Ketika Hasrat Belanja Berhenti Mengejar (Anak) Anda : Sebuah Eksperimen

“Gini aja. Ambil aja apa semua yang kamu suka, nanti balikin lagi…”

Wah, tiba-tiba aja Cacha nyeletukin ide brilian itu. Di kala ketiga anak lainnya sedang sangat emosional pengen beli “sesuatu” di toko mainan yang melambai-lambai di ujung waktu kepulangan kami dari Legoland Malaysia.

Bagaimana tidak, namanya juga anak-anak, setiap lihat toko ada aja yang pengen diminta kan? Ngaku aja, dulu situ juga gitu kali ya waktu kecil. Bisa-bisa sampai guling-gulingan di lantai minta mainan.

Dan, namanya juga emak-emak dan bokap-bokap. Kebanyakan juga suka nolak kalau ada anak-anak yang dikit-dikit minta dibeliin mainan. Ya, beda tipis lah antara pelit dan realistis. Hahaha.

Ok, balik ke idenya Cacha.

Kenapa good idea? Karena bertahun-tahun menemani ibu-ibu belanja. Dari toko-toko grosiran sampai factory outlet branded di luar negeri, saya menemukan bahwa sebagian dari para pembeli itu merasa senang ketika mengambil barang-barang dimaksud dari etalase toko.

OK. Lalu saya instruksikan keempat krucil itu untuk mengambil troli dan mengambil apapun yang mereka mau. Dengan gesit keempat anak itu berlarian di koridor-koridor toko mainan itu. Masing-masing dengan kerinduannya untuk memiliki barang yang mereka maui.

Kontestan Pertama
Kontestan Kedua
Kontestan Ketiga
Kontestan Keempat

Setelah semua kontestan ini “belanja” cukup banyak. Tak lama kemudian mereka saya kumpulkan untuk melihat barang-barang apa yang sudah mereka ambil. Ini dia fotonya.

Semua kontestan dengan hasil belanjaannya

Dan tibalah waktu penentuannya :

“Ok, sekarang kembalikan semuanya ke tempatnya. Dan ayah tunggu di luar toko. SEKARANG!”

Dan ternyata semua baik-baik saja tanpa belanja

Dan ternyata di situlah kepuasan belanja. Ketika bebas mengambil barang tanpa memikirkan biayanya, tanpa perlu dibawa pulang hahaha ^_^

“Ambil apa yang kau mau, bayar apa yang kau perlu”

SELAMAT MENCOBA!

Best Regards,

The World of Gusnul Pribadi

Advertisements

Antara Simpati, Empati & Toleransi

“Kamu sudah terlambat 5 menit, sebenarnya kamu sudah tidak boleh masuk. Tapi Pak Guru masih memberikan toleransi buatmu” 

Continue reading “Antara Simpati, Empati & Toleransi”

Iman yang Tak Terwaris

Self Collection
Seseorang berdoa di depan Multazam

Awal Mei 2017, saya membersamai perjalanan monumental seorang muallaf. Pemuda berusia awal 30-an yang berangkat bersama istri yang dinikahinya di akhir tahun 2016 pasca dia memeluk Islam. Sebut saja namanya Mas Boy.

Beberapa kali Mas Boy sempat mengurungkan niatnya mengikuti perjalanan ini.

“Kayaknya saya belum siap deh. Saya tidak tahu apa yang saya harus lakukan nanti di sana”

Raut wajah gundah terlihat.
Semacam pelajar yang mau menghadapi ujian negara. Namun istrinya selalu menguatkan niatnya untuk tetap ikut dalam perjalanan ini.

Ya, untuk seorang yang baru belum genap setahun memeluk Islam, perjalanan umroh pasti akan menyimpan kegalauan tersendiri. Jangankan Mas Boy, terkadang kami-kami yang sudah mengenal Islam sejak lahirpun sering galau. Kenapa rupanya?

Ya, galaunya terkadang muncul karena seseorang sering dibuat panik dengan bacaan doa yang perlu dibaca. Doa-doa itu tercetak di buku tebal, mungkin ratusan halaman, yang dianggap perlu dihafalkan atau dilafadzkan saat menjalani rangkaian ritual umroh. Dan itu juga yang sempat dirasakan Mas Boy.

