Ingat Saya dalam Doamu (Bagian 2)

Saya buka iseng buku novel yang dibawa istriku dari Jakarta ke Tana Suci. Tulisan di halaman 157 di buku novel tulisan Asma Nadia dkk berjudul Catatan Hati di Setiap Doaku itu membuat saya terhenyak. Saya mendudukkan diri di samping tempat tidur dan membaca seksama kutipan hadits di halaman itu

“…di atas orang yang berdoa ada malaikat yang mewakili, setiap orang muslim mendoakan saudaranya pada kebaikan, maka malaikat yang mewakili itu berkata : “Juga untukmu seumpamanya” (HR Muslim)

Saya teringat kembali perkataan Kautsar Ilahi beberapa hari lalu,”Ingat aku dalam doamu…”

Subhanallah,
Dan tulisan di bawahnya tidak kalah membuat saya termenung,

“Ketika kita merasa ‘tak cukup baik’ dan karenanya kita sering diselipi keraguan akan terkabulnya doa. Ketika kita tak henti-hentinya meminta keluarga, sanak, famili, teman dan banyak lagi orang untuk mengucap doa bagi peliknya permasalahan hidup yang dihadapi, anak yang sakit, hutang membelit, penyakit yang tak kunjung sembuh.”

“Maka saatnya bukan hanya meminta doa dari orang lain, tetapi mencari saudara-saudara yang sedang dirundung masalah, lalu mulailah mennyusun doa yang khusuk dan panjang untuknya.”

Agar malaikat yang tak pernah lepas bertasbih menyembahNya, yang senantiasa suci dari kesalahan dan maksiat, akan berdoa : “Juga untukmu seumpamanya…”.

 

Best Regards,

The World of Gusnul Pribadi

Yang Tenggelam di Tengah Malam

Perjalanan ke negeri ini mungkin boleh dibilang sekali seumur hidup. Betapa tidak, selain karena letaknya yang sangat jauh (baca : mahal) , negeri yang sering dijuluki “Sunshine at Midnight” ini sangat berbeda dengan negeri-negeri tujuan pelancongan pada umumnya.

Alaska, negeri ini memang menjadi salah satu tempat tujuan wisata bagi pecinta olahraga es. Dan saya pastinya bukan salah satunya. Tentunya saya tidak akan dengan sengaja pergi ke negeri ini untuk berolahraga es. Negeri ini mungkin memiliki para penebang sipil terbanyak dibanding negara lain. Ratusan, mungkin ribuan pesawat pribadi dimiliki penduduk sipil untuk bisa mereka gunakan untuk liburan, terbang dan mendarat di danau-danau yang tersebar di wilayah Alaska ini.

Tapi bagaimanapun, perjalanan ke Alaska yang hampir di ujung dunia ini menjadi pengalaman indah yang bisa saya ceritakan.

Salah satu pengalaman saya di Alaska adalah menambang emas. Ya, emas. Walaupun aktivitas ini juga banyak dilakukan sebagian masayarakat di Indonesia, tapi justru saya mendapat pengalaman mendulang emas pertama kali di tempat yang bernama Crow Creek.

Crow Creek Alaska

Crow Creek Alaska

Lembah ini dialiri sungai yang terbentuk dari glasier es yang mencair selama beratus-ratus tahun lamanya. Untuk bisa masuk dan menambang sesuka hati di tempat ini, pengunjung dikenakan biaya $20 seharian. Andy, pemandu jalan kami, menunjukkan satu tube penuh dengan butiran-butiran emas yang dia kumpulkan dalam seminggu. Andy bilang bahwa dia bisa menjual emas temuannya itu ke sebuah tempat khusus. Dan tempat ini akan menghargai emasnya 70-80% dari nilai aslinya. Sebelum mereka nanti menjualnya lagi ke tempat pengolahan untuk dijadikan emas batangan atau koin.

Kami melalui jalan setapak tanah menyusuri lembah di bawah barisan cemara dna langit yang sangat biru. Setelah perjalanan sekitar 200-300 meter, kami sampai di sebuah sungai dengan aliran air yang cukup deras. Di sana sudah disiapkan piringan yang terbuat dari plastik dan tube kaca kecil berisi air.

Andy menaruh segenggam tanah di piring plastik itu, dan mengambil air dari bagian pinggir sungai deras itu. Seperti yang saya duga, dia memutar-mutar piringan itu seperti umumnya para pendulang emas yang sering kita lihat di TV. Tak lama, dia menunjukkan pada saya titik seperti serpihan abu, tapi berwarna emas dan dia mengambil serpihan itu dengan jari kelingkingnya.

