Antara Simpati, Empati & Toleransi

“Kamu sudah terlambat 5 menit, sebenarnya kamu sudah tidak boleh masuk. Tapi Pak Guru masih memberikan toleransi buatmu” 

Definisi Toleransi dalam Sebuah Kamus Mancanegara

Saya membuat contoh pernyataan di atas untuk menerjemahkan definisi kebanyakan kamus luar negeri untuk kata toleransi. 

Mari perhatikan contoh pertama, bahwa Pak Guru tetap dalam kondisi tidak setuju dengan keterlambatan saya. Sampai kapanpun dia tidak setuju.

Namun Pak Guru memberikan saya toleransi untuk masuk kelas, duduk bersama dengan teman lain walaupun saya terlambat. Sebuah kondisi yang seharusnya tidak memberikan saya pilihan melainkan tidak dapat memasuki kelas.

Memberikan izin pada saya untuk masuk kelas tidak cukup membuat saya punya dasar untuk menganggap Pak Guru menyetujui perilaku saya.


PARADIGM SHIFT

Mengapa saya sengaja mengambil snapshot kamus-kamus mancanegara seperti Oxford, Merriam Webster dan Cambridge? Well, karena mereka konsisten dan cukup mirip dan konsisten dalam mendefiniskan Toleransi. Walaupun KBBI juga menerangkan hal yang serupa.

Sedikit berbeda dengan salah satu definisi toleransi di Wikipedia yang akhirnya juga banyak dilansir oleh buku-buku pelajaran dan artikel-artikel masa kini.

Dari Wikipedia :

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Toleransi

Toleransi adalah suatu sikap saling menghormati dan menghargai antarkelompok atau antarindividu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya. Sikap toleransi menghindarkan terjadinya diskriminasi sekalipun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu kelompok masyarakat. Contoh sikap toleransi secara umum antara lain: menghargai pendapat dan/atau pemikiran orang lain yang berbeda dengan kita serta saling tolong-menolong untuk kemanusiaan tanpa memandang suku/ras/agama/kepercayaannya.

Yang jadi pertanyaan, apakah ‘tolong-menolong’ perlu dimasukkan di dalam rentang definisi toleransi?

NB : Agar tidak mispersepsi, tulisan ini bukan bermaksud untuk mengesampingkan “tolong-menolong untuk kemanusiaan tanpa memandang ras/suku/agama. Melainkan “hanya” untuk memisahkannya dari rentang definisi kata ‘toleransi’ agar tidak mengalami distorsi makna

Well,
Mari kita kembali ke kasus keterlambatan saya di kelas. Kira-kira apa yang kita akan pikirkan kalau kata tolong menolong digunakan untuk menjabarkan toleransi Pak Guru dalam konteks keterlambatan saya.

Apakah Pak Guru perlu menolong agar saya tidak terlambat, atau sebaliknya menolong agar terlambat. Nah, jadi bingung kan?

Oh iya, saya belum mengartikan definisi toleransi dari kamus-kamus yang saya kutip ya. Kira-kira seperti ini deh, ada sebuah kondisi yang tidak sesuai dengan diri kita, namun kita membiarkannya dalam batas yang kita sanggupi namun bukan dalam rangka menyetujuinya.

Intinya Pak Guru tidak setuju saya terlambat, sampai kapanpun beliau tidak akan setuju. Namun beliau memberikan toleransi. Dan saya tidak dapat merasa bahwa karena hari ini saya ditoleransi, maka besok-besok saya boleh terlambat lagi. No, no, no.

INTOLERANSI

Lalu apa jadinya definisi intoleransi. Ya kalau Anda sudah setuju dengan paparan saya di atas. Tentunya mudah untuk menjelaskan. Tapi kalau tidak setuju, Anda boleh bertoleransi pada saya. Membiarkan saya berpendapat seperti itu. Nah, aplikatif kan?

“Hari ini panas sekali, semoga tubuh saya masih bisa menoleransi kondisi ini.  Jangan sampai saya pingsan di jalan”

Intoleransi adalah jika saya tidak mengizinkan tubuh saya terpapar teriknya surya. Maka saya akan masuk ke dalam mal menikmati udara sejuk dalam keteduhan. 

SIMPATI, EMPATI & TOLERANSI

In general, ‘sympathy’ is when you share the feelings of another; ’empathy’ is when you understand the feelings of another but do not necessarily share them.

Sumber : 
https://www.merriam-webster.com/words-at-play/sympathy-empathy-difference?src=defrecirc-readthelatest

Kita mungkin hanya perlu memilih kata yang tepat untuk mendefinisikan sesuatu. Misalkan di bulan Ramadhan ini, siapa yang simpati, siapa yang empati dan siapa yang toleransi.