ITU TSA MAS, BUKAN SA

Setelah melewati beberapa kali diskusi ringan, akhirnya Mas Boy membulatkan niatnya. Beberapa orang memberikan masukan pada Mas Boy untuk menghidupkan hati, karena selain fisik, hubungan kalbu dengan Rabb-nya di tanah yang suci ini menjadi peran penting dalam suksesnya perjalanan umroh.

“Hidupkan hatimu Mas. Rasakan apa yang kamu rasakan. Lihat yang kamu lihat. Dan dengar yang kamu dengar. Setiap hal yang kamu lihat, dengar dan rasakan di sana adalah hikmah”

Di Masjid Nabawi, setelah sholat subuh dan dzuhur di hari pertama kami menjejakkan hari di Madinah, saya merasa menjadi orang yang paling egois.

Saya lihat Mas Boy bingung apa yang harus dilakukannya setelah sholat. Sementara dia melihat ratusan orang sedang sibuk dalam bacaan Qur’an. Beberapa yang lain asyik berdiskusi tentang ilmu agama. Sementara ada juga yang menyengajakan dirinya mendengar kajian-kajian ilmu yang diadakan di sudut-sudut Masjid Nabi ini.

“Sudah bisa baca huruf Arab Mas?”, tanya saya.
“Nuke (istri Mas Boy – pen) sudah ajarkan beberapa, belum banyak”, jawabnya.
“Mau saya ajarkan?”, tawar saya.

Tanpa menunggu jawabannya, saya membuka buku catatan kecil di tas selempang hitam yang selalu saya bawa kemana-mana.

Saya robek beberapa halaman dan membagi setiap halaman menjadi 6 bagian. Pelan-pelan saya tuliskan huruf hijaiyah di robekan-robekan kertas berukuran 2 x 2 cm itu.

A. BA. TA. TSA. JA. HA. KHO…

Dan kami memulai rutinitas itu setiap selesai beberapa sholat fardhu sampai selama kami berada di Madinah.

“Ini ‘tsa’ mas, bukan ‘sa'”, kata saya sambil menjepitkan ujung lidah saya diantara geligi atas dan bawah sambil meniup ringan mendesiskan lafadz antara ‘ta’ dan ‘sa’.

Bukan hal mudah ternyata buat Mas Boy, namun semangatnya untuk mahir mengucapnya membuat saya terkesan. Tadinya saya khawatir dia malu kalau sampai harus diajari membaca huruf-huruf ini seperti anak SD. Tapi ternyata perkiraan saya salah total.

Huruf Hijaiyah tulisan Mas Boy


SEMANGAT MEMBARA

Di suatu saat, satu jam menjelang sholat Jumat, shaf-shaf terdepan masjid Nabawi ini sudah disesaki jamaah. Luar biasa memang semangat beribadah sahabat-sahabat dari seantero bumi ini.

Seperti biasa, saya berniat membuka robekan-robekan huruf yang sudah saya tuliskan untuk Mas Boy. Tapi kondisi yang sudah agak sesak membuat saya kesulitan. Akhirnya saya putuskan untuk membantu Mas Boy menulis.

Saya berikan contoh untuk diulang 9 kali. Mungkin persis seperti buku lembar siswa taman kanak-kanak ketika belajar alfabet. Sekaligus digabung dengan pelajaran tanda baca. Ya, setahu yang saya bisa, saya ajarkan. Sampai huruf ‘ain.

“… ‘a, ‘i, ‘u…”

Agak sulit Mas Boy melafadzkan huruf yang ini. da penekanan di pangkal tenggorokan untuk mengucapnya.

“..’a, ‘a, ‘a…”

Sampai seseorang di depan kami menengok pada kami. Mungkin dari Irak. Dia tersenyum pada kami dan membalikkan badannya. Dengan bahasa pengantar yang tidak kami pahami, dia dengan tulus membantu Mas Boy melafadzkan huruf ini.