There you go, your gold. You can try

Dia memberikan piringan itu pada saya, dengan tanah masih terburai di dalamnya. Saya langsung jongkok, mengambil air dan mulai memutar-mutar piringan persis yang Andy lakukan. Persis menurut saya. Andy tersenyum dan mengambil piringanya dari tangan saya.

Andy berkata, “Kamu tahu, emas adalah logam yang berat. Lebih berat dari batu. Jadi ketika kamu putar perlahan tanah ini dengan air. Kumpulkan tanah itu di salah satu sisi piringan. Lalu miringkan piringan itu sehingga tanahnya berada di bagian tas dan airnya berada di bawah…”

“Ok. Lalu bagaimana selanjutnya?, tanya saya

“Setelah itu, kamu putar piringnya dengan sangat perlahan, seperti mengayak pasir, sehingga airnya mengalir melalui tanah itu dan sebagian materialnya akan terbawa ke bawah. Sementara, karena emas itu berat. Dia akan tetap tertinggal di bagian atas.”

Andy melanjutkan, “Kamu harus meyakini prosesnya, kamu juga harus meyakini bahwa materi emas itu berat. Jadi kamu tidak perlu sampai harus memelototi tanah itu untuk mendapatkan emasnya. Lakukan saja prosesnya, dan emas itu akan muncul.”

Butuh perjuangan untuk mendapatkan serpihan kecil ini

Butuh perjuangan untuk mendapatkan serpihan kecil ini

Ya, Tuhan…
Harus super sabar. Tidak lemah. Tidak menyerah. Tidak putus asa. Memutar-mutar piringan ini untuk mengumpulkan serpihan-serpihan emas yang sangat kecil. Saya teringat tube yang Andy miliki. Saya mulai bisa menghargai bagaimana Andy bekerja keras untuk mendapatkan emas sebanyak itu. Saya simpan 2 serpihan emas temuan saya itu, saya simpan dalam tube kaca dan saya bawa pulang. Sangat menyenangkan kalau Anda bisa mengocok tube kecil ini, saking beratnya emas ini, dia bisa bergerak dalam air sekencang batu yang kita taruh dalam botol tanpa air. Suaranya berdenting sangat merdu dalam tube kaca itu.

 

It's Sundown at Midnight

It’s Sundown at Midnight

Hari pertama di Anchorage ini saya tutup dengan mengingat kembali lagu Fariz RM di album Living in The Western World : “Sundown at Midnight” di bagian utara bola dunia ini. Jam 23.45 saya ambil sarung dan sajadah saya dari koper, memandang ke jendela menanti matahari terbenam dan bersiap sholat magrib yang dijamak takdim dengan sholat isya. Well, sunset at (almost) midnight.

***

Sebuah terowongan kecil sepanjang 4 km harus kami lewati untuk menuju kawasan bernama Whittier. Terowongan ini hanya bisa dilewati bus yang kami naiki, satu arah. Dan di bawah bus kami terdapat rel kereta! Ya, rel kereta! Artinya mereka harus berbagi terowongan tersebut dengan kereta api Alaska Express tujuan Whittier.

Terowongan Menuju Whittier

Terowongan Menuju Whittier

Ya, Anda bisa tebak, untuk melewati terowongan itu harus bergantian. Bus kami sampai di depan terowongan jam 11.30. 15 menit lebih awal dari jam pembukaan trafik ke arah Whittier. Tepat jam 11.45 pintu dibuka dan bus kami menyusuri lorong gelap menembus gunung cadas. Sepanjang terowongan ada beberapa titik untuk menyelamatkan diri dalam kondisi darurat. Ada 8 pintu kecil bertuliskan ‘safe house’ dimana menurut Lynn, pemandu bus kami, berisi persediaan makanan dan minuman kalau harus dipergunakan dalam kondisi darurat.

Secercah cahaya terlihat, tak lama bus kami keluar dari dasar bukit cadas sepanjang 4 km menyapa sebuah hamparan danau yang yang sangat indah. Tak jauh dari mulut terowongan, sebuah kapal bertuliskan Klondike Express tertambat di pelabuhan. Kapal yang akan kami naiki hari itu.

Perjalanan 4 jam di atas Klondike Express diawali dengan makan siang. Menunya ayam dan nasi. Alhamdulillah masih ada nasi, karena saya tak menyentuh semua yang berwujud daging dan ayam di perjalanan saya kali ini kecuali memang sudah dideklarasikan halal secara proses. Oh iya sudah baca kisah perjalanan saya di negeri Magyar? Kalau belum, nanti boleh mampir ke SINI ya.

Selepas makan, pandangan kami ditambatkan pada gunung-gunung dengan puncak yang masih tertutup salju. Di musim panas ini tentunya tak semua bagian gunung tertutup salju. Layar televisi di dalam kapal menunjukkan posisi kami berdasarkan GPS, menuju titik tujuan utama kami hari itu. Melihat beberapa glasier yang sudah terbentuk ratusan tahun yang lalu.