Kalau dari definisi di atas, dari sudut pandang pertama justru rekan Muslim yang perlu bertoleransi para sahabat nonmuslim.

Ada orang lain makan di siang hari bulan puasa adalah hal yang tidak cocok dengan perasaan saya . Namun saya menoleransi, saya menerima kenyataan bahwa ada orang yang makan di siang hari bulan puasa. Tipis, andai saya berpikir bahwa  “Orang ini tidak menghormati orang lain yang sedang berpuasa” , tapi ya sudah… saya menoleransi situasi dan rasa hati saya.

Namun bisa saja kondisinya berbalik, sudut pandang kedua adalah sahabat nonmuslim perlu bertoleransi pada umat Muslim.

Adalah bahwa makan adalah hak semua manusia, maka bulan puasa membatasi haknya untuk dapat makan di tempat yang diinginkan. Maka dalam hal ini, sahabat nonmuslim akan menoleransi ketidaknyamanan dirinya untuk tidak dapat makan bebas dimanapun. 

Jadi judulnya : saling bertoleransi. 

Apapun sudut pandangnya, maka yang diperlukan oleh pihak yang menoleransi adalah empati. Pahami perasaan pihak lain, walau kita tidak mengatakannya. 
DIMANA INTOLERANSINYA?

Sederhana, ketika seseorang tidak mengizinkan orang lain untuk menjalankan dan merasakan sesuatu yang dia yakini. Karena hal itu berbeda dengan keyakinan dia.

Pak Guru, ketika dia tidak mengizinkan saya masuk kelas. Maka saya akan melontarkan alasan-alasan tepat (mungkin) dari ban bocor sampai saudara dekat sakit. Namun, tak satupun alasan tepat itu membuat Pak Guru mengizinkan saya masuk. Beliau bergeming dengan keputusannya. LATE IS LATE. NO TOLERANCE! ABSOLUTE!

Lalu teman-teman di kelaspun punya pendapat berbeda-beda : 

Sebagian haru, mengasihani saya. Mereka membuat pembelaan-pembelaan pada Pak Guru untuk membuat saya dapat masuk kelas.

Sebagian lagi, bersikukuh berpendapat  dengan Pak Guru. Bahwa peraturan akan hilang pada saat pertama kali dilanggar dan pelanggarannya dibiarkan.

Well, nampaknya perlu ada saling toleransi lagi di lapis kedua ini. 

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi 

Advertisements

Iman yang Tak Terwaris

Self Collection
Seseorang berdoa di depan Multazam

Awal Mei 2017, saya membersamai perjalanan monumental seorang muallaf. Pemuda berusia awal 30-an yang berangkat bersama istri yang dinikahinya di akhir tahun 2016 pasca dia memeluk Islam. Sebut saja namanya Mas Boy.

Beberapa kali Mas Boy sempat mengurungkan niatnya mengikuti perjalanan ini.

“Kayaknya saya belum siap deh. Saya tidak tahu apa yang saya harus lakukan nanti di sana”

Raut wajah gundah terlihat.
Semacam pelajar yang mau menghadapi ujian negara. Namun istrinya selalu menguatkan niatnya untuk tetap ikut dalam perjalanan ini.

Ya, untuk seorang yang baru belum genap setahun memeluk Islam, perjalanan umroh pasti akan menyimpan kegalauan tersendiri. Jangankan Mas Boy, terkadang kami-kami yang sudah mengenal Islam sejak lahirpun sering galau. Kenapa rupanya?

Ya, galaunya terkadang muncul karena seseorang sering dibuat panik dengan bacaan doa yang perlu dibaca. Doa-doa itu tercetak di buku tebal, mungkin ratusan halaman, yang dianggap perlu dihafalkan atau dilafadzkan saat menjalani rangkaian ritual umroh. Dan itu juga yang sempat dirasakan Mas Boy.

ITU TSA MAS, BUKAN SA

Setelah melewati beberapa kali diskusi ringan, akhirnya Mas Boy membulatkan niatnya. Beberapa orang memberikan masukan pada Mas Boy untuk menghidupkan hati, karena selain fisik, hubungan kalbu dengan Rabb-nya di tanah yang suci ini menjadi peran penting dalam suksesnya perjalanan umroh.

