Kira-Kira Tuhan Gitu Gak ya?

Sudah berhari-hari ini wajah anakmu merengut, dia menginginkan mainan yang ada di toko. Sebuah mainan kereta api Chug Patrol lengkap dengan rel yang bisa disusun dalam berbagai versi. Kamu tidak serta merta mengabulkannya. Kamu selalu mengatakan ,

“Apakah kamu bener-bener pengen mainan itu, nak?”

Mainan Impian sang Anak

Mainan Impian sang Anak

Dan hari demi hari anakmu selalu dan selalu menyebut-nyebut mainan kereta itu. Semakin dia menyebutnya semakin kamu memikirkannya, apakah kamu mau membelikannya?

Continue reading

Kemaluan pada Sebuah Sabtu

“Semua-muanya kok bela-belain bisnis sampai-sampai sabtu-sabtu bulan puasa aja masih mikirin bisnis… “

Memang sih, aktivItas kami sebagai tenaga pemasar memang terfokus di hari Sabtu. Bukan apa-apa, karena memang sebagian dari kami masih bekerja, jadi ketika kami menyiapkan pelatihan pada hari kerja, mereka keberatan.

“Gitu-gitu amat sih tapi….”

Lha bagaimana ya, saya cuman nyontoh para guru, puasa-puasa tetep semangat ngajar dan cuman mikirin muridnya

Kadang saya mikirin tukang sapu yang puasa-puasa pikirannya cuman nyapu dan mikirin biar jalanan bersih demi kenyamanan orang lain.

Dan juga saya malu sama tukang becak yang dalam panas dahaganya tetap bekerja mengayuh pedal becaknya.

Semua berjuang untuk kebahagiaan orang lain. Malu saya kalau sampai saat ini saya cuma memikirkan kebahagiaa  saya sendiri.

Tak bolehkah saya tetap hadir di hari ini untuk sekedar berbagi sedikit ilmu dan inspirasi untuk orang lain yang ingin menafkahi keluarganya?

Semoga Allah senantiasa melindungi keluarga para pejuang kehidupan.

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

Tepian Laut Merah

True (Video) Story : Perjalanan Empat Benua

“Dulu waktu aku SD, aku sering membolak-balik atlas peta dunia dan berkata dalam hati bahwa suatu saat aku akan ke tempat-tempat ini”

Suatu kali istri saya bercerita pada saya tentang gumaman masa kecilnya itu. Entah apakah itu bisa dibilang menjadi impian atau visi. Sesuatu yang kita inginkan dalam alam bawah sadar dimana insya Allah, dengan izin Allah, kita akan dibawa ke sana.

Haadza min Fadhlillah,
Semoga video ini dapat menjadi inspirasi bahwa semua impian bisa menjadi kenyataan dengan izin Allah ketika kita bersungguh-sungguh memperjuangkannya. Selamat menyaksikan

See you in the fifth continent, Africa
insya Allah

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

Tokyo Live Story (End) : The Shinjuku Friday Rush

Jam menunjuk di angka 11, kami berada di koridor pertokoan menuju stasiun Shinjuku, stasiun tersibuk di Tokyo. Sebuah toko dasi di sebuah sudut jalan menuju pintu stasiun menghentikan sejenak langkah kami. Desain-desain sederhana dan menarik itu mampu membuat kami berhenti sejenak dan membeli beberapa buah dasi.

Setelah kami bertujuh menyelesaikan transaksi, ibu sang penjaga toko mengantar kami keluar dan membungkukkan badannya dalam-dalam sambil berkata,”Arigatou Gozaimasu”.  Bahkan setelah sekitar 30 meter kami berjalan meninggalkan dia, dia masih dalam kondisi membungkuk. Luar biasa bagaimana orang-orang ini dengan tulus berterima kasih.

Melenggang setelah belanja dasi

Melenggang setelah belanja dasi

Obrolan kami terpecah ketika teringat bahwa kami berniat untuk menunaikan sholat Jumat di Masjid Jami Tokyo. Tokyo Camii  , begitu umumnya orang menyebut masjid ini, berlokasi di dekat Stasiun Yoyogi-Uehara, kami perlu naik kareta jalur Odakyu dari Stasiun Shinjuku. Woow, stasiun Shinjuku ini jauh lebih luas dari yang kami bayangkan. Ternyata untuk mencari Odakyu Line butuh perjuangan. Tak ayal kami mulai panik karena jam sudah mendekati waktu Dzuhur. Ditambah lagi lokasi masjid ini agak di sedikit luar kota, jadi pasti waktu perjalanannya tidak sebentar.

Setelah bertanya sana-sini, akhirnya kami menemukan jalur Odakyu, setelah membeli tiket di vending machine, akhirnya kami berhasil masuk dalam kereta menuju Yoyogi-Uehara. Di kereta kami sudah mulai resah karena jam sudah menunjuk di angka 11.30, sekitar 10 menit sebelum adzan Dzuhur berkumandang.