 

BUKAN JAMINAN

Saya, yang merasa “mewarisi” Islam dari orang tua dan lingkungan saya, tidak berarti akan lebih baik, lebih pintar, lebih sholeh dibandingkan Mas Boy. Bahkan di beberapa hal, saya merasa Mas Boy saat itu lebih merasakan nikmatnya iman dibanding saya.   

Jadi ingat lagu Raihan….

Iman adalah mutiara
Yang menyakini Allah
Maha Esa Maha Kuasa

Tanpamu iman bagaimanalah
Merasa diri hamba padaNya
Tanpamu iman bagimanalah
Menjadi hamba Allah yang bertaqwa

Iman tak dapat diwarisi
Dari seorang ayah yang bertaqwa
Ia tak dapat dijual beli
Ia tiada di tepian pantai

Walau apapun caranya jua
Engkau mendaki gunung yang tinggi
Engkau merentas lautan api
Namun tak dapat jua dimiliki

Jika tidak kembali pada Allah

(By RAIHAN)

Banyak hal yang dia resapi dalam hidupnya dan dalam perjalanan singkat ini. Semangatnya luar biasa walau di hari kelima hidungnya mulai meler dan tubuhnya mulai demam, dia tetap sholat 5 waktu di Masjidil Haram. Bahkan sekali dia niatkan thawaf sunnah di pelataran Ka’bah di tengah terik matahari ba’da Dzuhur.

 Best Regards, 
The World of Gusnul Pribadi

Follow IG saya @gusnulpribadi
Follow IG komunitas saya @futureinc_id
Bergabung di channel http://t.me/gusnulpribadi

Unitlink dan Bawang Ketoprak

Tol Jakarta – Merak , 27 April 2018

Yang spesial dari komoditas yang satu ini bahwa hampir seluruh menu masakan indonesia menggunakan benda ini untuk membangkitkan rasa gurih ketika dipadu dengan garam.

Betul, dia adalah BAWANG.

Dan tahukah bahwa harga bawang ini sangat fluktuatif sampai-sampai ada laman khusus dari pemerintah untuk memantau harga bawang harian. Ya, HARIAN.

Silakan dicek di sini :

https://ews.kemendag.go.id/bawangmerah/DailyPriceBawang.aspx

Dan marilah kita simak kisah kedua warung ketoprak di bilangan Jakarta Selatan ini. Keduanya sama-sama ramai dan citarasanya yang mantap. Kata orang-orang, bawangnya berani!


WARUNG
HEMAT
Sesuai namanya, hemat di biaya. Itu aja.


WARUNG
TEPAT
Ada yang unik sama warung ini. Tiap pelanggannya punya semacam kartu member. Di harganya tercantum tambahan beberapa rupiah. Namanya “biaya kenikmatan”.

***

Suatu hari di tahun 2015

Harga bawang naik cukup signifikan. Hari-hari pertama Warung Hemat masih bertahan. Namun lama-lama mereka sudah tidak kuat menyajikan ketoprak dengan cita rasa dahsyatnya. Pelanggan mulai merasa tidak nyaman.

Pekan berikutnya, Warung Hemat berpikir bahwa mereka tida ingin lagi mengorbankan rasa. Dan konsekuensinya, mereka menaikkan harga ketoprak andalannya 20% dari harga normalnya. Kembali, beberapa pelanggan cemberut dibuatnya.

Serba salah..

Tapi mari kita tengok Warung Tepat. Pelanggannya tetap ramai seperti biasa. Membernya tetap menikmati hidangan favorit mereka dengan senyum. Ada apa?

Ternyata para member ini baru merasakan apa yang selama ini mereka ikhlaskan. Biaya kenyamanan ini yang tetap membuat cita rasa Ketopraknya terjaga.

Di saat harga bawang melonjak naik, biaya simpanan ini yang membuat para pelanggan ini tetap menikmati semaian bawang di dalam bumbu Ketoprak favorit mereka.

Bahkan saat pelanggan tidak punya uang buat makan, mereka boleh ambil “tabungannya” untuk tetap menikmati ketoprak nikmat seperti hari-hari biasanya.