“Hidupkan hatimu Mas. Rasakan apa yang kamu rasakan. Lihat yang kamu lihat. Dan dengar yang kamu dengar. Setiap hal yang kamu lihat, dengar dan rasakan di sana adalah hikmah”

Di Masjid Nabawi, setelah sholat subuh dan dzuhur di hari pertama kami menjejakkan hari di Madinah, saya merasa menjadi orang yang paling egois.

Saya lihat Mas Boy bingung apa yang harus dilakukannya setelah sholat. Sementara dia melihat ratusan orang sedang sibuk dalam bacaan Qur’an. Beberapa yang lain asyik berdiskusi tentang ilmu agama. Sementara ada juga yang menyengajakan dirinya mendengar kajian-kajian ilmu yang diadakan di sudut-sudut Masjid Nabi ini.

“Sudah bisa baca huruf Arab Mas?”, tanya saya.
“Nuke (istri Mas Boy – pen) sudah ajarkan beberapa, belum banyak”, jawabnya.
“Mau saya ajarkan?”, tawar saya.

Tanpa menunggu jawabannya, saya membuka buku catatan kecil di tas selempang hitam yang selalu saya bawa kemana-mana.

Saya robek beberapa halaman dan membagi setiap halaman menjadi 6 bagian. Pelan-pelan saya tuliskan huruf hijaiyah di robekan-robekan kertas berukuran 2 x 2 cm itu.

A. BA. TA. TSA. JA. HA. KHO…

Dan kami memulai rutinitas itu setiap selesai beberapa sholat fardhu sampai selama kami berada di Madinah.

“Ini ‘tsa’ mas, bukan ‘sa'”, kata saya sambil menjepitkan ujung lidah saya diantara geligi atas dan bawah sambil meniup ringan mendesiskan lafadz antara ‘ta’ dan ‘sa’.

Bukan hal mudah ternyata buat Mas Boy, namun semangatnya untuk mahir mengucapnya membuat saya terkesan. Tadinya saya khawatir dia malu kalau sampai harus diajari membaca huruf-huruf ini seperti anak SD. Tapi ternyata perkiraan saya salah total.

Huruf Hijaiyah tulisan Mas Boy


SEMANGAT MEMBARA

Di suatu saat, satu jam menjelang sholat Jumat, shaf-shaf terdepan masjid Nabawi ini sudah disesaki jamaah. Luar biasa memang semangat beribadah sahabat-sahabat dari seantero bumi ini.

Seperti biasa, saya berniat membuka robekan-robekan huruf yang sudah saya tuliskan untuk Mas Boy. Tapi kondisi yang sudah agak sesak membuat saya kesulitan. Akhirnya saya putuskan untuk membantu Mas Boy menulis.

Saya berikan contoh untuk diulang 9 kali. Mungkin persis seperti buku lembar siswa taman kanak-kanak ketika belajar alfabet. Sekaligus digabung dengan pelajaran tanda baca. Ya, setahu yang saya bisa, saya ajarkan. Sampai huruf ‘ain.

“… ‘a, ‘i, ‘u…”

Agak sulit Mas Boy melafadzkan huruf yang ini. da penekanan di pangkal tenggorokan untuk mengucapnya.

“..’a, ‘a, ‘a…”

Sampai seseorang di depan kami menengok pada kami. Mungkin dari Irak. Dia tersenyum pada kami dan membalikkan badannya. Dengan bahasa pengantar yang tidak kami pahami, dia dengan tulus membantu Mas Boy melafadzkan huruf ini.

 

BUKAN JAMINAN

Saya, yang merasa “mewarisi” Islam dari orang tua dan lingkungan saya, tidak berarti akan lebih baik, lebih pintar, lebih sholeh dibandingkan Mas Boy. Bahkan di beberapa hal, saya merasa Mas Boy saat itu lebih merasakan nikmatnya iman dibanding saya.   

Jadi ingat lagu Raihan….

Iman adalah mutiara
Yang menyakini Allah
Maha Esa Maha Kuasa

Tanpamu iman bagaimanalah
Merasa diri hamba padaNya
Tanpamu iman bagimanalah
Menjadi hamba Allah yang bertaqwa

Iman tak dapat diwarisi
Dari seorang ayah yang bertaqwa
Ia tak dapat dijual beli
Ia tiada di tepian pantai

Walau apapun caranya jua
Engkau mendaki gunung yang tinggi
Engkau merentas lautan api
Namun tak dapat jua dimiliki

Jika tidak kembali pada Allah

(By RAIHAN)

Banyak hal yang dia resapi dalam hidupnya dan dalam perjalanan singkat ini. Semangatnya luar biasa walau di hari kelima hidungnya mulai meler dan tubuhnya mulai demam, dia tetap sholat 5 waktu di Masjidil Haram. Bahkan sekali dia niatkan thawaf sunnah di pelataran Ka’bah di tengah terik matahari ba’da Dzuhur.