Tepat pukul 11.40 kereta kami sampai di stasiun Yoyogi Uehara. Hal pertama yang kami lakukan adalah memeriksa surrounding map ‘peta lingkungan’ untuk memastikan lokasi masjid tersebut. Ternyata ada sahabat orang Indonesia yang sedang melihat peta tersebut. Nampaknya kami sama-sama mengalami disorientasi arah. Sampai seorang  wanita berkerudung berkebangsaan Nigeria menyapa kami ,

Do you want to go to the masjid? Follow me

Kami bengong sejenak seraya mengangguk. Dan segera kami ikuti wanita berperawakan tinggi besar itu. Dengan pakaian warna-warni khas Afrika, tidak sulit untuk melihat wanita itu walaupun dia sempat hilang dari pandangan kami di keramaian stasiun.

Jalan Menuju Tokyo Camii (Foto lokasi diambil setelah sholat Jumat)

Jalan Menuju Tokyo Camii (Foto lokasi diambil setelah sholat Jumat)

Tokyo Camii ternyata berjarak sekitar 500 meter dari stasiun. Sebenarnya bukan masalah jarak, tapi arah. Karena ternyata jalan tempat masjid ini berdiri ditumbuhi pohon yang sangat tinggi dan rimbun sehingga minaret ‘menara’ masjid yang tinggipun tidak terlihat dari kejauhan. Dengan agak tergopoh-gopoh kami menuju masjid. Hanya karena kami belum terbayang bagaimana suasana masjid dan kebiasaan-kebiasaannya.

“Tokyo Camii , dibangun tahun 1938 dan terpaksa diruntuhkan tahun 1986 karena masalah struktur bangunan yang telah rusak. Masjid ini baru dibangun kembali pada tahun 1998 dengan menggunakan arsitektur religius khas Turki Utsmani dan masjid ini akhirnya diresmikan kembali pada tahun 2000.”

Sesampai di masjid, dari sebuah sisi kami menemukan sebuah pintu. Wanita Nigeria itu mengajak para ibu-ibu untuk mengikutinya melalui sebuah tangga di samping masjid. Sementara para pria, masuk lewat pintu bawah. Sepi. Wah, nampaknya khutbah Jumat telah dimulai.

Sampai beberapa detik kemudian ada seorang pria berjalan santai di depan kami, dan ada beberapa pria lain mulai terlihat sedang duduk-duduk sambil minum. Lho, apakah sholatnya sudah selesai? Atau mereka tidak ikut sholat Jumat? Daripada bingung, saya datangi seseorang dan bertanya,

“Where is the Jum’ah Prayer?”
“Oh, upstairs. One hour. We wait for 40 persons”, jawabnya

One hour? 40 persons?
Ohh, kami langsung paham bahwa Sholat Jumat di sini baru dilakukan satu jam setelah adzan berkumandang. Kami baru ingat bahwa ini bukan di Jakarta, untuk mengumpulkan 40 orang kuota minimal penyelenggaraan sholat Jumat tentunya tidak semudah di Jakarta. Belum lagi lokasi masjid yang agak jauh dari pusat kota. Ternyata biasanya para karyawan yang bekerja di tengah kota mengambil waktu istirahat kerjanya untuk menunaikan sholat Jumat di Tokyo Camii ini. Jadi masjid ini menanti kehadiran mereka dan memberikan waktu satu jam untuk berkumpul.

WP_20150515_003

Suasana di dalam masjid

Sambil menanti, setelah mengambil air wudhu, kami mengetahui bahwa setelah sholat Jumat nanti ada pembagian makan siang gratis. Halal. Dan yang penting GRATIS hehehe. Masih sekitar 30 menit menjelang sholat Jumat, kami langsung naik ke masjid dan menyempatkan untuk membaca Al Quran. Satu demi satu para jamaah hadir memenuhi shaf di masjid ini. Dan tak lama kemudian sholat Jumat pun dimulai dan ini adalah sholat Jumat pertama yang saya ikuti dalam 3 bahasa : Jepang, Turki dan Inggris.

Dan seusai sholat, para jamaah langsung mengambil antrian untuk mengambil makan siang yang telah disediakan dan menyantapnya bersama-sama di aula pertemuan yang ada di lantai bagian bawah masjid. Alhamdulillaah.

 

MINTALAH MAKA KAU AKAN DIBERI

Setelah kejadian sholat di lapangan parkir di DisneySea, saya coba untuk ‘peruntungan’ lagi di 2 themepark lainnya di Jepang ini. Tokyo Disneyland dan Universal Studios Japan di Osaka. Hahaha, namanya juga tour bersama anak-anak, bisa ditebak itinerary perjalanannya gak jauh-jauh dari tempat bermain. Hanya saja, bulan Mei itu bulan yang siang harinya cukup panas di Tokyo dan Osaka. Jadi ya keringetan juga siang-siangnya.


SHOLAT

Jangan ragu untuk meminta tempat untuk menunaikan sholat di front office atau guest relations. Mereka akan dengan senang hati mencarikannya untuk kita. Ketika di Universal Studios, kami mendapatkan sebuah family room yang cukup nyaman dan luas. Dan ketika di Tokyo Disneyland, kami dipersilakan untuk sholat di VIP room di guest relation office.