Sepanjang perjalanan kami menemui banyak hewan yang fenomenal, salah satu yang jadi perhatian utama kami adalah seekor Paus bungkuk yang menyemburkan nafasnya beberapa kali dari paru-parunya membentuk semburan air dengan suara semprotan yang khas. Paru-paru? Ya, Anda tahu kalau paus bukan ikan, jadi saya sebut ‘paus’ saja, bukan ‘ikan paus’ :)

Tak lama kemudian sampailah kami di tempat dimana glasier-glasier itu terbentung dan mengalir menuju danau ini. Beberapa kali terdengar gemuruh seperti ledakan berkali-kali, tak lama kemudian beberapa bagian dari dinding es di glasier itu retak dan terlepas dan jatuh ke laut. Masya Allah! Sebuah fenomena alam yang belum tentu kita bisa saksikan setiap saat.

Dan inilah salah satu foto glasier indah yang saya ingin bagikan untuk Anda semua para pembaca yang baik. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya. Insya Allah.

Ingat Saya dalam Doamu

“Assalaamualaikum..”

Kautsar Ilahi, tiba-tiba menyapa saya dengan salam selepas sholat sunnah 4 rakaat sebelum sholat Dzuhur di Masjid Nabawi. Pria berjanggut panjang ini berasal dari Pakistan. Bahasa Indonesianya sangat fasih.

5 bulan perjalanannya di Sumatera membuatnya berlatih bahasa Indonesia. Menjadi bagian dari tugasnya sebagai seorang guru, dia berkelana berbulan-bulan di beberapa daerah di Sumatera dari Batam sampai Dumai, bersilaturahim dari masjid satu ke masjid lainnya. Kautsar juga menceritakan hangatnya sambutan dan penerimaan masyarakat yang dia kunjungi. Mengesankan, katanya.

“Allahu akbar… Allahu akbar..”

Tak terasa pembicaraan kami terpotong iqamah.
Kami berdiri bersiap untuk sholat Dzuhur.

Selepas sholat, Kautsar melanjutkan pembicaraan. Dari asal-usul bahasa Arab yang mirip-mirip dari dataran Mesir sampai Hindi. Sampai kisahnya selama 30 hari lebih di dua kota suci Makkah dan Madinah untuk berumroh dan ziarah ke masjid Nabi. Oh ya, Kautsar bercerita, di negara Pakistan, berapa lamapun kita mengajukan cuti untuk berkunjung ke dua kota suci baik dalam rangkaian umroh maupum haji, pasti disetujui. Meskipun sampai berbulan-bulan lamanya. Dan.. Tetap digaji, lho.

Anyway, kembali ke pokok bahasan…

Kautsar menceritakan tentang tujuannya datang ke Madinah, bahwa ia ingin mempelajari kisah hidup Rasulullah. Sampai akhirnya ia menceritakan tentang wajib dan rukun umroh. Satu hal yang menarik dia ceritakan, bahwa banyaklah berdoa untuk orang lain ketika thawaf. Utamakan mendoakan orang lain.

Dan dia langsung mengakhiri pertemuan kami. Dia mendekatkan wajahnya, menjabat hangat tangan saya dan lirih dia sampaikan ,”Ingat saya dalam doamu…”

Kalimat itu menjadi kalimat perpisahan kami, cara dia mengucapkannya yang menjadi sebuah misteri buat saya…
Sampai saya temukan jawabannya dua hari kemudian di Makkah

Jawaban yang merubah total format doa saya…

Bersambung…

Hidupku Seperti Jalan Mampang Prapatan

Suatu Sabtu, Anda hanya punya waktu kurang dari 15 menit untuk sampai di kantor, atau denda Rp. 150,000,- menanti. Anda memacu mobil Anda secepat mungkin menyusuri jalan Buncit Raya sampai bertemu perempatan pertama di Duren Bangka. Lampu baru saja menyala merah. Gerutu muncul tak terelak, gundah menatap detik yang tak terhentikan.

 

Sudut Mampang Prapatan from http://wartakota.tribunnews.com/

Sudut Mampang Prapatan from http://wartakota.tribunnews.com/

Lampu menyala hijau, Anda menekan pedal gas dalam-dalam, gigi otomatis bergerak cepat ke atas. Melewati kantor imigrasi Jakarta Selatan, mata memandang lampu lalu-lintas duren tiga masih menyala hijau. Semakin mendekat. 3,2,1, lampu kembali merah. Ya ampun, ada apa ini? Sementara jam sudah menunjukkan pukul 8.37.

