distorsi makna

Well,
Mari kita kembali ke kasus keterlambatan saya di kelas. Kira-kira apa yang kita akan pikirkan kalau kata tolong menolong digunakan untuk menjabarkan toleransi Pak Guru dalam konteks keterlambatan saya.

Apakah Pak Guru perlu menolong agar saya tidak terlambat, atau sebaliknya menolong agar terlambat. Nah, jadi bingung kan?

Oh iya, saya belum mengartikan definisi toleransi dari kamus-kamus yang saya kutip ya. Kira-kira seperti ini deh, ada sebuah kondisi yang tidak sesuai dengan diri kita, namun kita membiarkannya dalam batas yang kita sanggupi namun bukan dalam rangka menyetujuinya.

Intinya Pak Guru tidak setuju saya terlambat, sampai kapanpun beliau tidak akan setuju. Namun beliau memberikan toleransi. Dan saya tidak dapat merasa bahwa karena hari ini saya ditoleransi, maka besok-besok saya boleh terlambat lagi. No, no, no.

INTOLERANSI

Lalu apa jadinya definisi intoleransi. Ya kalau Anda sudah setuju dengan paparan saya di atas. Tentunya mudah untuk menjelaskan. Tapi kalau tidak setuju, Anda boleh bertoleransi pada saya. Membiarkan saya berpendapat seperti itu. Nah, aplikatif kan?

“Hari ini panas sekali, semoga tubuh saya masih bisa menoleransi kondisi ini.  Jangan sampai saya pingsan di jalan”

Intoleransi adalah jika saya tidak mengizinkan tubuh saya terpapar teriknya surya. Maka saya akan masuk ke dalam mal menikmati udara sejuk dalam keteduhan.

SIMPATI, EMPATI & TOLERANSI

 

 

 

 

In general, ‘sympathy’ is when you share the feelings of another; ’empathy’ is when you understand the feelings of another but do not necessarily share them.

 

Sumber :
https://www.merriam-webster.com/words-at-play/sympathy-empathy-difference?src=defrecirc-readthelatest

Kita mungkin hanya perlu memilih kata yang tepat untuk mendefinisikan sesuatu. Misalkan di bulan Ramadhan ini, siapa yang simpati, siapa yang empati dan siapa yang toleransi.

Kalau dari definisi di atas, dari sudut pandang pertama justru rekan Muslim yang perlu bertoleransi para sahabat nonmuslim.

Ada orang lain makan di siang hari bulan puasa adalah hal yang tidak cocok dengan perasaan saya . Namun saya menoleransi, saya menerima kenyataan bahwa ada orang yang makan di siang hari bulan puasa. Tipis, andai saya berpikir bahwa  “Orang ini tidak menghormati orang lain yang sedang berpuasa” , tapi ya sudah… saya menoleransi situasi dan rasa hati saya.

Namun bisa saja kondisinya berbalik, sudut pandang kedua adalah sahabat nonmuslim perlu bertoleransi pada umat Muslim.

Adalah bahwa makan adalah hak semua manusia, maka bulan puasa membatasi haknya untuk dapat makan di tempat yang diinginkan. Maka dalam hal ini, sahabat nonmuslim akan menoleransi ketidaknyamanan dirinya untuk tidak dapat makan bebas dimanapun.

Jadi judulnya : saling bertoleransi.

Apapun sudut pandangnya, maka yang diperlukan oleh pihak yang menoleransi adalah empati. Pahami perasaan pihak lain, walau kita tidak mengatakannya.
DIMANA INTOLERANSINYA?

Sederhana, ketika seseorang tidak mengizinkan orang lain untuk menjalankan dan merasakan sesuatu yang dia yakini. Karena hal itu berbeda dengan keyakinan dia.

Pak Guru, ketika dia tidak mengizinkan saya masuk kelas. Maka saya akan melontarkan alasan-alasan tepat (mungkin) dari ban bocor sampai saudara dekat sakit. Namun, tak satupun alasan tepat itu membuat Pak Guru mengizinkan saya masuk. Beliau bergeming dengan keputusannya. LATE IS LATE. NO TOLERANCE! ABSOLUTE!

Lalu teman-teman di kelaspun punya pendapat berbeda-beda :

Sebagian haru, mengasihani saya. Mereka membuat pembelaan-pembelaan pada Pak Guru untuk membuat saya dapat masuk kelas.

Sebagian lagi, bersikukuh berpendapat  dengan Pak Guru. Bahwa peraturan akan hilang pada saat pertama kali dilanggar dan pelanggarannya dibiarkan.

Well, nampaknya perlu ada saling toleransi lagi di lapis kedua ini.

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

Advertisements

One thought on “Antara Simpati, Empati & Toleransi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s