Seusai Sholat di Family Room Universal Studios Japan

Seusai Sholat di Family Room Universal Studios Japan

MAKAN
Mencari makanan halal di Disneyland? Hmm, mungkin satu-satunya yang bisa kita temukan adalah sebuah restoran bernama Eastside Cafe yang menyediakan menu vegetarian namun relatif mahal. Jika Anda termasuk orang yang sangat consern dengan kehalalan makanan Anda, maka Anda boleh membawa masuk makanan yang Anda anggap halal masuk ke dalam Disneyland, tinggal bilang saja pada petugas penggeledah kalau ketahuan, Ingat, bahkan tak semua roti halal di Jepang. Keep extra careful.

KERETA
Di stasiun akan banyak kita temui brosur What to do in Tokyo. Tapi jika bingung, ingat saja bahwa tempat-tempat terkenal di Jepang kebanyakan sudah terhubung oleh rel kereta bernama JR-Yamanote Line. Yamanote Line sendiri adalah sebuah rel berputar tanpa ujung, jadi kita tak perlu khawatir nyasar, karena muternya di situ-situ juga (baca : keliling Tokyo)

Inilah Rute JR Yamanote Line

Inilah Rute JR Yamanote Line

Nah, jika ingin tahu ada apa saja di setiap stasiun di JR Yamanote Line ini, kita bisa akses http://www.japan-guide.com/e/e2370.html.

 

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

Tokyo Live Story : Rezeki Anak Sholeh

“Ano, sumimasen….Oinori sitai desukedo, basho wa arimasuka?”

“Permisi,… kalau mau sholat , apakah ada tempatnya?”, teman kami, Pak Sapta bertanya pada seorang petugas informasi yang, sebut saja namanya Keiko, yang berdiri tak jauh dari gedung wahana Tower of Terror di Tokyo Disney Sea. Beruntung Pak Sapta menjadi teman jalan kami selama di Jepang. Terutama, karena dia pernah beberapa tahun sekolah di Jepang, sehingga kemampuan percakapan bahasa Jepangnya lumayan terasah.

SHAF PARKIRAN

Cotto matte kudasai“, Keiko meminta kami menunggu sebentar sambil  meraih handy talkie-nya dan menanyakan sesuatu pada rekannya.

Forrow, shitte kudasai“, kata Keiko sambil mempersilakan kami untuk mengikutinya. Masih ingat kan di episode sebelumnya bahwa orang Jepang agak sulit untuk melafalkan huruf ‘L’ ? Anyway, Pak Sapta juga sudah menanyakan dimana kami bisa mengambil air wudhu. Sebelumnya Keiko juga sudah memberi tahu kami bahwa ruang serbaguna yang biasanya digunakan untuk aktivitas rupa-rupa (termasuk sholat) sedang digunakan.

Setelah selesai mengambil air wudhu, Keiko mengantarkan kami ke tempat sholat melalui pintu khusus karyawan di samping toilet yang berada persis di samping gedung Tower of Terror. Sebuah koridor kecil yang bersih membawa kami ke sebuah area aspal yang teduh dimana ada garis-garis diagonal mirip shaf.

“Wuih, hebat amat. Ini pasti sering dipakai untuk sholat Jumat nih!”
“Hush, ini bukan shaf untuk sholat. Ini marka jalan yang artinya tidak boleh berhenti atau menaruh apapun di area ini”

Saya keluarkan kompas mencari kira-kira arah timur sedikit bergeser ke tenggara. Dan ternyata arahnya sama dengan arah diagonal garis-garis yang dicat di atas aspal tersebut.

Peta Disney Sea dan Lokasi Wahana Tower of Terror

Peta Disney Sea dan Lokasi Wahana Tower of Terror

Inilah lokasi sholat kami. Lihat garis diagonalnya?

Inilah lokasi sholat kami. Lihat garis diagonalnya?

Kami hanya amazing ‘terpana’ kenapa arahnya kok sama dengan arah kiblat sehingga kami merasa shafnya sudah disiapkan untuk sholat. Dan akhirnya kami berlima melaksanakan sholat Dzuhur dan Ashar yang dijamak takdim dan di-qoshor. Alhamdulillah, tempatnya tenang dan teduh walaupun angin kerap bertiup kencang dari arah laut meniup sajadah tipis yang kami bawa. Maklum, sesuai namanya, Disney Sea ini memang dibangun persis di atas laut.

Setelah salam, kami menemui kembali Keiko yang berdiri menunggu selama kami melaksanakan sholat. Luar biasa orang Jepang ini, tidak hanya menunjukkan tempatnya, Keiko mengantar dan menunggui kami wudhu sampai selesai sholat. Dan kalau melihat raut mukanya, tak sedikitpun gerutu yang tergurat, ikhlas sekali dia melakukannya.

“Arigatou gozaimaaas…”, kata Keiko.

Lha ini lagi ditambah-tambah. Belum sempat kami berterima kasih, Keiko sudah membungkukkan badan  duluan menyampaikan terima kasih pada kami seraya menunjukkan arah kembali ke area permainan Tokyo Disneysea.