 

Tinggal 8 menit. Detik demi detik terasa menggemaskan terlihat di layar LED di samping lampu merah yang masih menyala.

Dan, akhirnya lampu hijau menyala!
Kembali Anda pacu mobil Anda melewati halte busway Duren Tiga. Masih ada 3 perempatan lagi. Dan sesuai sangkaan Anda, lampu setelah Balai Hermina kembali Anda temui sedang  menyala merah. Tapi tak lama sampai lampu hijau menyala kembali.

Ruas terakhir jalan Mampang Prapatan ini menjadi harapan terbesar Anda bisa mempercepat waktu Anda menuju kantor. Hijau, hijau, hijau, sampai dari kejauhan Anda melihat kincir angin raksasa di sebelah kiri jalan, lengkap dengan antrian mobil di depan Pasar Mampang. Yes! Lampu merah lagi!

Ya, Allah…

Ada apa ini, pikiran mulai berkelebat ke kejadian pagi hari. Andai saja tadi pagi buku Anda tak sempat tertinggal, andai saja tadi pagi Anda tak harus menyuapi anak Anda, dan andai andai lainya. Mungkin Anda akan berangkat lebih cepat dan tak harus mengalami rentetan lampu merah Mampang Prapatan ini.

Lamunan Anda terpecah oleh bunyi klakson mobil van putih tepat di belakang mobil Anda. “Sabar napa…”, gumam Anda. “Emang kamu aja yang buru-buru”, gerutu Anda sambil sesekali melirik ke spion kecil memandang ketus van putih itu sambil menekan pedal gas.

Etape terakhir,
Traffic light kuningan melengkapi perjalanan lampu merah saya. Sudah jam 8.45. Anda sudah pasrah membayangkan Rp. 150,000,- melayang sambil tetap berandai-andai. Andaikan kejadian tadi pagi berbeda. Tapi lamunan Anda terpecah, teringat mas ustadz dari pengajian tafsir Selasa kemarin bahwa pengandaian masa lalu adalah syirik kecil, tak meyakini takdir Tuhan yang bagian dari rukun iman.

Dan,
Pedal gas Anda kembali injak memasuki ruas jalan Rasuna Said menuju putaran di depan kantor. Kenyataannya Anda terlambat.  Dan tak ada satupun pengandaian yang bisa mengubah kenyataan ini.

Anda teringat pada sebuah poster dari sebuah pelatihan manajerial yang berbunyi :
“SITUATION IS THE BOSS, RESULT IS THE FINAL JUDGE, RESPONSE IS THE OPTION”

Response is the key

Response is the key

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

Alhamdulillah, Buku Pertama Saya

Buku Pertama Saya

Buku Pertama Saya

Apa yang ada di benak Anda ketika mengetahui sahabat dekat Anda bergabung menjadi seorang agen asuransi?  Beberapa sahabat Anda akan mendukung penuh namun beberapa yang lain mungkin akan berpikir sebaliknya. Continue reading

Kamu dalam Anakmu (inspired by a true story)

Tubuh Rina sedang terbaring lemah di kamar 103 Rumah Sakit Mitra Sejahtera. Roni hanya bisa memandangi istrinya yang sedang terbaring lemah itu. Tiga hari sudah Rina dirawat karena demam berdarah dan dokter merekomendasikan untuk menjalani pemulihan dengan rawat inap. Roni adalah seorang account executive di sebuah perusahaan pelayanan. Tugas utamanya berkaitan dengan pelayanan pelanggan berbasis perusahaan.

“Wakul ngglimpang, segane dadi sakratan, wakul ngglim….”

Picture from pedals4peanuts.com

Picture from pedals4peanuts.com

Continue reading

Hari Kedua di Negeri Magyar

 
“Are you (your restaurant) halal?”, tanya saya di sebuah kedai kebab

“Mmm.. No, we are not halal, I am so sorry, sir”

Ups, saya pikir semua kedai kebab itu halal, karena kebab identik dengan Turki. Pemuda penjaga kedai kebab ini minta maaf. Itu respon yang luar biasa buat saya. Respon yang sangat santun menurut saya untuk ukuran negara bule. Walaupun orang-orang Eropa Timur ini terkenal ‘dingin’. Well, saya akan ceritakan perjalanan saya menuju kedai kebab ini.

WP_20140426_032

HARI KEDUA DI NEGERI MAGYAR

Ini hari kedua di kami di kota Budapest, saya dan istri saya, Ferra, memang berencana berburu restoran halal dan menemukan masjid. Setelah bertanya Raden Mas Google, ketemulah lokasinya. Agak jauh memang, dan kami coba ingin ‘taklukkan’ dengan rute angkutan umum. Insya Allah.

Continue reading