***

Sahabat,
Tidak ada yang salah dalam keduanya.
Yang ada hanyalah konsekuensi atas pilihan.

Saat Warung Hemat tetap memaksakan diri untuk memberikan citarasa normal dengan harga normal dalam kondisi harga bawang yang sedang naik, maka secara teknis akan ada penurunan profit, operasional yang dipangkas : AC yang tak lagi dinyalakan, pegawai yang perlu dikurangi, sampai mungkin harus pindah ke tempat yang lebih kecil untuk mengurangi biaya sewa.

Kita sebagai pelanggan mungkin akan bilang ,”Ya itu kan risiko Anda buka warung Ketoprak”. ^_^

Dan kita lihat bagaimana Warung Tepat mencoba mengamankan kenyamanan pelanggannya. Mereka  menyimpankan uang pelanggannya untuk jaga-jaga kalau di masa depan harga cabe atau bawang naik, para pelanggan tetap mendapatkan kenyamaman seperti biasa dari harga dan cita rasa. Dan , uang kenyamanan itu tetaplah milik pelanggan. Warung Tepat hanya menyimpankannya….

***

Dan itulah kira-kira Unit Link.
Ini adalah program ASURANSI (syariah) yang berbasis investasi. BUKAN produk investasi.

Sebagian kecil dari premi yang dibayarkan disimpankan dalam bentuk unit investasi. Untuk apa? Untuk menjaga kenyamanan nasabahnya agar tetap dapat mendapatkan hak asuransi nya saat dibutuhkan.

• Saat kalau-kalau lupa bayar premi, maka biaya premi akan dibayarkan oleh cadangan unit investasi ini 

• Saat kalau-kalau gagal debet rekening yang dapat menyebabkan sebuah polis jadi nonaktif tanpa kita sadari, maka cadangan unit investasi ini yang mengamankan

• Saat kalau-kalau terjadi ketiadaan cashflow untuk membayar premi bulanan, maka biaya asuransi akan ditalangi oleh cadangan unit investasi ini sehingga polis tidak serta merta hangus

• Dan jika 3 hal di atas tidak harus terjadi, maka unit investasi cadangan yang tersimpan masih tetap menjadi milik nasabah.

Unit Link,
Justru penting untuk menjaga agar fungsi asuransinya dapat berjalan sesuai rencana sehingga keluarga kita tetap nyaman karenanya.

Yang terpenting, seseorang perlu menahami bagaimana produk fenomenal yang adil dan humanis ini bekerja agar dapat berfungai optimal.

Best Regards, 

The World of Gusnul Pribadi

Terpikat oleh Sang Pengusaha Muda

Dan kitapun harus #AlwaysLearn, belajar dari apapun, siapapun dan dimanapun. Dan kali ini seorang sosok muda bernama Rendy Saputra berhasil memikat hati saya.

Awalnya saya menonton klip YouTube beliau berjudul “Bisnis Kokoh, Bisnis Ayam Kampung”

Jadi, nampaknya saya akan meromendasikan Anda semua untuk berkunjung ke Sekolah Bisnis Dua Kodi Kartika atau #SBDKK , atau KLIK DISINI

 

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

Zaman Sudah Berubah

wp-1469486934605.jpg

Setiap kali melewati jalan-jalan tertentu di Jakarta ini, saya seringkali berucap pada istri saya,

Dulu ya, lewat jalan ini lancar banget, pulang kantor masih bisa jemput kamu dan pulang gak sampai 30 menit”

Istri sayapun tak mau kalah, dia juga tidak kalah membanggakan masa lalunya pada anak kami,

“Tahu gak nak, dulu setiap siang  bunda masih sempat lho pulang buat nyusuin kamu. Makan siang dan tidur sebentar. Dan balik ke kantor lagi”

Dan tiba-tiba saya sadar bahwa saya tidak lagi hidup di masa lalu, inilah Jakarta sekarang dimana WAKTU adalah barang mahal yang tidak bisa diputar kembali.

Continue reading “Zaman Sudah Berubah”