THE MAGIC OF HYPERDIA

Kami berencana untuk memisahkan diri dari rombongan tur saat kepulangan dari Disney Sea. Rombongan tur akan pulang jam 17.00 , sepertinya kalau pulang jam segitu kami belum dapat main apa-apa. Saya kirimkan pesan singkat pada tour leader kami bahwa kami ingin pulang sendiri naik kereta.

Tokyo Disney Resort, tempat dimana Tokyo Disneyland dan Disney Sea berada berada di daerah Urayasu di Prefektur Chiba di luar kota Tokyo. Ini adalah satu-satunya taman bermain Disney di seluruh dunia yang mengusung tema laut. Jadi kita takkan temukan Disney Sea selain yang ada di Jepang ini.

Hari mulai gelap, Indiana Jones menjadi wahana terakhir yang kami nikmati di Disney Sea sebelum kami berencana pulang ke hotel kami di area Asakasa di downtown Tokyo. Sebagaimana saya sudah ceritakan di mukadimah trilogi ini bahwa Jepang, khususnya kota Tokyo memiliki infrastruktur jaringan kereta yang sangat rumit dan jumlah stasiun yang sangat banyak. Rasa-rasanya kok orang lebih banyak hidup di dalam kereta daripada di jalan ya hehehe.

Banyak lokasi-lokasi di Tokyo sering dikaitkan dengan stasiun terdekat mana. Biasanya model-model manusia kereta ini malah sering nyasar kalau dilepas di jalanan biasa. Karena mereka hanya terbiasa dengan rutinitas rute kereta yang itu-itu saja setiap harinya. Sebagai tips untuk “menaklukkan” fasilitas kereta di Jepang ini, kita hanya perlu tahu mau berangkat dari stasiun mana menuju ke stasiun mana, berikutnya kita tinggal mengakses aplikasi paling canggih yang bisa memberikan saran rute kereta yang perlu kita naiki, lengkap dengan jam keberangkatan, jam ketibaan, durasi perjalanan sampai harga tiketnya. Yes, perkenalkan : http://www.Hyperdia.com

Nah, tentunya untuk mengakses Hyperdia kita perlu koneksi internet, yang paling sederhana, kita bisa gunakan paket roaming dari operator nasional kita masing-masing. Terkadang ini malah lebih murah daripada gaya-gayaan sewa mobile wifi segala. Selain itu, kita juga boleh membeli kartu SIM lokal Jepang. Kartu SIM ini biasanya khusus untuk paket data saja, harganya tergantung jumlah hari, dari 3 , 5, 7 hari atau lebih. Nah, tapi hati-hati juga, teman saya yang beli kartu ini sampai pulang kembali ke Jakarta belum pernah pakai koneksi datanya gara-gara gagal melakukan registrasi ke jaringan. Cape deh Ken, nemenin Barbie yang lagi pusing pala. Kalau kita termasuk orang yang galau data, daripada liburan kita tidak menyenangkan karena resah mikirin karena gak bisa narsis sosmed, mending langsung ambil paket roaming data internet dari operator nasional kita di Indonesia. Paket 5 hari paling 200 – 300 ribu saja.

Masukkan nama stasiun dan jam keberangkatan

Masukkan nama stasiun dan jam keberangkatan yang diinginkan

Bagaimana menggunakan Hyperdia?

Pertama, kita perlu tahu dimana stasiun awal dan stasiun tujuan yang terdekat. Stasiun terdekat dengan Tokyo Disney Resort adalah Maihama, dan stasiun yang terdekat dari hotel kami di Asakasa adalah Roppongi-Itchome.

Jangan lupa memasukkan rencana jam keberangkatan kita dari stasiun tersebut sehingga Hyperdia bisa memberikan jadwal perjalanan yang akurat karena adanya jam operasional yang dibatasi .

Setelah kita tekan tombol search, Hyperdia akan memberikan usulan rute yang bisa kita pilih. Mungkin kita akan memilih berdasarkan tarifnya atau mungkin berdasarkan durasi waktunya, contohnya seperti di bawah ini :

Hyperdia 2

Hasil pencarian Hyperdia untuk Rute Maihama – Roppongi-chome

Nah, sekarang perhatikan cara membacanya.

  • Dari Maihama naik kereta JR (ingat, JR ini kereta nasionalnya Jepang), jalurnya Musashino dan turunlah di stasiun Skin-Kiba dengan harga tiket 160 Yen.
  • Kemudian setelah turun di stasiun Shin-Kiba, kita perlu transit ke Tokyo Metro (ingat, Tokyo Metro adalah perusahaan swasta). Cari petunjuk menuju Stasiun Metro tersebut, dalam hal ini carilah stasiun Metro Jalur Yurakhucho, naiki kereta menuju stasiun Nagatacho.
  • Di stasiun Nagatacho, kita perlu transit lagi untuk pindah ke jalur Nanboku, naiki kereta menuju Roppongi-Itchome.

Di Hyperdia terlihat bahwa untuk tarif Tokyo Metro adalah 200 Yen dengan total waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan yaitu 36 menit,  tentunya ini tidak termasuk waktu perjalanan transfer antar jalur lho ya, apalagi waktu bingung dan nyasar. Total biaya yang diperlukan adalah 360 Yen, kalau kurs 1 Yen = Rp. 110,- , maka bisa dihitung sendiri ya biayanya. Ini jauuuuuhhh lebih murah dibanding naik taksi. Kalau kita masukkan di website perhitungan tarif taksi di Tokyo yaitu http://www.taxifarefinder.com akan muncul tarif 6,751 Yen, kalau dikalikan Rp. 110, hasilnya : Jreeeeeeng….. Rp. 750,000,-.

Nah, khusus buat yang memiliki JR pass, maka kita tidak perlu bayar di semua jalur JR alias Japan Railways. DI Hyperdia, untuk bisa menampilkan jalur JR saja maka kita bisa memilih pengaturan di Hyperdia seperti gambar di bawah ini :

Pengaturan Hyperdia untuk jalur khusus JR pass

Pengaturan Hyperdia untuk jalur khusus JR pass

Perhatikan bahwa ada isian Corp (perusahaan), silakan pilih Japa Railways saja. Jangan pilih walk kalau kita gak mau direkomendasikan jalan kami oleh Hyperdia. Dan terakhir, pengguna JR pass tidak bisa menggunakan Shinkansen tipe Nozomi, Mizuho dan Hayabusa.

 

REZEKI ANAK SHOLEH

“Sumimasen, gohan mada arimasuka?” , Pak Sapta bertanya pada sang pemilik restoran bernama FISH, apakah masih ada nasi yang tersedia. Sudah jam 9 malam ketika kami sampai di Stasiun Roppongi-Itchome, sebagian rumah makan sudah mulai tutup di Roppongi Ark Hills, sebuah pusat komersial yang dekat dengan hotel kami.

Arimasu yo..“, ada katanya.
Nan nin?” Sang pemilik rumah makan menanyakan untuk berapa orang.
Rokunin desu…“, Pak Sapta menjawab bahwa kami berenam.

Alhamdulillah, setelah seharian penuh menguji kekuatan kaki di Tokyo, rasa-rasanya ini hadiah paling luar biasa di tengah kerinduan kami yang membuncah terhadap : NASI.

Nasi, dalam bahasa Jepang sering disebut gohan (ご飯) , tapi kalau kita search kata ini di Google, maka yang muncul pertama kali adalah anak dari Goku, tokoh utama di serial manga Dragon Ball. Hmm, makanan dengan bahan dasar nasi memang banyak sekali ditemukan di Jepang. Tapi entah mengapa nasi yang kami dapatkan malam ini terasa begitu spesial. Mau tahu kenapa?

Ikura desuka?”, Pak Sapta bertanya berapakah harga nasinya.
Murio des…“, GRATIS katanya….
Ehh? Honto desuka?” , Yang beneeerr?

Pak Sapta mengonfirmasi lagi jawaban sang pemilik rumah makan, Sumpe lo Gratis??
Setelah ngobrol panjang, ternyata diketahui bahwa ada 3 orang mahasiswa yang kerja paruh waktu di restoran itu, maka dari itu nasi hari ini diberikan gratis buat kami. Apa kami ada tampang mahasiswa juga ya? Atau lebih tepatnya tampangnya memelas? Yaa, ini namanya rezeki anak sholeh, Alhamdulillaah. Malam ini kami makan nasi lengkap dengan teri kacang, dengan sedikit buraian mie seduh dalam gelas, dendeng balado dari Rawamangun serta suwiran daging cakalangsuper.com yang super pedas.

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

wpid-wp-1433259916097.jpeg

True Story : Memburu Sebuah Kebahagiaan

“Tahukah kamu, saya kena kanker karena saya terlalu perfeksionis”

Saya tertegun sesaat. Bu Ratih , bukan nama sebenarnya, memulai pembicaraannya. Mata Bu Ratih sesekali melirik ke atas seperti mencoba mengingat-ingat kejadian waktu itu. Saya masih penasaran, bagian mana dari ‘perfeksionis’ yang bisa membuat beliau mengambil kesimpulan bahwa itu adalah penyebab kanker di leher rahimnya?

Bu Ratih menegakkan posisi duduknya. Saya menaruh cangkir biru muda berisi teh di meja sambil melirik istri saya yang sedang memangku GG, putra bungsu kami yang sudah mulai mengantuk.

“Kenapa bisa begitu bu?”

“Ya, kamu tahu suami saya kan? Hidupnya dia dedikasikan untuk perusahaan. Bahkan anaknyapun tak pernah dia sentuh”

Tentunya Bu Ratih bukan ingin menyalahkan suaminya dalam hal ini. Sama sekali tidak. Saya bisa merasakannya. Pak Andri, suaminya, adalah seorang workaholic. Posisinya cukup tinggi di perusahaannya. Bu Ratih menceritakan bahwa suaminya seorang pekerja keras, yang Pak Andri tahu hanyalah bekerja dan bekerja. Dia tidak ingin mendengar anaknya menangis, dia tidak ingin tahu dimana mereka mau pindah rumah, dan dia pun sampai tidak ingin tahu bagaimana dan dimana anaknya akan sekolah. Semua urusan itu di tangan Bu Ratih. Bahkan pernah untuk mengurus kontainer untuk memindahkan motor sport Pak Andri dari rumah mereka dulu di Denpasar ke Jakartapun menjadi ‘urusan’ Bu Ratih.

Sebagai seorang istri yang menyandang sifat perfeksionis itu, tugas dari sang suamipun dikerjakannya dengan sangat rapi dan ikhlas. Ditambah lagi bahwa Bu Ratih juga seorang wanita pekerja di sebuah perusahaan BUMN yang cukup besar dengan posisi manajerial, walau tak setinggi suaminya. Dan di balik segala kesempurnaan itu tersemat sebuah kondisi yang secara tak sadar dia alami. Ya, stres.

Di sisi lain, keperfeksionisan Bu Ratih membuat dia merasa ingin membuat orang lain mengikuti cara yang dia mau. Ekpektasinya terlalu tinggi pada segala orang lain dan keadaan. Termasuk ekspektasinya pada suaminya sendiri.

“Harusnya dia gini dong”
“Harusnya si anu jangan gitu dong”

Bu Ratih melanjutkan ceritanya.
Dia mengingat banyak sekali keharusan waktu itu
Dia mengingat banyak sekali tuntutan dalam dirinya waktu itu

Singkat cerita, setelah dia menjalani kemoterapi dan pengangkatan rahim, kondisinya berangsur membaik. Dokter yang juga sahabatnya sendiri banyak bercerita tentang bagaimana Bu Ratih perlu untuk lebih mengendalikan tingkat stresnya. Bu Ratih sudah pernah berada dalam kondisi kepasrahan hidup yang tinggi. Wasiat-wasiat sudah sempat dia siapkan ketika itu. Nafas yang masih dia hela saat ini menurutnya adalah sebuah karunia dan kesempatan kedua yang diberikan Tuhan untuk bersikap dan merespon lebih baik.

“Bu, apakah ibu sudah pikirkan kembali keputusan ibu hari ini. Sudah sekian lama ibu rintis karir ibu di perusahaan besar ini. Rekan seangkatan ibu bahkan sudah ada yang menjabat di posisi puncak. Saya yakin sebentar lagi ibu akan juga berada di posisi itu.”

Bu Ratih diam sesaat, dia resapi perkataan atasan langsung yang mencoba menahan keputusannya untuk berhenti dari karir di perusahaan yang telah digelutinya lebih dari 20 tahun.

Pak…”, Bu Ratih berhenti sejenak, “… Saya yakin, untuk mencari pengganti saya di kantor ini, Bapak pasti bisa melakukannya. Banyak orang yang mau dan sanggup melakukan apa yang saya lakukan di perusahaan ini. Tapi, apakah Bapak bisa mencarikan pengganti posisi saya sebagai ibu bagi anak-anak saya?

Akhirnya Bu Ratih memutuskan untuk resign karena berpikir apa yang dia cari dalam hidup. Saat ini dia aktif di kegiatan-kegiatan sosial. Kegiatan yang dapat dijalankan secara fleksibel tanpa perlu terikat oleh banyak simpul keharusan.

Dia teringat kata sahabatnya bahwa sakitnya itu disebabkan oleh faktor pikiran dan stres. Mulai saat itu Bu Ratih memutuskan untuk relatif lebih EGP (emang gue pikirin), ya maksudnya bukan sampai pada level cuek bebek juga sih, melainkan dia berusaha untuk dapat menurunkan level harapannya pada orang lain dan keadaan.

Pertanyaannya…..
Apakah suaminya serta merta berubah?
Tidak! Tapi Bu Ratih sudah bisa memilih untuk lebih menerima sebuah kondisi apa adanya.

Sepanjang perjalanan pulang dari rumah Bu Ratih, saya berpandang-pandangan dengan istri saya sambil sesekali tersenyum dan meringis. Dia tahu pasti kalau saya punya sedikit sifat perfeksionis Bu Ratih. Gak bisa lihat sesuatu yang sedikit saja tidak pada tempatnya pasti sudah stres dan komentar. Dari masalah sandal di mushola kantor yang seringkali berantakan sampai masalah kamar anak-anak yang sering kali berantakan. Dan Bu Ratih memberi kami hadiah sebuah buku inspiratif yang memberikan pandangan baru tentang stress dan manajemen pengasuhan : Kesebelasan Generasi Halilintar yang bertandatangan Pak Halilintar sendiri.

image

Buku Pemberian Bu Ratih

“Aduuuh, mbok ya dirapikan to. Apa sih susahnya merapikan ini. Bla..bla..bla”

Hehe… gue banget sih. Dan pastinya, tulisan ini sama sekali tidak membebaskan Anda untuk ‘berantakan’ di depan saya, jangan coba-coba ya, melainkan ini sebuah nasehat untuk diri saya sendiri untuk lebih menerima sebuah kondisi dengan respon yang lebih baik dan proporsional.

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

Tokyo Live Story : Tidur dalam Lesatan Shinkansen

“Can you show me Hanasakaji-San?”, tanya saya
“Oh, forrow me¹ prease….”


Shibuya, 21 Mei 2015
Wow, saya tadinya hanya mengharapkan pria berjas hitam itu menunjukkan jalan seperti : “Ntar lo lurus, ketemu lampu merah kanan, ntar kalau ada pohon asem lo tanya lagi dah alamat ni ama yang punya warung”. Respon yang saya dapatkan jauh di atas harapan saya. Dia mengantarkan saya sampai depan pintu restoran Hanasakaji-San!

 

TIDUR DALAM LESATAN SHINKANSEN

Petugas loket Japan Railways (JR) di bandara Haneda memberikan 5 tiket reservasi Shinkansen Hikari dari stasiun Shinagawa menuju Kyoto. Kelima tiket itu dimasukkan dalam sampul kecil bergambar dua tipe Shinkansen generasi baru Jepang, Akita Shinkansen E6 dengan kode KOMACHI dan Tohoku Shinkansen E5 dengan kode HAYABUSA. Kedua Shinkansen ini digadang bisa melesat di atas rel magnet dengan kecepatan 300 km/jam. Hmm, tapi apa daya, Japan Rail Pass (JR Pass) yang saya sudah beli di Jakarta hanya boleh dipakai di tipe Shinkansen model lama seperti HIKARI , KODAMA dan SAKURA

JR pass, adalah salah satu fasilitas yang diberikan oleh Jepang khusus untuk para wisatawan. Pass ini hanya bisa dibeli di luar Jepang dan tentunya tidak berlaku buat orang Jepang sendiri. Namun, sebelum memutuskan untuk membeli kartu sakti mandraguna ini. Pastikan kita sudah tahu rencana perjalanan kita selama di Jepang, karena jangan-jangan malah lebih murah kalau kita membeli tiket-tiket kereta secara eceran.

Fasilitas ‘gratis’ JR pass yang pertama kali kami gunakan adalah Tokyo Monorail yang membawa kami dari Bandara Haneda ke Stasiun Shinagawa. Pass ini terbilang mahal kalau tidak dioptimalkan. Untuk JR pass seluruh Jepang, kita perlu merogoh 29,110 Yen (sekitar Rp. 3 juta) dan 14,550 Yen untuk anak-anak. Tapi, di semua stasiun JR kita tidak perlu lagi repot-repot lagi untuk membeli tiket eceran dan tinggal menunjukkan JR pass di petugas stasiun untuk masuk. Kalau kita sudah tahu rencana perjalanan kita selama di Jepang, kita bisa putuskan untuk membeli JR pass area yang kita perlukan saja.

Berbeda dengan negara-negara lain yang yang memiliki sistem transportasi massal berbasis kereta api, Jepang dilayani oleh tidak hanya satu perusahaan, selain JR  yang boleh dibilang adalah perusahaan nasionalnya, Jepang juga dilayani oleh perusahaan-perusahaan privat atau swasta. Nah, umumnya kalau Metro Subway di Tokyo itu dilayani perusahaan swasta, jadi JR pass yang saya miliki tidak berlaku di jalur Metro Subway. Umumnya kalau rel kereta JR itu ada di atas tanah macam commuter line di Jabotabek saja. Bukan itu saja, keretanya pun sama, lha wong kereta yang dipakai untuk commuter line itu adalah kereta JR hehehe.

Tepat jam 10:10 Shinkansen Hikari dengan nomor kereta 467 sampai di Stasiun Shinagawa. Kami buru-buru masuk karena kereta supercepat ini hanya berhenti sekitar 2 menit. Yang lebih luar biasa, sekali saya pernah merapat di stasiun tujuan akhir di Tokyo, ketika kami keluar dari rangkaian gerbong seorang “cleaning service” sudah siap berada di depan pintu dan membungkukkan badan sambil berterima kasih pada semua penumpang yang turun. Dan setelah semua penumpang turun, dengan sigap tim pembersihan sudah siap masuk untuk melakukan pembersihan. Saya melihat satu gerbong dikerjakan sekitar 3 orang, dari mengumpulkan sampah, membalik kursi ke arah sebaliknya, megganti semua alas kepala penumpang, mengelap semua meja, dan mengepel lantai. Sayang saya tidak sempat mendokumentasikannya, tapi saya menemukan videonya di YouTube untuk kita lihat bersama.

Ketika kami masuk seorang ibu berpakaian bisnis sedang sibuk menelepon di gerbong sambungan kereta. Rupanya belakangan saya ketahui bahwa di wilayah publik seperti kereta api, menerima telepon dengan suara keras atau membunyikan nada dering itu dilarang. Orang Jepang sangat menghargai daerah-daerah privasi, sebut saja suara bising, asap rokok dan sampah adalah tiga hal yang langka ditemui di Jepang. Dan satu hal yang menarik, di negara sebersih Jepang justru barang yang agak langka ditemui di tempat umum adalah tempat sampah. Dan misteri itu terjawab karena ternyata walaupu setiap penumpang membawa makanan dan minuman sendiri, mereka juga membawa kantong plastik untuk membawa sisa makanan mereka sendiri. Biasanya yang meninggalkan sisa bungkus makanan adalah para turis. Hihihi, jadi malu. Ngikut aaahhh….

Menanti Hikari Shinkansen di Shinagawa Station

Menanti Hikari Shinkansen di Shinagawa Station

Kami duduk di gerbong reservasi nomor 15 di kursi deretan 11 dan 12. Shinkansen biasanya memiliki gerbong-gerbong (mereka menyebutnya ‘car’) khusus reservasi, dan gerbong lain adalah gerbong ‘rebutan’. Untuk reservasi, ada biaya tambahan bagi mereka yang membeli tiket langsung. Namun, bagi pengguna JR pass, kita bisa reservasi tempat duduk tanpa perlu membayar biaya tambahan.

Kalau ingin lihat sensasi berada di dalam Shinkansen, saya sudah videokan untuk bisa kita nikmati bersama. Cekidot!

Dan yang ini saya videokan di stasiun Simbashi, bayangkan kalau sampai ketabrak kereta ini :

Perjalanan malam hampir 7 jam di pesawat ternyata membuat anak-anak lelah, Caca dan Lia tidak bisa menahan kantuk dan lelahnya dan tertidur di kereta berkecepatan 230 km / jam.

Jadwal Shinkansen

Tabel Keberangkatan Shinkansen di Setiap Stasiun

 

Kita perlu tahu dimana saja Shinkansen yang kita naiki ini berhenti, semakin banyak dia berhenti, maka semakin lama kita sampai di tujuan. Hikari tidak berhenti sebanyak Kodama, dan jika ingin cepat sampai, kita bisa pilih Shinkansen Nozomi (nah untuk yang terakhir ini dikecualikan di JR pass kami)

Saya lihat timetable Shinkansen Hikari 467 (kodenya H467) yang sudah saya cetak dari Jakarta, ternyata Stasiun Shin-Osaka hanya berselisih 11 menit setelah Kyoto. Tanggung. Jadi kami urung melakukan short trip di Kyoto dan memilih langsung ke Osaka. Kasihan lihat anak-anak yang sudah kelelahan karena perjalanan jauh mereka dari Jakarta semalam.

Sebagai informasi Kota Osaka memiliki Osaka Loop Line yang dioperasikan oleh JR. Jika kita pemilik JR Pass, maka Osaka Loop Line ini termasuk dalam fasilitas gratis untuk pemilik JR Pass. Namun, jika kita tidak memiliki JR Pass, maka ada alternatif lain untuk membeli pass transportasi harian di Osaka seperti Osaka Amazing Pass.

 

SENSASI AIRBNB

Ehh, saya belum cerita ya bahwa selama perjalanan di Jepang ini kami tidak tidur di hotel. AirBNB.com, sebuah website jaringan rental properti, menjadi pengalaman pertama kami. Sebelum berangkat kami sudah mencari tempat tinggal kami terlebih dahulu. AirBNB.com umumnya menawarkan apartemen pribadi yang disewakan, beberapa properti bisa saja rumah. Jika beruntung, kita bisa mendapatkan harga yang cukup murah untuk properti yang kita sewa. Namun, saya sarankan untuk ekstra hati-hati memilih host yang bisa dipercaya. Tapi, spesial untuk Jepang, nampaknya kita boleh cukup yakin pada integritas orang-orangnya.

Sebelum bersepakat, saya dan sang host akan berkorespondensi via email. Well, terus terang. Sampai kami pulang kembali di tanah air, kami belum pernah ketemu dengan pemilik apartemen yang kami sewa, karena kunci apartemennya hanya ditaruh begitu saja di kotak pos yang ada di lantai bawah apartemen. Kami hanya diberi petunjuk lewat email seperti yang bisa dilihat gambar di bawah ini

 

Di Osaka, kami menyewa apartemen milik seseorang bernama Ain Maida. Letaknya persis di depan stasiun JR-Namba jadi cukup memudahkan pergerakan kami . Sebuah apartemen kecil yang rapi lengkap dengan fasilitas perdapuran dan peralatan makan. Ini yang paling penting, karena kami akan membuka perbekalan kering kentang, teri kacang dan cakalang pesanan khusus dari CakalangSuper.com

Ini yang mungkin akan sulit dilakukan kalau kita tinggal di hotel bukan? Untung ada 7-Eleven persis di sebelah apartemen kami sehingga kami bisa membeli salad, tauge, telur dan yang penting : NASI.

Suasana Apartemen Kami di Osaka.

Suasana Apartemen Kami di Osaka.

Bersambung…

Best Regards,
The World of Gusnul Pribadi

 ¹forrow me prease
itu maksudnya adalah  follow me please (silakan ikuti saya), karena orang Jepang tidak bisa mengucapkan huruf L dengan baik