 Best Regards, 
The World of Gusnul Pribadi

Follow IG saya @gusnulpribadi
Follow IG komunitas saya @futureinc_id
Bergabung di channel http://t.me/gusnulpribadi

Unitlink dan Bawang Ketoprak

Tol Jakarta – Merak , 27 April 2018

Yang spesial dari komoditas yang satu ini bahwa hampir seluruh menu masakan indonesia menggunakan benda ini untuk membangkitkan rasa gurih ketika dipadu dengan garam.

Betul, dia adalah BAWANG.

Dan tahukah bahwa harga bawang ini sangat fluktuatif sampai-sampai ada laman khusus dari pemerintah untuk memantau harga bawang harian. Ya, HARIAN.

Silakan dicek di sini :

https://ews.kemendag.go.id/bawangmerah/DailyPriceBawang.aspx

Dan marilah kita simak kisah kedua warung ketoprak di bilangan Jakarta Selatan ini. Keduanya sama-sama ramai dan citarasanya yang mantap. Kata orang-orang, bawangnya berani!


WARUNG
HEMAT
Sesuai namanya, hemat di biaya. Itu aja.


WARUNG
TEPAT
Ada yang unik sama warung ini. Tiap pelanggannya punya semacam kartu member. Di harganya tercantum tambahan beberapa rupiah. Namanya “biaya kenikmatan”.

***

Suatu hari di tahun 2015

Harga bawang naik cukup signifikan. Hari-hari pertama Warung Hemat masih bertahan. Namun lama-lama mereka sudah tidak kuat menyajikan ketoprak dengan cita rasa dahsyatnya. Pelanggan mulai merasa tidak nyaman.

Pekan berikutnya, Warung Hemat berpikir bahwa mereka tida ingin lagi mengorbankan rasa. Dan konsekuensinya, mereka menaikkan harga ketoprak andalannya 20% dari harga normalnya. Kembali, beberapa pelanggan cemberut dibuatnya.

Serba salah..

Tapi mari kita tengok Warung Tepat. Pelanggannya tetap ramai seperti biasa. Membernya tetap menikmati hidangan favorit mereka dengan senyum. Ada apa?

Ternyata para member ini baru merasakan apa yang selama ini mereka ikhlaskan. Biaya kenyamanan ini yang tetap membuat cita rasa Ketopraknya terjaga.

Di saat harga bawang melonjak naik, biaya simpanan ini yang membuat para pelanggan ini tetap menikmati semaian bawang di dalam bumbu Ketoprak favorit mereka.

Bahkan saat pelanggan tidak punya uang buat makan, mereka boleh ambil “tabungannya” untuk tetap menikmati ketoprak nikmat seperti hari-hari biasanya.

***

Sahabat,
Tidak ada yang salah dalam keduanya.
Yang ada hanyalah konsekuensi atas pilihan.

Saat Warung Hemat tetap memaksakan diri untuk memberikan citarasa normal dengan harga normal dalam kondisi harga bawang yang sedang naik, maka secara teknis akan ada penurunan profit, operasional yang dipangkas : AC yang tak lagi dinyalakan, pegawai yang perlu dikurangi, sampai mungkin harus pindah ke tempat yang lebih kecil untuk mengurangi biaya sewa.

Kita sebagai pelanggan mungkin akan bilang ,”Ya itu kan risiko Anda buka warung Ketoprak”. ^_^

Dan kita lihat bagaimana Warung Tepat mencoba mengamankan kenyamanan pelanggannya. Mereka  menyimpankan uang pelanggannya untuk jaga-jaga kalau di masa depan harga cabe atau bawang naik, para pelanggan tetap mendapatkan kenyamaman seperti biasa dari harga dan cita rasa. Dan , uang kenyamanan itu tetaplah milik pelanggan. Warung Tepat hanya menyimpankannya….

***

Dan itulah kira-kira Unit Link.
Ini adalah program ASURANSI (syariah) yang berbasis investasi. BUKAN produk investasi.

Sebagian kecil dari premi yang dibayarkan disimpankan dalam bentuk unit investasi. Untuk apa? Untuk menjaga kenyamanan nasabahnya agar tetap dapat mendapatkan hak asuransi nya saat dibutuhkan.

• Saat kalau-kalau lupa bayar premi, maka biaya premi akan dibayarkan oleh cadangan unit investasi ini 

• Saat kalau-kalau gagal debet rekening yang dapat menyebabkan sebuah polis jadi nonaktif tanpa kita sadari, maka cadangan unit investasi ini yang mengamankan

• Saat kalau-kalau terjadi ketiadaan cashflow untuk membayar premi bulanan, maka biaya asuransi akan ditalangi oleh cadangan unit investasi ini sehingga polis tidak serta merta hangus

• Dan jika 3 hal di atas tidak harus terjadi, maka unit investasi cadangan yang tersimpan masih tetap menjadi milik nasabah.

Unit Link,
Justru penting untuk menjaga agar fungsi asuransinya dapat berjalan sesuai rencana sehingga keluarga kita tetap nyaman karenanya.

Yang terpenting, seseorang perlu menahami bagaimana produk fenomenal yang adil dan humanis ini bekerja agar dapat berfungai optimal.

Best Regards, 

The World of Gusnul Pribadi

Terpikat oleh Sang Pengusaha Muda

Dan kitapun harus #AlwaysLearn, belajar dari apapun, siapapun dan dimanapun. Dan kali ini seorang sosok muda bernama Rendy Saputra berhasil memikat hati saya.

Awalnya saya menonton klip YouTube beliau berjudul “Bisnis Kokoh, Bisnis Ayam Kampung”

Jadi, nampaknya saya akan meromendasikan Anda semua untuk berkunjung ke Sekolah Bisnis Dua Kodi Kartika atau #SBDKK , atau KLIK DISINI

 

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

Zaman Sudah Berubah

wp-1469486934605.jpg

Setiap kali melewati jalan-jalan tertentu di Jakarta ini, saya seringkali berucap pada istri saya,

Dulu ya, lewat jalan ini lancar banget, pulang kantor masih bisa jemput kamu dan pulang gak sampai 30 menit”

Istri sayapun tak mau kalah, dia juga tidak kalah membanggakan masa lalunya pada anak kami,

“Tahu gak nak, dulu setiap siang  bunda masih sempat lho pulang buat nyusuin kamu. Makan siang dan tidur sebentar. Dan balik ke kantor lagi”

Dan tiba-tiba saya sadar bahwa saya tidak lagi hidup di masa lalu, inilah Jakarta sekarang dimana WAKTU adalah barang mahal yang tidak bisa diputar kembali.

Continue reading “Zaman Sudah Berubah”

Kisah Puspa & Rini (based on a true story)

Nama-nama dalam kisah ini bukan nama sebenarnya.

Berapa yang datang hari ini?“,  suara di ujung telepon bertanya.

“Tiga mbak Puspa”

Wah, kalau gitu bilangin sama yang datang ya kalau saya gak datang ngajar aerobik hari ini“, sambung Puspa.

Baik mbak Puspa

Itulah Puspa, seorang instruktur aerobik senior di Sanggar Senam Bugar Langsing. Orangnya peduli, setiap gerakan anggotanya selalu dikoreksi dengan sabar. Gerakannya selalu variatif sehingga tidak membosankan. Pokonya, terbaiklah.

Berbeda dengan Rini. Sekali kelas, pesertanya sampai 30 orang. Tapi Rini tidak sepeduli Puspa, gerakannya pun biasa saja. Kalau ada gerakan pesertanya yang salah pun tidak pernah dikoreksi. Penghasilan Rini pun pasti lebih besar.

Kenapa bisa begitu?

Ternyata,  Rini lebih disiplin.
Dia selalu datang tepat waktu. Sehingga peserta kelasnya tidak perlu bertanya-tanya , “Hari ini instrukturnya datang gak ya?”

Sahabat,
Bukannya Puspa tidak baik, dia sangat kompeten dan peduli. Tapi fenomena nyata Puspa dan Rini ini membuktikan bahwa yang orang lebih memilih
“yang pasti selalu ada”.

Jadi…

Para suami,  bisa jadi kegantenganmu terkalahkan oleh pria yang “gak banget” yang selalu ada di dekat istrimu setiap kalian sedang tidak bersama.

Para istri, selalulah ada di dekat suamimu karena mungkin ada orang yang siap sedia di dekat suamimu mendengar keluhan kelaki-lakiannya.

Para pebisnis, konsistenlah “buka toko” dan eksis di bisnis Anda. Jangan sampai pas pelanggan butuh toko Anda sedang tutup. Mereka cuma perlu warung yang buka dibanding hypermarket yang tutup.

Para kolega tenaga pemasar asuransi, walaupun kita punya gelar RFP, CFP tapi kalau tidak diaplikasikan, kita bisa tertinggal oleh agen unyu-unyu yang konsisten beraktivitas. 

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi